Kamari teh aya urang ui nu nanyakeun referensi sejarah Tasik. Saha nya, poho deui Tah aya geuning di perpustakaan ui: ======== UI - Disertasi S3 No. Panggil : D 00071 Judul : Sejarah Sukapura: sebuah telaah filologis Pengarang : Emuch Hermansoemantri Promotor : Promotor: Prof. Dr. Haryati Soebadio Penerbitan : FIB-UI Program Studi : Sejarah Tahun : 1979 Subjek : Indonesia--Literatures Kata kunci : philology; language Lokasi : Lantai 4 Abstract English : ===========
2010/7/27 Waluya <[email protected]> > > > Kang Tirta kaleresan kuring medakan artikel ti koran Radartasikmalaya, > nyanggakeun, bari rada gogodeg, kumaha sajarah nu saleresna mah ukur kakara > 200 taun katukang, geus pabaliut kieu, komo nu leuwih kahot: > > > http://www.radartasikmalaya.com/index.php?option=com_content&view=article&id=3123:tinjauan-kritis-sejarah-kota-tasik&catid=58:football&Itemid=302 > > Tinjauan Kritis Sejarah Kota Tasik > > SENIN, 17 MEI 2010 01:30 > Oleh: Miftahul Falah M Hum > Penulis, bekerja di Program Studi Ilmu > Sejarah, Fakultas Sastra, Universitas Padjadjaran > > SAAT ini, kata "Tasikmalaya" dipergunakan untuk dua nama hirarki > pemerintahan daerah. Pertama, Kabupaten Tasikmalaya yaitu daerah otonom yang > dipimpin oleh seorang bupati dengan luas wilayah sekitar 2.508,91 km2. > Sebelum bernama Tasikmalaya, kabupaten ini bernama Sukapura yang didirikan > oleh Sultan Agung dari Mataram pada 9 Muharam Tahun Alif, bersama-sama > dengan Kabupaten Bandung dan Kabupaten Parakanmuncang (van der Chjis, 1880: > 80-81). Ada yang menafsirkan bahwa penanggalan itu sama dengan tanggal 16 > Juli 1633 (Galamedia, 20 Februari 2007) dan ada juga yang mengatakan identik > dengan 20 April 1641 (de Haan,1912: 59). Kedua, Kota Tasikmalaya yakni > daerah otonom yang dipimpin oleh seorang wali kota dengan luasnya sekitar > 177,79 km2 yang dikukuhkan pada 17 Oktober 2001. Berdasarkan Undang-Undang > Nomor 10 Tahun 2001, wilayah Kota Tasikmalaya meliputi tiga kecamatan bekas > Kota Administratif Tasikmalaya, yaitu: Cihideung, Tawang, dan Cipedes; serta > lima kecamatan yang diambil dari Kabupaten Tasikmalaya, yaitu: Indihiang, > Mangkubumi, Kawalu, dan Cibeureum (Indonesia, 2001; Marlina, 2007: 98). > Berdasarkan sensus tahun 2000, Kota Tasikmalaya berpenduduk sekitar 528.216 > jiwa sehingga kepadatannya mencapai 2.971 jiwa/km. Kepadatan penduduk di > pusat Kota Tasikmalaya (Cihideung, Tawang, dan Cipedes) mencapai lebih dari > 7.800 jiwa/km (Santoso [ed.], 2004: 333). > > Pemerintahan Kota Tasikmalaya memang masih begitu muda. Akan tetapi, > keberadaan Kota Tasikmalaya sudah dikenal jauh sebelum pemerintahan kota > tersebut dibentuk. Seiring dengan itu, lahirlah beberapa masalah > kesejarahan, antara lain betulkah Tasikmalaya baru dipergunakan sebagai nama > wilayah atau pemerintahan setelah Gunung Galunggung meletus tahun 1822? > Apakah Kota Tasikmalaya dulunya bernama Distrik Tawang? Apakah sejarah Kota > Tasikmalaya identik dengan sejarah Kabupaten Sukapura? > > Tasikmalaya: Tinjauan Etimologis > > Pada 8 dan 12 Oktober 1822, Gunung Gulunggung meletus. Letusan tersebut > mengakibatkan 114 desa lenyap dan memakan korban manusia 4.011 jiwa, 958 > hewan ternak mati, dan menghancurkan 775.795 tanaman kopi (Aardrijkskundig > en Statistisch Woordenboek van Nederlandsch Indie, Bewerkt Naar de Jongste > en Beste Berigten. 1861: 330; Furuya, 1978: 591-592). Akibat letusan > tersebut, daerah sebelah Tenggara Gunung Galunggung tertutu oleh pasir > sehingga seakan-akan wilayah tersebut menjadi lautan pasir. Dari fenomena > inilah kemudian lahir nama Tasikmalaya. Selain itu, di wilayah tersebut juga > bermunculan bukit-bukit meskipun sebagian sudah tersebut sebelum letusan > Gunung Galunggung 1822. Keberadaan bukit yang jumlahnya sekitar 3.648 buah > tersebut memperkuat ciri khas geogafis daerah di sebelah Tenggara Gunung > Galunggung sehingga wilayah tersebut dinamai Tasikmalaya (Furuya, 1978: > 591-592; Permadi, 1975: 3; Zen, 1968: 62). > > Beberapa ahli mengatakan bahwa nama Tasikmalaya