he3...

--- In [email protected], "Roza R. Mintaredja" <roza.kalasunda@...> wrote:
>
> enya,
> mun bisa mah nyieun islam 'syariat nusantara' anu mirip NU, geura.
> 'madani' pan ayana di madinah, di urang mah 'madhapi' we atuh
> dijamin mendunia
> cape oge tah ka anu pabuis dina kayakinan sacara ekstrim
> ceuk uin mah sakabeh agama nu aya didunya, ngagem kamanusaan
> karunya,
> eta gusti, jadina  dikapling-kapling ku 'agama' sadunya
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 2011/2/8 <limbad0702@...>
> 
> > Ieu aya artikel ngenaan kang Jalal (Pupuhu Syiah di Indonesia)
> >
> > -----------------------------------------
> > Jalaluddin Rakhmat
> > Menuju Agama Madani
> > JALALUDDIN RAKHMAT
> >
> >
> > Hingga kini Indonesia masih saja tak lepas dari konflik antarumat beragama.
> > Agama, yang semestinya bersemangat pembebasan dan menebarkan kedamaian bagi
> > sesama manusia, ternyata justru kerap memicu pertentangan, bahkan mengusik
> > keutuhan bangsa yang majemuk ini. Bagaimana jalan keluarnya?
> > Kita perlu mengembangkan pemahaman agama madani. Ini bukan agama baru,
> > melainkan pemahaman yang mengambil nilai-nilai universal dalam setiap agama
> > dan berkonsentrasi memberikan sumbangan bagi kemanusiaan dan peradaban,"
> > kata Jalaluddin Rakhmat (62), cendekiawan Muslim asal Bandung.
> > Kang Jalal—demikian sapaan akrabnya—fasih mengulas hal ini. Maklum saja,
> > dia punya pengalaman bergumul dengan persoalan hubungan antaragama, mengkaji
> > berbagai pemikiran keagamaan, berjumpa banyak tokoh dunia, serta menulis
> > sejumlah buku. Dia juga aktif mengajar di kampus dan mengentalkan gagasan
> > pluralisme lewat sejumlah lembaga keagamaan.
> >
> > "Pemahaman agama madani paling cocok untuk dikembangkan dalam kehidupan
> > modern dan demokratis, seperti di Indonesia sekarang ini," katanya ketika
> > ditemui setelah memberikan ceramah keagamaan di Paramadina, Pondok Indah,
> > Jakarta Selatan, pertengahan Januari lalu.
> > Bagaimana persisnya pemahaman agama madani itu? Kang Jalal mengutip filsuf
> > kelahiran Swiss, Jean Jacques Rousseau, yang hidup pada zaman Revolusi
> > Perancis (abad ke-18 Masehi). Ketika menceritakan gagasan kontrak sosial,
> > Rousseau menyebut la religion civile (agama civil), sebagai pemahaman yang
> > paling cocok bagi kehidupan modern. Ini pengembangan dari dua tipe
> > sebelumnya, yaitu agama yang menyatukan kebangsaan serta agama
> > institusional—sebagaimana dianut banyak orang sekarang.
> >
> > Berangkat dari tafsir atas pemikiran itu, Kang Jalal mengusung wacana agama
> > madani dan memetakan fenomena pemahaman keislaman di Indonesia. Bagi dia,
> > ada tiga jenis pemahaman Islam: Islam fiqhiy, Islam siyasiy, dan Islam
> > madani. Islam madani merupakan pencapaian akhir dari dua tahapan pemikiran
> > sebelumnya.
> > Islam fiqhiy memusatkan perhatian pada ajaran fikh yang dipraktikkan
> > sehari-hari. Islam menjadi sangat ritual. Kesalehan diukur dari ritual.
> > Pemahaman ini umumnya hanya memandang kelompoknya yang benar dan orang lain
> > salah. "Islamnya itu rahmatan limutamadzhibin atau rahmat bagi mazhabnya
> > saja," katanya.
> > Setelah itu berkembang Islam siyasiy atau Islam politik. Menjadikan Islam
> > sebagai kegiatan politik, pemahaman ini memusat pada perjuangan untuk
> > merebut kekuasaan lewat konsep negara Islam, menegakkan syariat Islam, atau
> > mendirikan khilafah. Keselamatan bukan untuk sekelompok Islam, tetapi untuk
> > seluruh umat Islam, rahmatan lilmuslimin.
> > Bagi Islam fikhiy, kaum Muslimin mundur karena dianggap meninggalkan Al
> > Quran dan Sunah. Untuk maju, kita mesti kembali berpedoman kepada dua sumber
> > itu. Mereka meyakini bahwa zaman para Nabi dan sahabatnya adalah zaman
> > paling ideal.
> > Islam politik melihat kemunduran umat Islam akibat dominasi dan konspirasi
> > Barat yang menghancurkan Islam. Mereka mengajak kita kembali merujuk zaman
> > Islam menguasai seluruh dunia, yaitu masa khilafah Ustmaniyah. Itu dianggap
> > zaman ideal yang harus diperjuangkan lagi.
> > Kedua pemikiran itu mengantarkan kita pada Islam madani. Semua agama bisa
> > bertemu, dengan mengkaji apa yang bisa kita sumbangkan bagi kemanusiaan dan
> > peradaban. Ada usaha untuk mengambil nilai-nilai universal dalam setiap
> > agama.
> >
> > Wacana Islam madani berpusat pada kasih sayang kepada sesama manusia
> > sehingga Islam menjadi rahmat bagi semua orang, rahmatan lil'alamin.
> > Kesalehan diukur dari kadar cinta seseorang kepada sesama. Setiap pemeluk
> > agama bisa memberikan makna dalam kehidupannya dengan berkhidmat pada
> > kemanusiaan.
