Oleh Muhammad AS Hikam

President University

 



Bibirnya digunting. Sekujur tubuh bagian depan penuh luka tusukan. Punggung pun 
penuh dengan luka. Kepala mengalami trauma retak. Rambut digunduli. Kakinya pun 
penuh dengan luka-luka seperti pisau yang ditorehkan. Ini belum lagi luka-luka 
secara kejiwaan yang harus ditanggung oleh Sumiati, TKW dari negeri kita yang 
bekerja di Madinah, Saudi Arabia 
(http://www.detiknews.com/read/2010/11/17/160240/1496237/10/foto-tunjukkan-kulit-kepala-dan-punggung-sumiati-rusak)
 Ya, Madinah, kota suci nomer dua bagi ummat Islam, dan tempat Rasullullah saw 
di makamkan dan kota yang memiliki Masjid Nabawi, di mana jika seseorang 
Muslim/Muslimah sholat di dalamnya maka pahalanya ribuan kali lipat dibanding 
di Masjid di mana saja di luar Makkah dan Baitul Muqaddas.

 

Sungguh sebuah ironi yang tak bisa dilukiskan kata-kata, bahwa terjadi tindak 
kriminal oleh seorang Arab penduduk kota Madinah terhadap sesama 
Muslim/Muslimah yang menjadi pekerjanya. Cerita duka seperti yang menimpa 
Sumiati, sudah pasti bukan cerita baru. Sering kita membaca laporan terjadinya 
penyiksaan terhadap TKW atau TKI di Kerajaan Arab Saudi atau negeri lain yang 
tak kurang mengerikan: perkosaaan dan bahkan pembunuhan. Juga cerita tentang 
mereka-mereka yang, entah bagaimana, berhasil melarikan diri dari "penjara" 
yang disebut rumah majikan dan dapat menuturkan kisah-kisah horor perlakuan 
para majikan kepada pembantu rumah tangga, pris maupun (apalagi) wanita.

 

Saat saya menjabat Menegristek pun, saya pernah singgah di lokasi penampungan 
TKI pelarian yang dibuat oleh KBRI di Ryadh. Puluhan perempuan yang semua 
menderita secara fisik dan mental berjejalan di rumah yang lebih pantas disebut 
dengan tempat pengungsian ketimbang sebuah asrama. Dubes RI di Ryadh pada waktu 
itu, Alm. Prof. Dr. Baharudin Lopa, SH, menuturkan kepada saya tentang cerita 
penuh derita mereka. Dengan geram Pak Lopa mengutarakan kemarahan beliau kepada 
negara tuan rumah yang menganggap sepi masalah seperti itu, karena memang hukum 
di negara tersebut (entah bagaimana) ternyata tidak mampu menyentuhnya. Saya 
dan Pak Lopa sepakat, satu-satunya kebijakan yang masuk akal dan efektif (pada 
saat itu) hanyalah dengan menghentikan pengiriman TKI ke negara tersebut. 
Sayangnya, hal itu tak pernah benar-benar dipakai sebagai kebijakan dari 
Pemerintah RI sampai kini, dengan segala alasan.

 

Jadi apa yang menimpa Sumiyati dan para TKI sejatinya sudah merupakan masalah 
klasik dan hampir tidak bisa dicarikan solusi yang adil. Negeri Arab Saudi 
tidak mengenal, apalagi mengakui, HAM. Negeri itu memiliki hukum yang sulit 
untuk dipergunakan mengawasi  majikan yang melakukan tindakan kejam kepada para 
pembantu. Saya malah pernah mendengar rumor bahwa ada anggapan di antara orang 
Arab Saudi bahwa PRT statusnya mirip dengan budak yang menjadi "milik" mereka. 
Karena status "setengah budak" itulah, dan juga rasisme yang masih sangat kuat 
dari orang Arab Saudi terhadap orang lain seperti orang Indonesia, maka 
perlakuan sadis yang mereka perbuat menjadi hal yang "banal" sesuatu yang 
remeh-temeh. Rasa superior sebagai  "penjaga Rumah Allah" itu juga mempengaruhi 
kultur komunikasi dengan bangsa Islam lain, termasuk Indonesia.

 

Namun, elite Arab Saudi sangat minder ketika berhadapan dengan bangsa maju 
seperti Amerika dan Eropa. Hal ini sangat kelihatan dengan ketergantungan 
mereka terhadap kehadiran militer AS yang menjaga keamanan mereka dan karenanya 
memberikan priviliege yang luar biasa terhadapnya. Hal ini juga menciptakan 
problem dalam urusan kemasyarakatan karena terciptalah sebuah kondisi split 
personality (kepribadian terbelah): di satu pihak merasa superior, tetapi 
dipihak lain sangat tergantung kepada "musuh". Kondisi kejiwaan terbelah itu 
memunculkan gejala yang aneh di masayarakat Arab: yaitu sebuah masyarakat yang 
sangat tertutup, anti asing (xenophobic), arogan, dan tak suka bergaul dengan 
yang lain.