dipergunakan terkait dengan > letusan Gunung Galunggung 1822. Bahkan ada juga yang menegaskan bahwa nama > tersebut baru dipakai pada 1832 (Ekadjati et al., 1975: 5; Marlina, 2007: > 36). Sampai tahun 1816, tidak ada wilayah atau pemerintahan yang bernama > Tasikmalaya (de la Faille, 1895: 53). Ketika Raflles (1811-1816) > memperkenalkan sistem distrik dalam pemerintahannya, tidak ditemukan nama > Distrik Tasikmalaya. Berkaitan dengan itu, terdapat Distrik Cicariang yang > terletak antara Distrik Singaparna dan Distrik Indihiang. Tahun 1820, dalam > administrasi pemerintahan Hindia Belanda terdapat sebuah distrik bernama > Tasjikmalaija op Tjitjariang dengan wilayah 37 pal (Statistiek van Java. > 1820). Pada akhir tahun 1830-an, nama distrik tersebut berubah menjadi > Distrikt Tasjikmalaija yang mencakup sekitar 79 desa (Algemeen Instructie > van Alle Inlandsche Hoofden en Beambten…1839). Berdasarkan sumber primer > tersebut, jelas bahwa nama Tasikmalaya mulai dipergunakan sebelum letusan > Gunung Galunggung 1822, ya setidak-tidaknya antara tahun 1816-1820. > > Distrik Cicariang menjadi Distrik Tasikmalaya > > Sebelum bernama Tasikmalaya, wilayah ini dulunya bernama Distrik Tawang > yang memiliki makna sebagai tempat panyawangan anu plungplong ka ditu ka > dieu (Ekadjati et al., 1975: 3; Musch, 1918: 202; Permadi, 1975: 3). Ketika > pusat pemerintahan Kabupaten Sukapura berkedudukan di Manonjaya (1839-1901), > Distrik Tawang merupakan salah satu distrik di wilayah Kabupaten Sumedang > (Marlina, 1972: 6; Sastrahadiprawira, 1953: 182). Jadi, berdasarkan uraian > tersebut Kota Tasikmalaya sekarang merupakan perubahan nama dari Distrik > Tawang. > > Jelas pendapat tersebut tidak bisa diterima karena dari sumber primer > (arsip kolonial) Distrik Tawang tidak pernah dikenal sebagai bagian dari > Kabupaten Sukapura. Di Kabupaten Sumedang pun tidak ada nama Distrik Tawang, > tetapi ada distrik yang bernama Cicariang (Hardjasaputra, 1989). Distrik > Cicariang inilah yang menjadi cikal-bakal wilayah Kota Tasikmalaya sekarang > sebagaimana tertera dalam Statistiek van Java 1820. > > Kota Tasik Tidak Identik dengan Kabupaten Sukapura > > Dalam tulisannya yang berjudul Sukapura (Tasikmalaya), Ietje Marlina (2000: > 91-110) memandang Kota Tasikmalaya sebagai bagian dari pertumbuhan Kabupaten > Sukapura. Pendapat ini kemudian menjadi opini umum seperti yang terlihat > dari beberapa tulisan mengenai Kota Tasikmalaya (Adeng, 2005; Roswandi, > 2006). Hasil penelitian yang dilakukan penulis, menunjukkan bahwa sebelum > menjadi ibu kota Kabupaten Sukapura tahun 1901, sejarah Kota Tasikmalaya > memiliki keterkaitan yang erat dengan Sejarah Kabupaten Sumedang. Oleh > karena itu, anggapan umum yang menjadikan pembentukan Kabupaten Sukapura > oleh Sultan Mataram sebagai titik tolah Sejarah Kota Tasikmalaya bersifat > ahistoris atau tidak sesuai dengan fakta sejarah. Pada periode ini, Kota > Tasikmalaya merupakan pusat pemerintahan Afdeeling Galoeengoeng op Zuid > Soemedang yang terdiri dari Distrik Tasikmalaya, Singaparna, Indihiang, > Ciawi, dan Malangbong (Statistiek der Preanger Regents-chappen. 1863; Veth, > 18693: 906) > > Keterkaitan antara Sejarah Kota Tasikmalaya dan Kabupaten Sukapura terjadi > sejak tahun 1901 ketika Pemerintah Hindia Belanda memerintahkan Bupati > Sukapura, Raden Tumenggung Prawira Hadiningrat untuk memindahkan ibu kota > Kabupaten Sukapura dari Manonjaya ke Kota Tasikmalaya. Keeratan hubungan > tersebut ditandai pula dengan perubahan nama kabupaten dari Sukapura menjadi > Tasikmalaya tahun 1913 (Staatsblad van Nederlandsch-Indië voor het Jaar > 1913. No. 356). Selain menjadi pusat pemerintahan kabupaten, Kota > Tasikmalaya pun menjadi pusat pemerintahan afdeeling dan distrik > Tasikmalaya. Pada 1921, Distrik Tasikmalaya terdiri dari tiga onderdistrik, > yaitu Tasikmalaya, Kawalu, dan Indihiang dengan jumlah desa sekitar 46 buah > dan luas sekitar 178 km2 (ENI, 19214: 285; Regeeringsalmanak voor NI, 19191: > 394). Dirgahayu Kota Tasikmalaya. > > >
