Sampurasun,
Ieu aya tulisan ti dulur kula, di kopi paste ku kula ti milis wongbanten, nu
nulis Mcs Thamrin.
Ongkarana Sangtabean Pukulun Sembah Rahayu,
TiRiLik.
Mencoba" Memahami Cikeusik
Puluhan pesan masuk dalam inbox saya di Facebook. Pesan dari teman-teman saya
baik yang berasal dari Pandeglang maupun bukan, intinya berisikan rasa heran
mereka terhadap peristiwa Cikeusik yang menewaskan tiga orang dan melukai
beberapa lainnya.
Di milis "Wong Banten" diskusi berlangsung panas. Kebanyakan, mereka tak bisa
memahami mengapa di Banten, tempat yang pernah menjadi pusat peradaban Islam,
dimana kelenteng pernah didirikan di samping kerajaan Banten, rasa toleransi
itu tak bisa dipertahankan. "Tak ada alasan sekuat apa pun untuk membunuh hanya
karena beda keyakinan."kata Bonie Triana, sejarawan muda asal Rangkasbitung.
"Hanya Allah yang tahu, betapa malunya kami sebagai orang Pandeglang,"tambah
Asep Mulya, mantan Ketua KNPI Pangdeglang.
Terus terang saya juga tak paham, mengapa kebrutalan itu terjadi, justru di
Pandeglang, tempat yang selama ini selalu damai, tak pernah ada kerusuhan
berbau SARA. Saya lantas teringat sebuah tulisan berikut ini:
PULUHAN tahun sudah kami berpisah. Tiba-tiba dalam inbox Facebook-ku ada pesan
masuk, dari seorang sahabat yang sudah lama kami, sama-sama cari. "Masih
ingat?" Katanya. Tentu saja ingat. Dalam kenangan berkelebat seorang gadis
berkulit putih berambut ekor kuda. Erna Trisnawati, sahabat lama yang sempat
kehilangan kontak, telah kembali.
Meski berbeda keyakinan dengan kebanyakan anak-anak SMPN 1 Pandeglang lainnya.
Erna tak pernah canggung dalam bergaul. Kulitnya yang putih dan matanya yang
sipit, memang kontras dengan kami semua yang kebanyakan hitam. Namun toh, kami
tak merasa di berbeda. Belajar bersama, main bola, kasti, belajar agama
dilakukan bersama.
Pada saat peringatan Maulid Nabi di sekolah, seperti biasa setiap kelas membuat
tumpeng untuk dilombakan lalu dimakan bersama-sama. Di Rumah Erna lah kami
membuatnya, karena orangtuanya memiliki sebuah rumah makan terkenal.Saat masak
tumpeng, semua terlibat. Ibunya Erna, ikut sibuk dan gembira membantu kami,
anak-anaknya. Tentu saja hampir tiap tahun tumpeng buatan kami menang, karena
disupervisi oleh pakar kuliner ternama di Pandeglang.
Selain Erna, diantaranya teman kami juga ada Tan Han Guan, namanya memang
berbeda dengan teman-teman kami lainnya, sebut saja Ohid, Dadi,Dedi, Ucu,
Endang, Udin atau Ulis . Namun Tan Han Guan juga sama nakalnya dengan kami,
sesekali mengambil ayam tetangga untuk kami bakar ramai-rami di malam mingggu.
Saat libur Sabtu tiba, kami sama-sama naik ke Gunung Karang dan menginap disana.
Satu lagi, pria keturunan dan juga lerkat dalam pergaulan saya masa kecil. Kak
Rudi, putra pemilik Toko Liberty. Sejak kecil Kak Rudi belajar ngaji, dan ikut
puasa. Saat kami bertanding tenis meja ke luar kota, dan menginap di sebuah
hotel tiba-tiba terdengar azan, kami sangka azan itu berasal dari sebuah
mesjid. Namun ternyata bukan. Adalah Rudi, yang azan dari kamarnya. Suara
indahnya mengingatkan kami semua untuk segera shalat. Padahal waktu itu Rudi
masih beragama lain.
