At 11:47 02/07/03 +0700, you wrote:
>Salam,
>Saya juga mempunyai pemahaman bahwa karma itu seperti utang-piutang. Bila
>utang dibayar maka lunas, bila piutang sudah dibayar juga lunas, dan akan
>timbul kembali utang-piutang yang baru.
===============================================
analise:
Mending anda merasa hutang terus... kagak pernah lunas :-(
Sebab kita tidak tau berapa besar Hutang Karma dikehidupan yang lalu.
Hutang baru secara horisontal bisa dibayar lunas saat ini. Tapi hutang baru
secara vertikal... nanti ngebayarnya dikehidupan y.a.d.



>Pertanyaannya adalah apa yang menjadi tolok ukur karma tersebut? Dengan kata
>lain, kapan karma baik itu muncul dan kapan karma buruk itu muncul?
=====================================
analise:
Bagi saya yg bodoh ini, Karma Baik 'pertama' kali muncul saat orang
dilahirkan kembali dengan baik. Begitu juga Karma Buruk muncul pertama kali
saat dilahirkan dalam keadaan tidak baik, cacat atau dalam keluarga yg
menderita.
Titik awal kelahiran inilah keunggulan dan kebenaran 'reinkarnasi' dari
keimanan-kepercayaan kita. 

Dalam "agama lain" yg tidak menganut kepercayaan reinkarnasi, sulit untuk
menjelaskan mengapa saya lahir sebagai saya, dan kamu lahir sebagai kamu.
Kenapa dulu saya gak milih lahir sebagai anak konglomerat :-)
Kenapa Tuhan milih2...., saya dan kamu kok tidak dilahirkan sebagai anak
konglomerat atau anak kere gelbel yg tidak bisa nulis di e-mail ini. 
Coba tanya pada Tuhan, apa alasannya siA dilahirkan sebagai anak Presiden,
kemudian siB kok dilahirkan yatim-piatu.
Kenapa Tuhan tidak melahirkan manusia secara 'adil' dan sama rata ?
Bukankah Tuhan itu adil menurut kitab suci...... nah lu, ... 



>Saya mempunyai jawaban atas pertanyaan ini (yang belum tentu benar) yang
>Saya dapat dari seorang teman, yaitu bahwa tolok ukurnya adalah apakah yang
>kita perbuat itu merugikan orang lain atau tidak. Kalau merugikan orang lain
>maka timbul karma buruk, dan kalau tidak merugikan orang lain maka tidak
>timbul karma buruk, sedangkan kalau kita melakukan perbuatan yang baik, yang
>menimbulkan manfaat bagi orang lain, maka yang timbul adalah karma baik. 
>Mohon petunjuk atas hal ini dari rekan-rekan.
=================================================
analise:
Sebenarnya tidak sesederhana begitu untuk mengenali KARMA. Karena Karma
adalah misteri dan Rahasia Semesta. 

Contohnya begini : [secara extrim]
Ada perbuatan 'membunuh', tapi tidak dianggap KARMA BURUK. Karena yang
membunuh itu melakukan 'pembayaran' dari kehidupan masa-lalu. Sebab yg
dibunuh itu hutang jiwa pada masa kehidupan lalu. 
Perbuatan 'membunuh' ini adalah 'pelunasan'. Bukan merupakan Karma-Buruk
untuk membunuhnya tersebut.... tapi, ada tapinya.... :-(

Tapi akibat 'pelunasan' itu yg membunuh membuat SEBAB baru (hutang karma).
Misalnya menjadikan orang lain janda, menjadikan anak kehilangan ayah.
Nah ini hutang baru yg harus dibayar oleh si pembunuh itu dikehidupan y.a.d.

Menurut ajaran Tao, janganlah kita membunuh pada kehidupan saat ini (kasih). 
Biarpun kita punya HAK KARMA untuk membunuh. TANPA MELAKUKAN balas
(membunuh) tersebut, sebenarnya kita TELAH MELAKUKAN dua kali kebajikan. 

Pertama, kita tidak membuat janda baru ... hehehe siapa suka janda :-(  

Kedua kita masih punya piutang jiwa yang belum ketagih dikehidupan saat ini.
Dalam kehidupan y.a.d. kalau kita dilahirkan sebagai wanita, maka
kemungkinan jadi janda sudah terhapuskan, dan siapa tau justru pada saat
itu sebagai wanita jiwa kita terancam dan ditolong oleh orang yg seharusnya
kita habisi dikehidupannya dimasa yang lalu.

Petunjuk selanjutnya tidak berani..., mungkin banyak suheng/suci disini yg
lebih ahli. Sebab menurut Lau Tze, makin saya ngomong makin salah omongannya.



>Pertanyaan lainnya adalah apakah benar bahwa karma buruk itu tidak bisa
>diubah? Kalau menurut Saya, karma buruk itu bisa diubah, yang diubah adalah
>besarnya 'akibat' karma buruk tersebut, yaitu dengan cara dikurangi, yang
>mengurangi adalah karma baik. Contohnya : Si A terkena musibah kecelakaan
>(karma buruk), tapi dalam kecelakaan tersebut ia hanya luka-luka ringan
>('akibat' karma buruk yang dikurangi 'akibat' karma baik), mungkin kalau
>tanpa karma baiknya luka-lukanya tidak ringan ('akibat' karma buruk yang
>besar).
===========================================
analise:
Menurut Lau Tze maupun Buddha Gautama... SEBAB-AKIBAT itu adil. 

Lahir, tumbuh/tua, sakit/cacat, menderita, dan mati, adalah SIKLUS
sebab-akibat Vertikal yg tak terhindarkan. Inilah contoh karma melalui
sebab-akibat yg paling gamblang bisa dideteksi manusia. Dalam keadaan ini
manusia tidak bisa milih dan menghindar, juga tidak bisa ditawar. Kata
orang kristiani, manusia diberi hak milih oleh Tuhan, juga tidak percaya
takdir. Tapi gimana kita milih supaya tidak lahir cacat?... :-)

Contoh KECELAKAAN harus dilihat dulu. Apakah kecelakaan itu akibat dari
sebab horisontal ? mis. Ngebut, mabuk !

Gimana kalau tidur dirumah keseruduk truk nyasar ? Dan mati kegencet.
Bagaimana memperhitungkan KARMAnya.... silahkan mikir :-)

Sekali lagi KARMA adalah MISTERI SEMESTA yang tidak terukur/tidak terbatas.
Otak manusia itu terbatas. Logis saja yg terbatas tidak akan bisa mengukur
atau menghitung yang tidak terbatas.

Kitapun sulit mengukur, apakah ini Karma-Vertikal (takdir) atau
Karma-Horisontal (nasib) - katanya nasib ditangan manusia ????

Sayapun sulit untuk memilah-milah mana takdir mana nasib... siapa yg bisa
memberi pencerahan ?



>Sekian dulu, sekali lagi mohon petunjuk, maaf kalau ada yang salah.
>Salam,
>To
===============
Salam juga,
analise.



---------------------------------------------------------------------
Jangan Lewatkan!

SiuTao.com - http://www.siutao.com
Jelajahi Tao dengan Suka Cita

Kelenteng.com - http://www.kelenteng.com
Jalankan Kebajikan dengan Penuh Kesadaran

---------------------------------------------------------------------
Milis Kelenteng - Quan Shui
URL: http://lists.quanshui.org
Posting, email: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

Kirim email ke