SBY: Pindahkan Ibu Kota Solusi Kemacetan
Laporan wartawan *KOMPAS.com Hindra Liauw*
Jumat, 3 September 2010 | 19:39 WIB

*JAKARTA, KOMPAS.com* — Presiden Susilo Bambang Yudhoyono kembali
mewacanakan pemindahan ibu kota sebagai salah satu solusi memecahkan
kepadatan Jakarta yang dinilai tak tertahankan lagi. Pertambahan volume
kendaraan dan jumlah penduduk ditengarai sebagai salah satu biang keladi
kepadatan di Jakarta.
 *Salah satunya, sama sekali membangun ibu kota yang baru, the real capital,
the real government center, seperti Canberra, Brasilia, Ankara, dan
tempat-tempat yang lain. *
-- SB Yudhoyono

"Salah satunya, sama sekali membangun ibu kota yang baru, *the real capital*,
*the real government center*. seperti Canberra, Brasilia, Ankara, dan
tempat-tempat yang lain," kata Presiden pada acara berbuka puasa bersama
pengurus Kamar Dagang Indonesia di Jakarta, Jumat (3/9/2010).

Selain mengajukan perbaikan infrastruktur Jakarta, Kepala Negara juga
mengajukan usul pemisahan antara pusat pemerintahan dan perdagangan. "Kita
bisa membandingkan dengan apa yang dilakukan Malaysia. Ibu kota Malaysia
tetap Kuala Lumpur, tapi pusat pemerintahan di Putrajaya. Dipisahkan, *cut
off*. Tetapi, tentu ada komunikasi yang baik. Berkembanglah Putrajaya," kata
Presiden.

Presiden meminta agar ketiga opsi tersebut diputuskan dan dipersiapkan sejak
dini. "Kita putuskan sekarang ini. Misalnya opsi kedua dan ketiga, kita
membangun pusat pemerintahan baru, maka 10 tahun dari sekarang baru bisa
dilakukan berdirinya pusat pemerintahan yang baru yang sudah terencana
dengan desain yang bagus dan memenuhi syarat-syarat sebagai pemerintahan
yang baik," kata Presiden.

Presiden melanjutkan, "Kalau kita bicara opsi kedua, misalnya, biarkan
Jakarta diploklamasikan. Kita pertahankan sebagai ibu kota, ekonomi,
perdagangan, dan semua kita bangun tempat yang baru sebagai pusat
pemerintahan. Nah, kalau kita membangun baru, tentu *well-planned*, *well
-designed*, kemudian kita hitung keindahan aspek lingkugan dan lain-lain.
Kita barang kali butuh waktu 5-7 tahun untuk membangunnya. Itu *by project*.
Putrajaya menghabiskan uang sekitar Rp 80 T. Kalau kita ingin bangun seperti
itu dengan cakupan yang lebih luas, *could be more*. (Dana) dari mana?
Mungkin dari APBN sebagian, sebagian *partnership*, * goverment, *dengan
publik. Sebagian mungkin bisa melepas aset pemerintah yang ada di Jakarta.
Kemudian kita bangun yang baru," kata Presiden.

Presiden menambahkan, sekiranya pilihan dijatuhkan pada opsi kedua atau
ketiga, hal tersebut membutuhkan kerja sama pemerintah dan pihak swasta atau
pengusaha.

"Saya berandai-andai, kalau itu dibangun, tentu 90 persen dilakukan oleh
pengusaha dalam negeri. Barangkali material yang kita impor dibatasi tidak
lebih 10 persen. Kita harus *think big*, kemudian melakukan sesuatu dengan
saksama. Ini yang ingin saya sampaikan di forum mulia ini," katanya.
   Editor: R Adhi KSP
http://lipsus.kompas.com/topikpilihan/read/2010/09/03/19393338/SBY.Pindahkan.Ibu.Kota.Solusi.Kemacetan

Kirim email ke