Sigana nu nalungtik kabuyutan Pasir Ringgit teh aya sababaraha urang, opatan 
pami teu lepat mah, kalebet Ambu sareng Teh Elis ieu panginten. Anu opatan ieu 
tos narulis hasil panalungtikanana sewang-sewang. Lamun seug dihijikeun 
dijadikeun buku mah kandelna tiasa ngahontal 500 kaca-eun.

Ngan ngeunaan tulisan Teh Elis ieu, pikeun kuring nu lain urang Sumedang mah 
asa lebeng pisan di mana lebah-lebahna. Da dina eta artikel teu disebutkeun 
posisina sacara jentre...



--- On Thu, 10/7/10, oman abdurahman <[email protected]> wrote:

From: oman abdurahman <[email protected]>
Subject: Re: [kisunda] Budaya - Kabuyutan Pasir Ringgit Selareuma, Sumedang
To: [email protected]
Date: Thursday, October 7, 2010, 8:29 PM







 



  


    
      
      
      Sanes Ambu anu nyerat perkara anu sarua? Kumaha hubungan ieu seratan 
sareng seratan Ambu?

Di Sumedang aya Pasir Ringgit aya Pasir Reungit. Anu kahiji ayeuna rek sohor 
salaku kabuyutan. Anu kadua, katelah ku oncomna, oncom Pasir Reungit, pedo 
kacida. Keur nu resep oncom, jembarna keur anu merhatikeun unak-anik tutuwuhan 
jeung alam habitatna, Pasir Reungit oge kudu jadi kandidat kabuyutan.


manar 

2010/10/8 Tirta widjaja <[email protected]>
















 



  


    
      
      
      Mh teh Elis ngaluarkeun resepna henteu kumaha ngaraksa, ngariksa, 
ngamumule kabuyutan? 
 ~ experientia docet sapientiam ~



From: mh <[email protected]>
To: Ki Sunda <[email protected]>

Sent: Friday, October 8, 2010 4:49:27
Subject: [kisunda] Budaya - Kabuyutan Pasir Ringgit Selareuma, Sumedang









 



    
      
      
      "Kabuyutan" Dalam Perspektif "Kasajagatan"

