Ditemukan Senjata Api di Rumah Pimpinan Ahmadiyah

PANDEGLANG, KOMPAS.com — Kepolisian Daerah Banten menemukan senjata api
rakitan di rumah Suparman sebagai pimpinan Ahmadiyah di Desa Umbulan,
Kecamatan Cikeusik, Kabupaten Pandeglang.

Kepala Bagian Hubungan Masyarakat Kepolisian Daerah Banten Ajun Komisaris
Besar Gunawan, Selasa kemarin, menyebutkan, petugas menyisir ke berbagai
tempat di sekitar lingkungan rumah milik Suparman dan ditemukan sebuah
senjata rakitan dan puluhan tombak. Rumah Suparman dijadikan sebagai lokasi
bentrokan jemaah Ahmadiyah dan warga yang terjadi Minggu (6/2/2011) hingga
menimbulkan korban jiwa.

Menurut dia, senjata api rakitan dan puluhan tombak tersebut kemungkinan
belum digunakan untuk melakukan aksi perlawanan massa. Mereka dipastikan
terlebih dulu diserang massa sehingga tidak dapat menggunakan senjata itu
untuk melakukan perlawanan.

Saat ini, kata dia, senjata api rakitan dan tombak yang ditemukan di rumah
Suparman diamankan petugas. "Saya menduga senjata itu sudah disiapkan untuk
melakukan perlawanan terhadap massa," ujarnya.

Dia mengatakan, pihaknya terus akan melakukan pemeriksaan di seluruh isi
rumah Suparman yang dihancurkan massa karena khawatir banyak senjata rakitan
tersebut. Selama ini, ujar Gunawan, kondisi rumah banyak puing berserakan
sehingga menyulitkan untuk menemukan senjata yang bisa mematikan jika
melukai orang. "Kami hanya baru menemukan sebuah senjata api rakitan dan
puluhan tombak saja dan dipastikan banyak senjata tajam," katanya.

Sementara itu, Kepala Desa Umbulan, Kecamatan Cikeusik, Johari, mengaku
pihaknya menemukan puluhan tombak, golok, dan satu karung batu di dalam
mobil Inova milik jemaah Ahmadiyah. "Saya yakin mereka sudah merencanakan
untuk melakukan perlawanan dalam insiden Minggu pagi," katanya


2011/2/8 Waluya <[email protected]>

> > From: <[email protected]>
> > Kang Jalal—demikian sapaan akrabnya—fasih mengulas hal ini. Maklum saja,
> > dia punya pengalaman bergumul dengan
> > persoalan hubungan antaragama, mengkaji berbagai pemikiran keagamaan,
> > berjumpa banyak tokoh dunia, serta menulis
> > sejumlah buku. Dia juga aktif mengajar di kampus dan mengentalkan gagasan
> > pluralisme lewat sejumlah lembaga
> > keagamaan.
>
>
> Ironisna, waktu artikel ieu medal dina Kompas poe Minggu kamari,  aya
> kajadian 3 urang perlaya jeung 5 urang tatu parna di Cikeusik Pandeglang ku
> kaributan masalah agama. Kaributan ieu siga nu "diteruskeun" di Temanggung
> Jawa tengah poe ayeuna pisan. Sigana usaha-usaha nu dijalankeun ku Kang
> Jalal teh, jauh keneh tepi kana tujuanana .....
>
>
> WALUYA
>
>
>
>
>
> ------------------------------------
>
> Yahoo! Groups Links
>
>
>
>

Kirim email ke