Batu Tonggak di Pasir Reungit Sumedang LEMBAH perbukitan kaki Gunung Tampomas di Blok Jugul, Desa Mandalaherang, Kec. Cimalaka, Kab. Sumedang, yang rusak parah digerogoti aktivitas penambangan batu dan pasir. Gunung yang tengah dirusak oleh penggalian tersebut memiliki situs warisan budaya dalam lintas sejarah kebudayaan Sumedanglarang, yaitu Pasir Reungit.* NURYAMAN/"PR"
Pepatah mengatakan, "lain lubuk lain ikannya, lain padang lain pula belalangnya", adalah ungkapan peribahasa yang menunjukkan betapa tajamnya nenek moyang kita di dalam mengungkapkan masalah aneka ragam adat istiadat masing-masing daerah pada berbagai wilayah di (kepulauan) nusantara ini. Secara sadar ataupun nirsadar sebenarnya ungkapan itu merupakan suatu cerminan tindakan sangat hati-hati bila kita mendatangi atu menilai daerah (baca: etnis) lain di dalam lingkungan masyarakat dan kebudayaan yang bersifat multietnis yang menampilkan cara yang berbeda-beda pula di dalam, baik dalam proses pembentukan maupun pembekuan unsur tradisionalnya. Berbicara fenomena warisan aktivitas kebudayaan di Tatar Sunda (BCB), secara langsung berhadapan kepada berbagai permasalahan epistemologis yang fundamental. Apakah kita bertolak dari keyakinan bahwa gagasan teoretis dalam pengetahuan ilmu sosial budaya universal, seperti ilmu pengetahuan alam atau terikat kepada kebudayaan di mana gagasan itu dicanangkan? Ataukah harus diteruskan dengan pertanyaan "apakah kebudayaan suatu masyarakat/individu/ kelompok sosial merupakan suatu sistem yang dihayati warganya sehingga pemahaman tentang lingkungan sosial dan biofisika harus dianggap seragam?" Ataukah pula masing-masing warga memiliki pemahaman sendiri-sendiri yang tidak perlu dan belum tentu sama dari satu warga ke warga yang lain? Layaknya pepatah kuna mengatakan ciri sabumi cara sadesa yang menyiratkan pengertian amat dalam bahwa setiap masyarakat pendukung budaya di Nusantara mengembangkan kelengkapan supraorganik atau peralatan nonragawi yang merupakan perwujudan seluruh tanggapan aktifnya terhadap lingkungan hidupnya. Variasi lingkungan hidup di berbagai wilayah tersebut menimbulkan aneka ragam cara memahami, memperkirakan dan menilai lingkungan serta menentukan nilai dan gagasan vital yang menjadi pedoman pola tingkah laku anggota masyarakat. Dalam rangka identifikasi situs sekalipun, entah dimengerti oleh atau secara umum atau ke dalam wujudnya yang lebih formal (akademis), harus dipandang dan diselaraskan sesuai latar kebudayaan tiap-tiap alam lingkungan kebudayaan dan kerangka waktu pendukung budayanya. Sebagaimana umumnya masyarakat nusantara, masyarakat Tatar Sunda sejak sebelum masa Tarumanagara hingga hadirnya inovasi, akrab dan mandiri dengan ciri budaya berladang dan perangkat kepercayaannya. Ciri khas budaya berladang adalah orientasi kuat terhadap lingkungan alam dan segala kandungannya (kesuburan) serta iklim. Karena masyarakat dengan budaya berladang memenuhi hidupnya secara langsung terlibat dengan memanfaatkan lingkungan alam sehingga berusaha mendekatkan diri kepada lingkungan. Konsep (pikukuh) pemeliharaan bumi dengan segala isinya hakikatya simbolisasi hubungan dirinya dan Pencipta-Nya. Pasir Reungit Gunung /Pasir Reungit-Cadas Nangtung Pasanggrahan secara geografis (GPS) pada koordinat 06° 51’ 43"-51°43" Lintang Selatan (LS) dan 107° 53’59,9" Bujur Timur (BT) ketinggian dari permukaan laut (dpl) 525 m. Terletak di Kampung Seulareuma (dahulu Salareuma) menempati lahan tertinggi dari sekitarnya diapit dua kampung lainnya yang mengisi dataran lebih rendah yaitu Kampung Lebak Huni (sebelah barat) dan Kampung Legok Bungur (sebelah timur). Lokasi yang dirujuk berupa suatu bukit yang oleh penduduk bersangkutan disebut pasir (Sunda: pasir=gunung kecil) di lingkungan pegunungan Perbukitan Sumedang