paingan atuh si teteh teu pok nyarita :) ~ experientia docet sapientiam ~
________________________________ From: mh <[email protected]> To: [email protected] Sent: Friday, October 8, 2010 8:57:45 Subject: Re: [kisunda] Budaya - Kabuyutan Pasir Ringgit Selareuma, Sumedang aya resepna: sing saha nu ngaruksak kabuyutan, sing burut cenah, hehehe 2010/10/8 Tirta widjaja <[email protected]> >Mh teh Elis ngaluarkeun resepna henteu kumaha ngaraksa, ngariksa, ngamumule >kabuyutan? > > > ~ experientia docet sapientiam ~ > > > > > ________________________________ From: mh <[email protected]> >To: Ki Sunda <[email protected]> >Sent: Friday, October 8, 2010 4:49:27 >Subject: [kisunda] Budaya - Kabuyutan Pasir Ringgit Selareuma, Sumedang > > > >"Kabuyutan" Dalam Perspektif "Kasajagatan" >Suatu kenyataan yang sangat memprihatinkan apabila warisan budaya sebagai >peninggalan karuhun nenek moyang masa lampau kalah oleh kepentingan >"ekonomi". >Padahal, budaya nenek moyang ditengarai lebih berharga dan tidak bisa dinilai >dengan materi semata. Jejak beberapa kabuyutan peninggalan sejarah serta >budaya >masa lampau, seperti Situs Rancamaya Bogor, Pasir Ringgit Selareuma, Gunung >Lingga, Gunung Tampomas; Kabuyutan Kawali, Karangkamulyan, Gunung Padang, >Cicanting Darmaraja, dan Tangkuban Parahu masih bisakah diselamatkan? > >Pakar arkeologi Sunda, Ayatrohaedi menyatakan, ciri-ciri kabuyutan di Tatar >Sunda tidak harus ditandai adanya artefak. Menurut dia, "Bangunan suci >masayarakat Tatar Sunda tidak selalu harus diidentifikasi sebagai bangunan >dengan artefak atau struktur seperti bangunan suci yang dimengerti masyarakat >umumnya (candi) atau bangunan lengkap dengan fondasi, dinding, dan atap. >Melainkan, lahan bukit alam atau dibuat lambang suatu bukit (bukit buatan = >gugunungan) dengan vegetasi hutan yang dibiarkan tumbuh alami...." >Kabuyutan Pasir Ringgit Selareuma, misalnya, jika dilihat dari sistem tata >ruang kosmologis Sunda secara multidisipliner serta dihubungkan dengan >kabuyutan-kabuyutan yang terletak di sekelilingnya termasuk bentang keruangan >Kabuyutan Sumedanglarang, bukan saja dalam konteks budaya materialistik, >tetapi >dalam cakupan yang lebih luas, yaitu dalam tatanan budaya idealistik. > >Pasir Ringgit Selareuma merupakan bagian dari satu tatanan kosmologi Sunda >secara kasajagatan yang tidak hanya berdekatan dalam hal keruangannya >(space), >tetapi juga memiliki kedekatan dalam bentuk (form) dan waktu (time) yang >teridentifikasi dalam Naskah Puru Sangkara, Naskah Carita Ratu Pakuan, dan >Sejarah Kebudayaan Sumedanglarang (masa Prabu Lembu Agung dan Prabu Gajah >Agung >abad ke-8 dan ke-9 Masehi). Dalam hal ini, sama seperti bentuk-bentuk >kabuyutan >di seluruh wilayah Sumedang yang mengacu pada bentuk budaya tradisi >megalitik, >seperti Kabuyutan Gunung Lingga dan Gunung Tampomas. Kosmologi Sunda secara >kasajagatan yang tercermin dalam tradisi naskah dan folklor, menjadi acuan >manakala karuhun Sunda membangun keraton, hunian masyarakat, pusat upacara >keagamaan, dan bangunan suci lain. >Kabuyutan Pasir Ringgit Selareuma dalam persprektif kasajagatan termasuk >salah >satu kabuyutan yang unik. Dilihat dari