Nuhun Bah Willy, halah siah ieu teh kumaha kalahkah beuki pakojot heu 
heu....Kumaha teu pakojot atuh penulis nu MHum bae salah nyerat Bupati 
Sukapura, 
Raden Tumenggung Prawira Hadiningrat nu leres mah Raden Adipati Tumenggung 
Wiratanuningrat.

Ku kituna atuh jadi lumpat kana patarosan nu dadasar, naon atuh nya gunana 
ngulibek jungkir balik ngabetekeun sajarah kota? Da geuning nangtukeun hari 
jadi 
kota matak jadi pahibut, ngaran kota jadi pahibut malah distrik bae jadi 
ngalieurkeun. Sok geura ke tiap kota di tatar sunda dikulibek kawas kieu, terus 
rek naon urang kapayuna nya?

baktos,
tirta
~ experientia docet sapientiam ~ 




________________________________
From: Waluya <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Tuesday, July 27, 2010 8:20:17
Subject: [kisunda] Fw: Tinjauan Kritis Sejarah Kota Tasik --> Re: Tawang

  
Kang Tirta kaleresan kuring medakan artikel ti koran Radartasikmalaya, 
nyanggakeun, bari rada gogodeg, kumaha sajarah nu saleresna mah ukur kakara 200 
taun katukang, geus pabaliut kieu, komo nu leuwih kahot:

http://www.radartasikmalaya.com/index.php?option=com_content&view=article&id=3123:tinjauan-kritis-sejarah-kota-tasik&catid=58:football&Itemid=302


Tinjauan Kritis Sejarah Kota Tasik

SENIN, 17 MEI 2010 01:30 
Oleh: Miftahul Falah M Hum
Penulis, bekerja di Program Studi Ilmu
Sejarah, Fakultas Sastra, Universitas Padjadjaran

SAAT ini, kata "Tasikmalaya" dipergunakan untuk dua nama hirarki pemerintahan 
daerah. Pertama, Kabupaten Tasikmalaya yaitu daerah otonom yang dipimpin oleh 
seorang bupati dengan luas wilayah sekitar 2.508,91 km2. Sebelum bernama 
Tasikmalaya, kabupaten ini bernama Sukapura yang didirikan oleh Sultan Agung 
dari Mataram pada 9 Muharam Tahun Alif, bersama-sama dengan Kabupaten Bandung 
dan Kabupaten Parakanmuncang (van der Chjis, 1880: 80-81). Ada yang menafsirkan 
bahwa penanggalan itu sama dengan tanggal 16 Juli 1633 (Galamedia, 20 Februari 
2007) dan ada juga yang mengatakan identik dengan 20 April 1641 (de Haan,1912: 
59). Kedua, Kota Tasikmalaya yakni daerah otonom yang dipimpin oleh seorang 
wali 
kota dengan luasnya sekitar 177,79 km2 yang dikukuhkan pada 17 Oktober 2001. 
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2001, wilayah Kota Tasikmalaya 
meliputi 
tiga kecamatan bekas Kota Administratif Tasikmalaya, yaitu: Cihideung, Tawang, 
dan Cipedes; serta lima kecamatan yang diambil dari Kabupaten Tasikmalaya, 
yaitu: Indihiang, Mangkubumi, Kawalu, dan Cibeureum (Indonesia, 2001; Marlina, 
2007: 98). Berdasarkan sensus tahun 2000, Kota Tasikmalaya berpenduduk sekitar 
528.216 jiwa sehingga kepadatannya mencapai 2.971 jiwa/km. Kepadatan penduduk 
di 
pusat Kota Tasikmalaya (Cihideung, Tawang, dan Cipedes) mencapai lebih dari 
7.800 jiwa/km (Santoso [ed.], 2004: 333).

Pemerintahan Kota Tasikmalaya memang masih begitu muda. Akan tetapi, keberadaan 
Kota Tasikmalaya sudah dikenal jauh sebelum pemerintahan kota tersebut 
dibentuk. 
Seiring dengan itu, lahirlah beberapa masalah kesejarahan, antara lain betulkah 
Tasikmalaya baru dipergunakan sebagai nama wilayah atau pemerintahan setelah 
Gunung Galunggung meletus tahun 1822? Apakah Kota Tasikmalaya dulunya bernama 
Distrik Tawang? Apakah sejarah Kota Tasikmalaya identik dengan sejarah 
Kabupaten 
Sukapura?

Tasikmalaya: Tinjauan Etimologis

Pada 8 dan 12 Oktober 1822, Gunung Gulunggung meletus. Letusan tersebut 
mengakibatkan 114 desa lenyap dan memakan korban manusia 4.011 jiwa, 958 hewan 
ternak mati, dan menghancurkan 775.795 tanaman kopi (Aardrijkskundig en 
Statistisch Woordenboek van Nederlandsch Indie, Bewerkt Naar de Jongste en 
Beste 
Berigten. 1861: 330; Furuya, 1978: 591-592). Akibat letusan tersebut, daerah 
sebelah Tenggara Gunung Galunggung tertutu oleh pasir sehingga seakan-akan 
wilayah tersebut menjadi lautan pasir. Dari fenomena inilah kemudian lahir nama 
Tasikmalaya. Selain itu, di wilayah tersebut juga bermunculan bukit-bukit 
meskipun sebagian sudah tersebut sebelum letusan Gunung Galunggung 1822. 
Keberadaan bukit yang jumlahnya sekitar 3.648 buah tersebut memperkuat ciri 
khas 
geogafis daerah di sebelah Tenggara Gunung Galunggung sehingga wilayah tersebut 
dinamai Tasikmalaya (Furuya, 1978: 591-592; Permadi, 1975: 3; Zen, 1968: 62).