Selatan yang terdiri atas Gunung/Pasir Nangtung, Gunung/Pasir Konci, Pasir Peti, Gunung/Pasir Ciguling, Gunung/Pasir Palasari dan Gunung Palasari. Di lingkungan perbukitan tersebut hingga kini terdapat Makam Kuno Karamat Eyang Jagabhaya di Gunung/Pasir Nangtung dan Batukorsi (Stonesit ) Gunung/Pasir Ciguling. Gunung /Pasir Reungit-Cadas Nangtung Pasanggrahan merupakan salah satu bukit (Sunda:gunung leutik) di lingkungan Sumedang Selatan yang kini dalam kondisi digali khususnya lereng dan dinding bukit bagian selatan (menghadap ke jalan raya Sumedang-Bandung). Penggalian itu berkaitan dengan usaha penambangan sumber daya bahan bangunan rumah dan alat-alat sehari-hari. Sekitar lima puluh persen lahan bukit bagian selatan tampak terbuka oleh hasil pengupasan sengaja oleh pihak perusahaan bersangkutan, dan memperlihatkan sejumlah besar bongkahan batu dengan bentuk khas berupa sejumlah besar tonggak dengan ukuran yang spektakuler. Dari catatan ringkas tentang Gunung /Pasir Reungit-Cadas Nangtung Pasanggrahan diberikan seorang bernama Rochman (Bojongmenje-Cangkuang, Rancaekek, Bandung) yang berkunjung pada 17 Oktober 2002. Atas dasar apa yang dilihatnya dengan dilengkapi keterangan wawancara dengan sesepuh penduduk setempat bernama Aki Jenar (87). Selain bongkah batu tonggak di Gunung /Pasir Reungit-Cadas Nangtung Pasanggrahan ditemukan terowongan dari Cipeles yang menembus hingga ke Pasir Reungit, di dalam terowongan ada teras-teras undakan menuju ke atas bukit dan berfungsi sebagai pintu gerbang. Disebutkan oleh Aki Jenar kepada Rochman bahwa pada tiap-tiap bulan (Islam) Maulud dan bulan Rajab khususnya di malam Jumat di puncak Gunung/Pasir Reungit kerap muncul cahaya berkilauan seperti cahaya lampu neon. Maka, Rochman menambahkan pada bagian akhir catatannya bahwa Gunung/Pasir Reungit adalah "situs": 1) ada keajaiban berupa cahaya pada lahan tertinggi Gunung /Pasir Reungit; 2) ada lubang berupa terowongan dari Sungai Cipeles hingga tembus ke lokasi tumpukan batu yang berbentuk "persegi" adalah buatan manusia. Keterangan sama diperoleh dari penduduk bernama Sukandar (43), ketika ayahnya masih hidup (Juned bin Juned meninggal usia 74 tahun) menceritakan Gunung/Pasir Reungit-Cadas Nangtung Pasanggrahan semula leuweung geledegan – hutan rimba mulai digali dan mengandung batu-batu tonggak dan ketika tahun 1954 membuka lahan ini untuk pertanian. Pada bagian selatan lahan kawasan Gunung/Pasir Reungit-Cadas Nangtung Pasanggrahan terpotong jalan raya Sumedang-Bandung terdapat irigasi (sungai) Cipeles guna mengairi lahan permukiman dan persawahan penduduk Kampung Seulareuma. Di antara irigasi menuju lahan Pasir Reungit terdapat terowongan tanah yang menembus hingga ke bagian dalam Gunung/Pasir Reungit-Cadas Nangtung Pasanggrahan. Kondisi yang telah ditampakkan Gunung/Pasir Reungit mengandung sumber daya alam berupa batu-batu tonggak dalam jumlah besar yang ketika digali posisinya demikian tersusun rapi, jenis batuan andesit yang keras dan kokoh, dan berwarna hitam. Maka, permasalahan yang hadir, apakah Gunung/Pasir Reungit-Cadas Nangtung Pasanggrahan ini hasil karya manusia (artefak) atau hadir semata karena gejala alam? Permasalahan yang masih menanti jawaban adalah identifikasi Gunung (Pasir Reungit) Cadas Nangtung Pasanggrahan dengan seluruh kandungan sumber dayanya yang mencurigakan itu, apakah ada kaitannya dengan warisan aktivitas budaya yang disebut situs atau harus dipandang sebagai gejala alam hasil proses geologis semata? Penggalian di Gunung/Pasir Reungit dengan kandungan sumber daya alam berupa bongkah-bongkah batu andesit berbentuk tonggak dengan ukuran besar dan kokoh telah ditampakkan tersebut sekitar 50%. Beberapa di antara batu-batu yang digali tergeletak di halaman yang mengaku pemilik lahan yakni Ade Rahmawati (30), satu-satunya bangunan rumah yang berada di lereng Pasir Reungit; sebagian besar lainnya lagi masih berada pada tempatnya (intax sesuai matriksnya). Sejumlah besar batu yang telah ditemukan sebelum dijadikan tambang bangunan dipergunakan penduduk setempat selain dijadikan bahan bangunan rumah mereka, juga untuk menyanggah tebing sungai (Cipeles). Pemanfaatan batu-batu tonggak baik oleh perusahaan maupun masyarakat setempat karena jenis batunya sangat baik dengan kapasitas kekerasan tinggi-tidak mudah retak meskipun dibanting dan dijatuhkan dengan keras. Ukuran spektakuler dengan bobot yang berat ini menyebabkan si pemilik Perusahaan menggunakan mesin berat dan besar yaitu buldoser yang hingga kini terparkir di halaman rumahnya. Ketika diamati saksama, batu-batu tonggak memiliki bentuk hampir serupa tetapi dengan ukuran tinggi dan diameter berbeda-beda. Batu-batu tonggak yang masih terletak utuh pada tempatnya, berposisi seakan-akan sengaja disusun berbaris dan menyandar pada dinding (lereng) Gunung/Pasir Reungit dengan tatanan yang cenderung miring 60° ke arah timur. Dari pengamatan Batu Tonggak yang telah dipindahkan dan berada di halaman rumah penduduk, ujung badan bagian bawah (yang menempel ke tanah) bentuknya rata seperti usai dipangkas sedangkan ujung badan bagian batu tonggak yang menghadap atas bentuk nya kerucut semu seperti sengaja dipangkas kasar. Ukuran panjang batu-batu tonggak berkisar antara 7-8 m, sedangkan diameternya antara 60-70 cm. Pada bagian lereng Gunung /Pasir Reungit-Cadas Nangtung Pasanggrahan terhampar kerakal andesit sebagian masih tersusun rapi seperti lantai dan sebagian lagi terserak bercampur kerikil (kericak). Di balik dinding susunan batu tonggak ditemukan tatanan batu lainnya seperti susunan kue lapis yang mengisi bagian dalam Gunung /Pasir Reungit. Lahan paling atas tatanan batu tertutup tanah dengan partikel padat sekitar 50 cm dari batas tatanan batu, diikuti hamparan pasir pada bagian permukaan. Bagian selatan kawasan Gunung /Pasir Reungit-Cadas Nangtung Pasanggrahan kurang lebih 1-1.5 km mengalir sungai besar disebut Cipeles, aliran sungai tersebut mengalir arah timur-barat dan bermuara di Cimanuk. Di antara dinding ruas jalan (Sumedang-Bandung) dan Sungai Cipeles terdapat sungai irigasi yang sekaligus menjadi batas lahan Gunung /Pasir Reungit-Cadas Nangtung Pasanggrahan. Pada lahan ini ditemukan lubang terowongan (diameter terowongan 80-100 cm), kendati besaran ukurannya cukup untuk dimasuki manusia, tetapi keadaannya kini telah terisi tanah dan bahkan kerap berisi air dan dihuni binatang (sero) sehingga sulit diamati. Hasil dari pengamatan Gunung /Pasir Reungit-Cadas Nangtung Pasanggrahan menunjukkan: a. Lahan terbuka yang intax lekat pada matriksnya dan yang tidak mungkin dipindahtempatkan atau diubah oleh manusia. b. Mengandung sumber daya alam sangat potensial berupa batu andesit dari bahan yang sangat keras, juga dari berbagai bentuk di antaranya bentuk tonggak dalam jumlah yang sangat banyak memenuhi bukitnya, kerakal dan kerikil dengan jumlah yang banyak, kandungan pasir dan tanah. c. Gunung/Pasir Reungit terletak di lingkungan pegunungan atau perbukitan yang masih termasuk jajaran pegunungan dataran tinggi Parahyangan. d. Di dekatnya mengalir sungai besar Cipeles yang bermuara di Cimanuk. Sementara itu, disebutkan Gunung (Pasir Reungit) Cadas Nangtung Pasanggrahan tiada lebih merupakan lingkungan dengan kandungan batuan, tanah, air dan tetumbuhan sebagai sumber daya alam yang dibutuhkan oleh manusia demi memenuhi kebutuhan hidupnya. Sumber daya alam yang bukan merupakan ciptaan atau dibuat oleh manusia, tetapi berkenaan dengan upaya dan usaha kehidupan berkebudayaan. (Richadiana Kadarisman K.)*** http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=119656