keadaannya, bukan kebetulan semata, >tetapi karena adanya sentuhan tangan manusia yang berfungsi sebagai patilasan >dan "pusat spiritual". Pasir Ringgi Selareuma dengan keberadaan dan kandungan >sumber daya alamnya berupa batu-batu tonggak tersusun rapi dengan kemiringan >sekitar 60° ke arah timur, terletak di lingkungan pegunungan, termasuk >rangkaian Dataran Tinggi Parahyangan yang merupakan benteng pakidulan dan >kawasan hulu (girang) aliran sungai-sungai di Tatar Sunda. Secara alamiah, >aliran (Sungai) Cipeles bermuara ke timur yakni Cimanuk. > >Semua tatanan fisiografis tersebut bukan kebetulan semata. Pasir Ringgit >Selareuma secara kasajagatan berorientasi ke timur karuhun yang mengawali >kehidupan selaras tataran waktu. Sejarah mencatat raja-raja Sumedang >keturunan >raja-raja yang berjaya di masa lampau berpusat di wetan/timur, yakni Kerajaan >Talaga. Batu tonggak yang tersusun rapi tersebut sebagian besar menunjukkan >ciri khusus, yakni bagian badan yang diletakkan di bawah (di atas tanah) >menunjukkan permukaan yang rata, sedangkan bagian badan mendongak ke atas >berpermukaan kerucut semu "seperti bekas dipangkas kasar". Hal itu >berkelindan >erat dengan pola alami bahan bangunan yang secara umum ditemukan pada >sebagian >besar kabuyutan di Tatar Sunda khususnya yang mengambil corak tradisi >Megalitik. > >Ditemukannya paseuk semacam lingga di puncak Bukit Pasir Ringgit Selareuma >dan >bekas undak-undak semacam tangga menuju puncak Pasir Ringgit beserta >lorongnya, >jelas-jelas karena sentuhan tangan manusia sejak zaman leluhur masyarakat >setempat (lebih dari lima puluh tahun). > >Pasir Ringgit Selareuma adalah kabuyutan, sebagaimana tertuang dalam sumber >tertulis (naskah) dan tradisi lisan (folklor). Kabuyutan adalah mandala >kerajaan sehingga setiap kerajaan selalu memilikinya. Oleh karena itu, >kabuyutan disebutkan dalam teks naskah Amanat Galunggung: "Kabuyutan ti >Galunggung sebagai timbang taraju jawadwipa mandala." > >Pasir Ringgit Selareuma bagi masyarakat Sumedang merupakan cadas nangtung nu >ngajadi ciriwanci Sumedanglarang. Selaras dengan yang teridentifikasi dalam >naskah kuno Purusangkara, Carita Ratu Pakuan dan Sejarah Sumedanglarang pada >masa Prabu Gajah Agung yang harus menemukan Batu Nangtung di tepi Sungai >Cipeles sebagai prasyarat berdirinya ibu kota Sumedanglarang ke-2 setelah >masa >Prabu Tajimalela, sebagai rangkaian fakta sejarah yang sangat penting, baik >secara lisan maupun tulisan. > >Bukti lain bahwa lokasi Pasir Ringgit Selareuma merupakan kabuyutan, dengan >adanya kuncen sebagai pemelihara secara turun-temurun (terakhir Bapak Ending >pada 1998) yang mengisyaratkan bahwa lokasi tersebut sangat penting bagi >masyarakat setempat, masyarakat Sumedang, dan masyarakat Sunda pada umumnya. > >Dengan demikian, Kabuyutan Pasir Ringgit Selareuma ditinjau dari perspektif >kasajagatan jelas merupakan situs yang selayaknya diraksa, diriksa, tur >dimumulé segenap masyarakat Sunda yang eungeuh dan peduli terhadap warisan >karuhun-nya, jangan sampai disia-siakan. (Elis Suryani N.S., dosen dan >peneliti >Unpad) *** >http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=159214 > >
