Galian C Selareuma Dilanjut Masyarakat Adat Ancam Demo

In: BUDAYA <http://koransumedang.com/category/budaya/>
 *15* *Dec* *2009*

Kota, *Korsum*

Seperti yang telah diberitakan koran ini sebelumnya, mengenai Galian C
Selareuma atau Pasir Ringgit (sekarang Pasir Reungit), yang sampai saat ini
masih menimbulkan permasalahan, sehingga eksploitasi tersebut ditutup
sementara oleh Polwil Priangan dan diserahkan ke Pemda Sumedang untuk dikaji
ulang. Namun, ternyata menurut informasi yang diterima Korsum, eksploitasi
Selareuma tersebut rencananya akan terus dilanjutkan.

Sekretaris Yayasan Pangeran Sumedang (YPS), Lucky, ketika ditemui
*Korsum*di Gedung YPS, Kamis (10/12), mengatakan bahwa penutupan
eksploitasi
tersebut dilakukan oleh Polwil karena  menganggap Pemerintah Kabupaten
Sumedang tidak menanggapi usulan tokoh masyarakat untuk  mengkaji ulang
keberadaan Selareuma atas dugaan bahwa lokasi tersebut merupakan cagar
budaya.  “Sehingga, para tokoh masyarakat tersebut mengadukan ke Polwil
untuk ditindaklanjuti,” katanya.

Menguatnya dugaan bahwa lokasi itu situs, menurut Lucky, karena wilayah
sekitar Selareuma merupakan bekas kerajaan yang lebih dari 300 tahun sejak
jaman Prabu Gajah Agung dilanjutkan ke Pagulingan, lalu Sunan Guling, Sunan
Tuakan, dan Nyimas Tuakan hingga empat generasi di situ.  Bahkan menurut
Lucky, dulunya ada Kuncen yang bernama Bapak Ending yang sekarang sudah
meninggal dan mempunyai anak yang bernama Endang.

Berdasarkan keterangan Bapak Endang, dulu ada batu hitam yang berbentuk
perahu yang disebut “batu parahu”, tetapi sekarang sudah tidak ada lagi.
Oleh karena itu, akhirnya tempat tersebut diduga sebagai tempat peribadatan
pada masanya. Selain itu, dari aspek pilologi dari naskah Purusangkara dan
Ratu Pakuan, Selareuma selalu disebut-sebut. Akhirnya, pihak Yayasan serta
tokoh masyarakat menganggap bahwa tempat tersebut merupakan “Kabuyutan”.

Menanggapi perijinan yang dikeluarkan Dinas pertambangan untuk CV. Stone
House, Lucky mengatakan hasil kajian tahun 2003 dianggap tidak objektif dan
terkesan dipaksakan, dan tidak melibatkan komponen masyarakat dan sejarah,
serta tidak didukung oleh aspek lain. Menurutnya, kesimpulan dari hasil
penelitian tidak ditunjang oleh faktor-faktor lain di luar Selareuma.

*Selareuma Ditanggapi Beragam *

Nurhayat, salah seorang tokoh masyarakat di Lingkungan Pasanggrahan,
mengatakan bahwa pada dasarnya dirinya mendukung dilakukan penelitian ulang.
Dengan harapan upaya yang dijalani Yayasan    dapat meyakinkan apakah itu
merupakan tempat yang mempunyai nilai sejarah atau bukan.

Sementara, Eyang Lili dari Masyarakat Adat Rancakalong, mengatakan jika
Selareuma dipaksakan dibongkar oleh pengusaha, seluruh masyarakat adat akan
dikerahkan untuk melakukan demo besar-besaran. “Bukan saja masyarakat adat
yang ada di Sumedang, tetapi akan digabung dengan kabupaten lain,” ancamnya.

Kepala Bidang Kebudayaan pada Dinas Kebudayaan Pariwisata dan Olah Raga
Kabupaten Sumedang, Cucu Sutaryadibrata, mengatakan bahwa itu merupakan
proses alam bukan hasil  rekayasa jaman purba. “Bahkan di Sumedang ada tiga
titik yang seperti itu, yaitu di Cibubuan, Ciherang Tagog, dan Selareuma.
Ahli kepurbakalaan telah menyatakan bahwa itu bukan situs, sedangkan Yayasan
bukan merupakan lembaga budaya. Sampai di mana pemahaman Yayasan tentang
kepurbakalaan? Dan pemerintah pun tidak akan gegabah memberikan pernyataan.
Kalau akan dilakukan pengkajian ulang, silahkan saja,” katanya.

Sementara, anggota Komisi D DPRD Kabupaten Sumedang, Dr. Asep Sumaryana,
ketika dihubungi melalui pesan singkat, Jumat (11/12), mengatakan bahwa pada
awalnya kata Polwil ada pengaduan dari tokoh Sunda Bandung yang mengatakan
bahwa galian itu situs purbakala. Jadi, Polwil meminta Pemda Sumedang untuk
menghentikan eksploitasi dengan alasan dugaan ada perbuatan pidana
pengrusakan lokasi yang diduga situs purbakala. Atas desakan Polwil, yang
katanya ada pengaduan, Distamben menghentikan sementara eksploitasi, padahal
sudah ada penelitian dari Balai Arkeologi tahun 2003 yang menyatakan itu
bukan situs purbakala.

Mengenai masyarakat adat yang akan demo jika eksploitasi dilanjutkan, Asep
mengatakan kalau dirinya tidak pernah dengar jika ada lembaga non formal
yang punya otoritas untuk meneliti itu situs atau bukan. “Setiap situs di
Sumedang dipandu oleh sejarah (dan diteliti oleh arkeolog). Mau percaya ke
dukun atau arkeolog?” tanyanya mengakhiri keterangannya. ***[Asep Nandang]*

*
http://koransumedang.com/2009/12/galian-c-selareuma-dilanjut-masyarakat-adat-ancam-demo/
*

*
*

Kirim email ke