Tak perlu ada kata toleransi saat itu. Tak perlu petuah untuk bertenggang rasa,
harmoni itu berjalan sendiri tanpa kata-kata. Makanya tak heran, kerusuhan
rasial tak pernah ada di Pandeglang, karena tak ada yang merasa berbeda satu
sama lain.
Kenangan bersama Erna, Tan Han Guan, dan Kak Rudi membayang lagi saat ini. Di
tengah kecurigaan demi kecurigaan terjadi. Saya sangat prihatin mendengar akan
adanya razia wanita-wanita bercadar yang akan digelar oleh polisi di beberapa
daerah. Lelaki bersorban dan bergamis, ditangkap di Jawa Tengah ditanya apa
maksudnya berada di sebuah tempat. Labelisasi kelompok tertentu dengan isu
teror sungguh menyayat dan menyakitkan hati. Bagi mereka yang terbiasa melihat
perbedaan, stigma dan labelisasi terhadap yang berbeda ini sungguh sebuah teror
tersendiri.
Keluarga saya, istri saya, tidak atau belum menggunakan cadar. Saya juga tak
memelihara jenggot seperti yang disunahkan, karena memang rambut dibawah mulut
itu tak pernah bisa lebat. Namun labelisasi itu sungguh tak bisa masuk di akal
sehat.
Sungguh saya merindukan masa lalu, dimana harmoni itu terjadi tanpa kata-kata.
Dimana rasa curiga itu tak ada, dan semua bebas melakukan apa saja berdasarkan
keyakinannya tanpa kecurigaan, bahkan kalau perlu saling membantu dalam
kebaikan, seperti yang dilakukan Erna, sahabat baikku yang kutemukan kembali di
facebook, kemarin.
****
Lantas apa yang terjadi di Cikeusik, sebuah tempat yang jaraknya sekitar 200 KM
dari Jakarta?
Meski gemuruh pariwisata yang ditandai dengan pembangunan Kawasan Wisata
Tanjung Lesung dan Pulau Umang, penduduk setempat tak pernah menikmati manisnya
dunia pariwisata. Jangan bayangkan warga pesisir
Panimbang-Cikeusik-Cibaliung-Sumur seperti warga Jimbaran yang bisa menjual
hasil tangkapannya dengan harga mahal. Jangan bayangkan mereka menikmati
manisnya dunia pariwisata dengan konsep "Trickle-down effect" seperti yang ada
dalam buku teks ekonomi.
Gemerlapnya wisata hanya dinikmati oleh para investor dan penguasa yang
menikmati upeti. Sebagian besar anak-anak muda kawasan ini hanya jadi penonton,
karena mereka tak pernah menyiapkan diri atau tak pernah dipersiapkan untuk itu
menikmati manisnya investasi di bidang ini. Jalan mulus dengan aspal hot mix
pun hanya sebentar mereka nikmati.Sebagian besar waktu selama berpuluh tahun,
mereka harus lalui dengan berkubang lumpur.
Pengentasan kemiskinan dan keterbelakangan hanya jadi isu jelang Pemilu atau
Pemilukada. Dengan modal uang, para politisi atau calon kepala daerah
mengekspoitasi penduduk daerah daerah ini dengan iming iming uang. Bagi para
pemilik uang, kemiskinan dan keterbelakangan daerah ini, justru menjadi
keuntungan, karana bisa membeli suara dengan harga murah.
Jelang Pilkada Banten, semua calon mestinya bisa melirik daerah ini, karena
dengan harga yang relatif murah, mereka bisa merebut banyak suara, dengan cost
per vote yang jauh lebih murah dibandingkan dengan merebut suara di kawasan
Bintaro misalnya. Karena nilai suara penduduk Bintaro, sama saja dengan nilai
suara warga Cikeusik.
Lintasan Panimbang-Cikeusik, Cibaliung-Sumur, meski berada di kawasan pedalaman
Banten, termasuk daerah yang ramai didatangi pendatang. Komposisi penduduknya
pun beragam. Tak semua orang Pandeglang asli, ada yang datang dari Cirebon,
Serang hingga daerah daerah lain.
Dalam kondisi terbuka seperti itu, berbagai budaya masuk. Sejauh ini penduduk
setempat cukup terbuka melihat keberagaman itu.