Beberapa ahli mengatakan bahwa nama Tasikmalaya dipergunakan terkait dengan 
letusan Gunung Galunggung 1822. Bahkan ada juga yang menegaskan bahwa nama 
tersebut baru dipakai pada 1832 (Ekadjati et al., 1975: 5; Marlina, 2007: 36). 
Sampai tahun 1816, tidak ada wilayah atau pemerintahan yang bernama Tasikmalaya 
(de la Faille, 1895: 53). Ketika Raflles (1811-1816) memperkenalkan sistem 
distrik dalam pemerintahannya, tidak ditemukan nama Distrik Tasikmalaya. 
Berkaitan dengan itu, terdapat Distrik Cicariang yang terletak antara Distrik 
Singaparna dan Distrik Indihiang. Tahun 1820, dalam administrasi pemerintahan 
Hindia Belanda terdapat sebuah distrik bernama Tasjikmalaija op Tjitjariang 
dengan wilayah 37 pal (Statistiek van Java. 1820). Pada akhir tahun 1830-an, 
nama distrik tersebut berubah menjadi Distrikt Tasjikmalaija yang mencakup 
sekitar 79 desa (Algemeen Instructie van Alle Inlandsche Hoofden en 
Beambten…1839). Berdasarkan sumber primer tersebut, jelas bahwa nama 
Tasikmalaya 
mulai dipergunakan sebelum letusan Gunung Galunggung 1822, ya setidak-tidaknya 
antara tahun 1816-1820.

Distrik Cicariang menjadi Distrik Tasikmalaya

Sebelum bernama Tasikmalaya, wilayah ini dulunya bernama Distrik Tawang yang 
memiliki makna sebagai tempat panyawangan anu plungplong ka ditu ka dieu 
(Ekadjati et al., 1975: 3; Musch, 1918: 202; Permadi, 1975: 3). Ketika pusat 
pemerintahan Kabupaten Sukapura berkedudukan di Manonjaya (1839-1901), Distrik 
Tawang merupakan salah satu distrik di wilayah Kabupaten Sumedang (Marlina, 
1972: 6; Sastrahadiprawira, 1953: 182). Jadi, berdasarkan uraian tersebut Kota 
Tasikmalaya sekarang merupakan perubahan nama dari Distrik Tawang.

Jelas pendapat tersebut tidak bisa diterima karena dari sumber primer (arsip 
kolonial) Distrik Tawang tidak pernah dikenal sebagai bagian dari Kabupaten 
Sukapura. Di Kabupaten Sumedang pun tidak ada nama Distrik Tawang, tetapi ada 
distrik yang bernama Cicariang (Hardjasaputra, 1989). Distrik Cicariang inilah 
yang menjadi cikal-bakal wilayah Kota Tasikmalaya sekarang sebagaimana tertera 
dalam Statistiek van Java 1820.

Kota Tasik Tidak Identik dengan Kabupaten Sukapura

Dalam tulisannya yang berjudul Sukapura (Tasikmalaya), Ietje Marlina (2000: 
91-110) memandang Kota Tasikmalaya sebagai bagian dari pertumbuhan Kabupaten 
Sukapura. Pendapat ini kemudian menjadi opini umum seperti yang terlihat dari 
beberapa tulisan mengenai Kota Tasikmalaya (Adeng, 2005; Roswandi, 2006). Hasil 
penelitian yang dilakukan penulis, menunjukkan bahwa sebelum menjadi ibu kota 
Kabupaten Sukapura tahun 1901, sejarah Kota Tasikmalaya memiliki keterkaitan 
yang erat dengan Sejarah Kabupaten Sumedang. Oleh karena itu, anggapan umum 
yang 
menjadikan pembentukan Kabupaten Sukapura oleh Sultan Mataram sebagai titik 
tolah Sejarah Kota Tasikmalaya bersifat ahistoris atau tidak sesuai dengan 
fakta 
sejarah. Pada periode ini, Kota Tasikmalaya merupakan pusat pemerintahan 
Afdeeling Galoeengoeng op Zuid Soemedang yang terdiri dari Distrik Tasikmalaya, 
Singaparna, Indihiang, Ciawi, dan Malangbong (Statistiek der Preanger 
Regents-chappen. 1863; Veth, 18693: 906)

Keterkaitan antara Sejarah Kota Tasikmalaya dan Kabupaten Sukapura terjadi 
sejak 
tahun 1901 ketika Pemerintah Hindia Belanda memerintahkan Bupati Sukapura, 
Raden 
Tumenggung Prawira Hadiningrat untuk memindahkan ibu kota Kabupaten Sukapura 
dari Manonjaya ke Kota Tasikmalaya. Keeratan hubungan tersebut ditandai pula 
dengan perubahan nama kabupaten dari Sukapura menjadi Tasikmalaya tahun 1913 
(Staatsblad van Nederlandsch-Indië voor het Jaar 1913. No. 356). Selain menjadi 
pusat pemerintahan kabupaten, Kota Tasikmalaya pun menjadi pusat pemerintahan 
afdeeling dan distrik Tasikmalaya. Pada 1921, Distrik Tasikmalaya terdiri dari 
tiga onderdistrik, yaitu Tasikmalaya, Kawalu, dan Indihiang dengan jumlah desa 
sekitar 46 buah dan luas sekitar 178 km2 (ENI, 19214: 285; Regeeringsalmanak 
voor NI, 19191: 394). Dirgahayu Kota Tasikmalaya.




Kirim email ke