 

Itulah sebabnya begitu banyak manusia yang datang di Arab Saudi, tapi hampir 
tidak ada pemahaman sedikitpun mengenai masyarakat ASrab di sana, di luar soal 
ibadah dan belanja. Hampir sulit menemukan sebuah buku yang bercerita tentang 
keseharian komunitas Arab, atau karya etnolografi yang bisa dipakai untuk 
memahami sejauhmana perkembangan masyarakat Arab Saudi di luar informasi resmi 
dari Kerajaan atau Penguasa di sana. Hal ini semakin diperkuat dengan kenyataan 
bahwa Arab Saudi memilik kekayaan yang luar biasa, sehingga bisa dikatakan 
dapat membiayai kondisi seperti itu dan dianggap sebagai sebuah kondisi normal.

 

Dalam konteks sistem politik dan sosial serta budaya seperti ini, TKI dan TKW 
Indonesia sejatinya memerlukan sebuah pengawalan khusus dari pemerintah RI, 
atau kalau memang tidak mampu, harus distop saja. Berbeda dengan tenagakerja 
Filipina yang memang dikawal secara ketat melalui perlindungan hukum dan 
peningkatan skills oleh pemerintah di Manila. Dengan pendekatan seperti ini, 
Filipina dapat mengurangi kemungkinan perlakuan seperti yang sering terjadi 
terhadap TKI. Dengan semakin tingginya skills (keahlian) naker Filipina, mereka 
juga masuk dalam pasar kerja yang memiliki jaminan keamanan yang lebih baik, 
karena tidak lagi masuk di sektor rumah tangga.

 

Pemerintah Indonesia sudah jelas gagal dalam masalah ini, dan kebijakan 
ketenagakerjaan terkait TKI di Arab Saudi tidak pernah berubah secara 
fundamental. Pemerintah RI tetap saja menggunakan pendekatan ad-hoc dan reaktif 
terhadap masalah keselamatan kerja TKW, sambil mematok biaya tinggi kepada 
mereka. Pelayanan terhadap TKW seringkali hanya kelihatan bila kasusu seperti 
Sumiati muncul, karena hal itu menjadi sorotan publik. Jika perhatian publik 
tak kelihatan maka jurus "business as usual" pun dipakai. Itulah sebabnya, saya 
pesimis bahwa derita para Sumiati di Arab Saudi akan bisa dihentikan dalam 
tempo yang dekat. Bahkan bisa jadi bahwa sebenarnya masih banyak penyiksaan 
terhadap para TKW kita di rumah-rumah orang Arab yang tersembunyi dan lolos 
dari pantauan.

 

Munculnya kabar-kabar horor yang lain dari negeri padang pasir tersebut hanya 
masalah waktu saja.



Sent from my iPhone

On Nov 19, 2010, at 17:29, "Eko Ruska Nugraha" <[email protected]> wrote:

> Hatur nuhu kang asep ingpona 
> 
> Baktos
> Ern
> 
> Powered by Telkomsel BlackBerry®
> 
> From: Aschev Schuraschev <[email protected]>
> Sender: [email protected]
> Date: Fri, 19 Nov 2010 18:13:23 +0800 (SGT)
> To: <[email protected]>
> ReplyTo: [email protected]
> Subject: Re: Bls: [kisunda] Deui TKW disiksa, sungutna digunting....
> 
>  
> menyeluruh teh sami sareng "gembleng" atanapi "sagemblengna".
> 
> 
> 
> 
> --- On Fri, 11/19/10, Eko Ruska Nugraha <[email protected]> wrote:
> 
> From: Eko Ruska Nugraha <[email protected]>
> Subject: Re: Bls: [kisunda] Deui TKW disiksa, sungutna digunting....
> To: "kisunda" <[email protected]>
> Date: Friday, November 19, 2010, 4:04 AM
> 
>  
> Tah geuning pamarentah tos gaduh data kanggo bahan evaluasi menyeluruh (naon 
> sundana) mah. Kantun dipaluruh kunaon tiasa kanjanten siga kieu, apa prosedur 
> pengiriman tki aya nu lepat kalebet kendala bahasa upami eta bahasa kunaon 
> tiasa kakitun ka nagara tujuan ? Upami eta prosedurna parantos leres euh 
> boa-boa majikanana kirang sehat.
> 
> Tos sakitu heula
> Ern
> 
> Powered by Telkomsel BlackBerry®
> 
> 
> 

Kirim email ke