Namun rupanya, keberagaman itu hanya berlaku pada aspek budaya atau bahasa
saja. Rasa toleransi itu hanya berlaku pada umat yang berbeda keyakinan. Itu
juga terbatas pada hubungan antar manusia, dan tak berlaku dalam ritual.
Itulah yang menjelaskan mengapa hingga kini tak pernah ada gereja berdiri di
Pandeglang. Jangankan gereja, bioskop saja tak pernah ada, sehingga waktu kami
kecil untuk menonton film kami harus pergi ke Serang atau Rangkasbitung.
Sebuah anekdot sering dilontarkan menanggapi kondisi ini. Seorang kyai ditanya
soal komposisi penduduk Pandeglang,"Alhamdulillah, warga Pandeglang mah 90
persen Islam,". "Yang lainnya kyai?". "Yang sepuluh persennya, muhamadiyah,"
........
Karena itu, reformasi dua belas tahun lalu, tak mampu merubah kawasan ini.
Tokoh reformasi Amien Rais yang mencoba peruntungan dalam Pemilu 1999,jeblok di
kawasan Pandeglang. Dalam dua pemilu ini, PAN tak mampu menempatkan satu wakil
pun di DPRD Banten dan Pusat dari daerah pemilihan Pandeglang.
Untuk menggemboskan Amien dan PAN misalnya, cukup menyebutkan bahwa kalau Amien
yang menang, tak ada lagi tahlilan di daerah ini.
Warga sekitar Cikeusik ataupun yang kemudian dimobilisasi ke Cikeusik, sangat
marah ketika tahu ada ahmadiyah di daerah ini. Penduduk kawasan ini, mungkin
tak semuanya patuh dan menjalankan semua perintah dan menjauhi larangannya,
namun mereka bisa sangat marah ketika seorang ustad atau kyai menyebut,
kelompok ini telah menodai agamanya.
Seandainya Ahmadiyah tak menyebut dirinya Islam,namun seandainya mereka juga
tak menyelenggarakan jumatan yang tempatnya berbeda dengan warga lainnya,
mereka tentu akan diterima.
Bagi sebagian warga-- meski mungkin mereka juga tak sepenuhnya menjalankan
syariat-- keyakinan jemaat Ahmadiyah masih ada Nabi sesudah Nabi Muhammad
shallallahu 'alaihi wasallam yang bernama Mirza Ghulam Ahmad dari India, itu
adalah penghinaan yang tak terperi.
Kemarahan itu jauh melampaui rasio dan pemahaman, bahwa Allah tak pernah
mengijinkan hambanya, menyakiti hambanya yang lain.
Lepas dari persoalan itu, seharusnya kematian 3 warga Ahmadiyah juga tak perlu
terjadi jika polisi cepat tanggap dan memiliki sistem intelijen yang bagus.
Ketika Suparman, dimintai keterangan lalu dipindahkan dari Polsek Cikeusik ke
Polres Pandeglang, seharusnya polisi menempatkan intelejen di kawasan ini
sehingga mendekatis adanya pergeseran umat Ahmadiyah ke tempat ini, bahkan
mengantisipasi datangnya ribuan orang yang akan datang menghabisi warga
Ahmadiyah, karena ribuan orang yang datang ke tempat ini, tentu bukan orang
Cikeusik.
Ironisnya, Kapolri Jenderal Timur Pradopo mengakui pihaknya tidak mengetahui
adanya pergerakan massa yang menyebabkan insiden penyerangan jamaah Ahmadiyah
di Cikeusik, Pandeglang, Banten. Lemahnya intelijen kepolisian tersebut dinilai
sebagai sumber utama terjadinya insiden tersebut.
Ahmadiyah memang salah memilih tempat berlabuh di Pandeglang, warga yang
menyerang juga salah, polisi juga begitu.
Jatuhnya korban memang menyedihkan, dan memalukan karena mereka meninggal
ditangan saudaranya yang sama-sama meneriakkan Allahu Akbar. Terakhir, saya
sepakat dengan Bonie. "Tak ada alasan sekuat apa pun untuk membunuh hanya
karena beda keyakinan."
------------------------------------
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/kisunda/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/kisunda/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
[email protected]
[email protected]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[email protected]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/