                                
Suatu kenyataan yang sangat memprihatinkan apabila 
warisan budaya sebagai peninggalan karuhun nenek moyang masa lampau 
kalah oleh kepentingan "ekonomi". Padahal, budaya nenek moyang 
ditengarai lebih berharga dan tidak bisa dinilai dengan materi semata. 
Jejak beberapa kabuyutan peninggalan sejarah serta budaya masa lampau, 
seperti Situs Rancamaya Bogor, Pasir Ringgit Selareuma, Gunung Lingga, 
Gunung Tampomas; Kabuyutan Kawali, Karangkamulyan, Gunung Padang, 
Cicanting Darmaraja, dan Tangkuban Parahu masih bisakah diselamatkan? 
Pakar arkeologi Sunda, Ayatrohaedi menyatakan, 
ciri-ciri kabuyutan di Tatar Sunda tidak harus ditandai adanya artefak. 
Menurut dia, "Bangunan suci masayarakat Tatar Sunda tidak selalu harus 
diidentifikasi sebagai bangunan dengan artefak atau struktur seperti 
bangunan suci yang dimengerti masyarakat umumnya (candi) atau bangunan 
lengkap dengan fondasi, dinding, dan atap. Melainkan, lahan bukit alam 
atau dibuat lambang suatu bukit (bukit buatan = gugunungan) dengan 
vegetasi hutan yang dibiarkan tumbuh alami...."
Kabuyutan Pasir Ringgit Selareuma, misalnya, jika 
dilihat dari sistem tata ruang kosmologis Sunda secara multidisipliner 
serta dihubungkan dengan kabuyutan-kabuyutan yang terletak di 
sekelilingnya termasuk bentang keruangan Kabuyutan Sumedanglarang, bukan
 saja dalam konteks budaya materialistik, tetapi dalam cakupan yang 
lebih luas, yaitu dalam tatanan budaya idealistik. 
Pasir Ringgit Selareuma merupakan bagian dari satu 
tatanan kosmologi Sunda secara kasajagatan yang tidak hanya berdekatan 
dalam hal keruangannya (space), tetapi juga memiliki kedekatan dalam 
bentuk (form) dan waktu (time) yang teridentifikasi dalam Naskah Puru 
Sangkara, Naskah Carita Ratu Pakuan, dan Sejarah Kebudayaan 
Sumedanglarang (masa Prabu Lembu Agung dan Prabu Gajah Agung abad ke-8 
dan ke-9 Masehi). Dalam hal ini, sama seperti bentuk-bentuk kabuyutan di
 seluruh wilayah Sumedang yang mengacu pada bentuk budaya tradisi 
megalitik, seperti Kabuyutan Gunung Lingga dan Gunung Tampomas. 
Kosmologi Sunda secara kasajagatan yang tercermin dalam tradisi naskah 
dan folklor, menjadi acuan manakala karuhun Sunda membangun keraton, 
hunian masyarakat, pusat upacara keagamaan, dan bangunan suci lain.
Kabuyutan Pasir Ringgit Selareuma dalam persprektif 
kasajagatan termasuk salah satu kabuyutan yang unik. Dilihat dari 
keadaannya, bukan kebetulan semata, tetapi karena adanya sentuhan tangan
 manusia yang berfungsi sebagai patilasan dan "pusat spiritual". Pasir 
Ringgi Selareuma dengan keberadaan dan kandungan sumber daya alamnya 
berupa batu-batu tonggak tersusun rapi dengan kemiringan sekitar 60° ke 
arah timur, terletak di lingkungan pegunungan, termasuk rangkaian 
Dataran Tinggi Parahyangan yang merupakan benteng pakidulan dan kawasan 
hulu (girang) aliran sungai-sungai di Tatar Sunda. Secara alamiah, 
aliran (Sungai) Cipeles bermuara ke timur yakni Cimanuk. 
Semua tatanan fisiografis tersebut bukan kebetulan 
semata. Pasir Ringgit Selareuma secara kasajagatan berorientasi ke timur
 karuhun yang mengawali kehidupan selaras tataran waktu. Sejarah 
mencatat raja-raja Sumedang keturunan raja-raja yang berjaya di masa 
lampau berpusat di wetan/timur, yakni Kerajaan Talaga. Batu tonggak yang
 tersusun rapi tersebut sebagian besar menunjukkan ciri khusus, yakni 
bagian badan yang diletakkan di bawah (di atas tanah) menunjukkan 
permukaan yang rata, sedangkan bagian badan mendongak ke atas 
berpermukaan kerucut semu "seperti bekas dipangkas kasar". Hal itu 
berkelindan erat dengan pola alami bahan bangunan yang secara umum 
ditemukan pada sebagian besar kabuyutan di Tatar Sunda khususnya yang 
mengambil corak tradisi Megalitik. 
Ditemukannya paseuk semacam lingga di puncak Bukit 
Pasir Ringgit Selareuma dan bekas undak-undak semacam tangga menuju 
puncak Pasir Ringgit beserta lorongnya, jelas-jelas karena sentuhan 
tangan manusia sejak zaman leluhur masyarakat setempat (lebih dari lima 
puluh tahun). 
Pasir Ringgit Selareuma adalah kabuyutan, sebagaimana
 tertuang dalam sumber tertulis (naskah) dan tradisi lisan (folklor). 
Kabuyutan adalah mandala kerajaan sehingga setiap kerajaan selalu 
memilikinya. Oleh karena itu, kabuyutan disebutkan dalam teks naskah 
Amanat Galunggung: "Kabuyutan ti Galunggung sebagai timbang taraju 
jawadwipa mandala." 
Pasir Ringgit Selareuma bagi masyarakat Sumedang 
merupakan cadas nangtung nu ngajadi ciriwanci Sumedanglarang. Selaras 
dengan yang teridentifikasi dalam naskah kuno Purusangkara, Carita Ratu 
Pakuan dan Sejarah Sumedanglarang pada masa Prabu Gajah Agung yang harus
 menemukan Batu Nangtung di tepi Sungai Cipeles sebagai prasyarat 
berdirinya ibu kota Sumedanglarang ke-2 setelah masa Prabu Tajimalela, 
sebagai rangkaian fakta sejarah yang sangat penting, baik secara lisan 
maupun tulisan. 
Bukti lain bahwa lokasi Pasir Ringgit Selareuma 
merupakan kabuyutan, dengan adanya kuncen sebagai pemelihara secara 
turun-temurun (terakhir Bapak Ending pada 1998) yang mengisyaratkan 
bahwa lokasi tersebut sangat penting bagi masyarakat setempat, 
masyarakat Sumedang, dan masyarakat Sunda pada umumnya. 
Dengan demikian, Kabuyutan Pasir Ringgit Selareuma 
ditinjau dari perspektif kasajagatan jelas merupakan situs yang 
selayaknya diraksa, diriksa, tur dimumulé segenap masyarakat Sunda yang 
eungeuh dan peduli terhadap warisan karuhun-nya, jangan sampai 
disia-siakan. (Elis Suryani N.S., dosen dan peneliti Unpad) 
***http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=159214






    
     








    
     

    
    






  










    
     

    
    


 



  






      

Kirim email ke