2011/2/8 <[email protected]> > Ieu aya artikel ngenaan kang Jalal (Pupuhu Syiah di Indonesia) > > ----------------------------------------- > Jalaluddin Rakhmat > Menuju Agama Madani > JALALUDDIN RAKHMAT > > > Hingga kini Indonesia masih saja tak lepas dari konflik antarumat beragama. > Agama, yang semestinya bersemangat pembebasan dan menebarkan kedamaian bagi > sesama manusia, ternyata justru kerap memicu pertentangan, bahkan mengusik > keutuhan bangsa yang majemuk ini. Bagaimana jalan keluarnya? >
> Kita perlu mengembangkan pemahaman agama madani. Ini bukan agama baru, > melainkan > pemahaman yang mengambil nilai-nilai universal dalam setiap agama dan > berkonsentrasi memberikan sumbangan bagi kemanusiaan dan peradaban,” kata > Jalaluddin Rakhmat (62), cendekiawan Muslim asal Bandung. > > > ”Pemahaman agama madani paling cocok untuk dikembangkan dalam kehidupan > modern dan demokratis, seperti di Indonesia sekarang ini,” katanya ketika > ditemui setelah memberikan ceramah keagamaan di Paramadina, Pondok Indah, > Jakarta Selatan, pertengahan Januari lalu. > > Berangkat dari tafsir atas pemikiran itu, Kang Jalal mengusung wacana agama > madani dan memetakan fenomena pemahaman keislaman di Indonesia. Bagi dia, > ada tiga jenis pemahaman Islam: Islam fiqhiy, Islam siyasiy, dan Islam > madani. Islam madani merupakan pencapaian akhir dari dua tahapan pemikiran > sebelumnya. > > Islam fiqhiy memusatkan perhatian pada ajaran fikh yang dipraktikkan > sehari-hari. Islam menjadi sangat ritual. Kesalehan diukur dari ritual. > Pemahaman ini umumnya hanya memandang kelompoknya yang benar dan orang lain > salah. ”Islamnya itu rahmatan limutamadzhibin atau rahmat bagi mazhabnya > saja,” katanya. > > Setelah itu berkembang Islam siyasiy atau Islam politik. Menjadikan Islam > sebagai kegiatan politik, pemahaman ini memusat pada perjuangan untuk > merebut kekuasaan lewat konsep negara Islam, menegakkan syariat Islam, atau > mendirikan khilafah. Keselamatan bukan untuk sekelompok Islam, tetapi untuk > seluruh umat Islam, rahmatan lilmuslimin. > > Bagi Islam fikhiy, kaum Muslimin mundur karena dianggap meninggalkan Al > Quran dan Sunah. Untuk maju, kita mesti kembali berpedoman kepada dua sumber > itu. Mereka meyakini bahwa zaman para Nabi dan sahabatnya adalah zaman > paling ideal. > > Islam politik melihat kemunduran umat Islam akibat dominasi dan konspirasi > Barat yang menghancurkan Islam. Mereka mengajak kita kembali merujuk zaman > Islam menguasai seluruh dunia, yaitu masa khilafah Ustmaniyah. Itu dianggap > zaman ideal yang harus diperjuangkan lagi. > > Kedua pemikiran itu mengantarkan kita pada Islam madani. Semua agama bisa > bertemu, dengan mengkaji apa yang bisa kita sumbangkan bagi kemanusiaan dan > peradaban. Ada usaha untuk mengambil nilai-nilai universal dalam setiap > agama. > > Wacana Islam madani berpusat pada kasih sayang kepada sesama manusia > sehingga Islam menjadi rahmat bagi semua orang, rahmatan lil’alamin. > Kesalehan diukur dari kadar cinta seseorang kepada sesama. Setiap pemeluk > agama bisa memberikan makna dalam kehidupannya dengan berkhidmat pada > kemanusiaan. > > Jika Islam fiqhiy itu berkutat pada urusan fikh dan Islam siyasiy pada > politik, Islam madani berpusat pada karakter, akhlak. Tujuannya untuk > membangun akhlak yang baik pada sesama manusia dalam kehidupan yang majemuk. > > Namun, Islam madani juga berkembang. Secara umum masyarakat sudah bertambah > pluralis. Keterbukaan lewat internet membuat orang mudah memahami kelompok > lain. Itu pengantar efektif untuk mendorong orang menjadi pluralis dalam > kehidupan global. > > ”Ketiga jenis Islam itu bertarung dalam wacana, tapi kadang memercik dalam > tindakan kerusuhan. Itu terjadi jika dibakar oleh kelompok kepentingan > tertentu,” katanya. > > Kang Jalal menilai agama madani sangat pas dikembangkan di Indonesia. > Pemahaman ini bisa menyatukan bangsa yang sudah lama tercabik-cabik oleh > paham keagamaan. ”Kita bisa tingkatkan toleransi itu dari saling > menghakimi, menjadi memahami, dan kemudian saling mengalami. Pada tingkat > paling tinggi, kita menikmati kehadiran orang lain dalam kehidupan,” katanya > . > > Bagaimana pemerintah berperan mengembangkan pluralisme? ”Buat kita, itu > anjuran. Buat pemerintah, itu keharusan,” katanya. > > Secara moral, pemerintah wajib melindungi kelompok minoritas dengan memberi > hak dan peluang yang sama. Pemerintah mestinya bersikap tegas dalam > melindungi kelompok-kelompok minoritas. > Pluralisme juga bisa dikembangkan lewat sistem pendidikan. Akhlak atau > karakter yang baik, seperti penghargaan kepada orang lain atau sikap empati > terhadap sesama, bisa ditanamkan lewat program-program pelatihan di sekolah. > Pendidikan paling layak disebut pendidikan karena mengajarkan karakter. > > Menurut Jalal, secara keseluruhan negara memang masih lemah. ”State sudah > menetapkan sesuatu, katakanlah undang-undang yang melindungi kebebasan > beragama, tapi tak jalan di lapangan. Menurut UUD 1945, tak boleh ada satu > kelompok agama diserang hanya karena beda mazhab. Tapi, penyerangan itu > terjadi,” ujarnya. > Negara lemah karena hukum kita lemah. Hukum lemah karena politik Indonesia > itu ditentukan hubungan dan kepentingan kelompok. Pemerintah, kata Kang > Jalal, lebih mempertimbangkan kepentingan politik, bukan lagi undang-undang > yang membela hak asasi manusia. > * * * > Diambil dari Kompas, 8 Ferbruari 2011 > > Edisi onlinenya > http://cetak.kompas.com/read/2011/02/06/04310528/menuju.agama.madani > Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung > Teruuusss...! > > ------------------------------------ > > Yahoo! Groups Links > > > >