> > Jika Islam fiqhiy itu berkutat pada urusan fikh dan Islam siyasiy pada
> > politik, Islam madani berpusat pada karakter, akhlak. Tujuannya untuk
> > membangun akhlak yang baik pada sesama manusia dalam kehidupan yang majemuk.
> > Perjalanan pribadi
> > Ketiga pemahaman itu dialami Kang Jalal dalam perjalanan hidupnya. Dia
> > besar dalam keluarga Nahdlatul Ulama (NU) di Cicalengka, Kabupaten Bandung,
> > Jawa Barat. Saat kecil dia ditinggalkan ayahnya pergi ke Sumatera untuk
> > perjuangan Islam. Ayahnya aktif dalam Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII)
> > yang bercorak Islam politik.
> >
> > Jalal melanjutkan sekolah di Kota Bandung. Dia berkenalan dengan paham
> > PERSIS (Persatuan Islam) yang menurutnya sangat fikhiyah, dan kemudian
> > menjadi kader Muhammadiyah. "Saya pernah berusaha mengubah masjid NU di
> > kampung menjadi masjid Muhammadiyah. Caranya, dengan menyingkirkan beduk.
> > Ketika mau shalat Jumat, jemaah masjid itu kehilangan beduknya," katanya
> > mengenang.
> > Jalal muda lantas bersentuhan dengan kelompok-kelompok yang dulu bergabung
> > dengan Masyumi yang kental warna politiknya. Dari berbagai pelatihan, tumbuh
> > keinginan untuk melanjutkan perjuangan ayah mendirikan sistem politik Islam.
> > Ketika melanjutkan studi S-2 ke Iowa State University, Amerika Serikat,
> > tahun 1980, dia juga terpengaruh gagasan Ikhwanul Muslimin.
> > Pulang ke Tanah Air, Jalal menerbitkan buku-buku dari Ikhwanul Muslimin,
> > seperti karya Hasan Al-Banna, tokoh garis keras dari Mesir. Hingga tahun
> > 1990-an dia aktif memperjuangkan syariat Islam, terutama lewat pelatihan di
> > kampus-kampus. "Saya termasuk penentang asas tunggal Pancasila karena
> > merupakan produk sekuler," katanya.
> >
> > Dia pernah berdebat dengan Nurcholish Madjid (almarhum) di ITB. Cak Nur
> > mewakili cendekiawan sekuler propemerintah, sementara Jalal dikelompokkan
> > sebagai fundamentalis antipemerintah. "Saya sempat dipanggil Bakorstanasda,
> > bagian dari Pangkopkamtib, dan diberhentikan sebagai dosen oleh Dekan
> > Universitas Padjadjaran," katanya.
> > Pemahaman keagamaan Kang Jalal bergeser secara perlahan, terutama setelah
> > diundang Cak Nur untuk ikut mengisi acara-acara kajian di Paramadina tahun
> > 1990-an. Dia juga banyak berdiskusi dengan kelompok Islam modernis, seperti
> > Alwi Shihab, Gus Dur, dan Dawam Rahardjo.
> > Di luar itu, saat mengikuti konferensi internasional di Kolombo, dia
> > bertemu dengan sejumlah ulama Syiah yang membawa perspektif Islam lain yang
> > masuk akal dan sangat pluralistik. Pulang ke Indonesia, dia bawa buku-buku
> > Syiah dan menerbitkannya lewat Mizan.
> >
> > Salah satunya, buku-buku Ali Syariati yang menempatkan ideologi Islam bukan
> > untuk menegakkan syariat, melainkan untuk menentang kezaliman, penindasan.
> > Pemikir Syiah lain, Murtadha Muthtahhari, punya pandangan pluralis. Bagi
> > dia, Tuhan adil sehingga pasti memberi pahala bagi siapa pun yang berbuat
> > baik, apa pun agamanya. Hukuman diberikan kepada yang berbuat jahat, apa pun
> > agamanya.
> >
> > "Apakah menolong orang menjadi amal saleh karena pelakunya Muslim, dan
> > menjadi amal salah karena pelakunya orang bukan Islam? Amal itu baik pada
> > dirinya. Semua itu menggugah saya," katanya.
> > Kang Jalal akhirnya menjadi cendekiawan Muslim yang mengembangkan gagasan
> > Islam madani yang pluralis. Bagi dia, semua kelompok agama itu selamat, dan
> > kelebihannya ditentukan oleh amal saleh dan kontribusinya terhadap
> > kemanusiaan.
> >
> > Belakangan, dia juga suntuk menekuni tasawuf, jenis keislaman yang dasarnya
> > cinta. Dengan cinta, setiap agama bisa bertemu dan berbicara pada bahasa
> > yang sama, memasuki kebun yang sama, baik itu Islam, Buddha, Kristen,
> > Katolik, maupun Hindu.
> >
> > Indonesia
> >
> > Ketiga pemahaman Islam tadi tumbuh di Indonesia. Islam siyasiy tampak
> > bangkit lagi lewat partai-partai politik Islam serta dalam kelompok
> > keagamaan di kampus-kampus umum. Islam fiqhiy juga masih ada meski mulai
> > berkurang. Beberapa organisasi masih bertahan dengan Islam fikh.
> > Namun, Islam madani juga berkembang. Secara umum masyarakat sudah bertambah
> > pluralis. Keterbukaan lewat internet membuat orang mudah memahami kelompok
> > lain. Itu pengantar efektif untuk mendorong orang menjadi pluralis dalam
> > kehidupan global.
> >
> > "Ketiga jenis Islam itu bertarung dalam wacana, tapi kadang memercik dalam
> > tindakan kerusuhan. Itu terjadi jika dibakar oleh kelompok kepentingan
> > tertentu," katanya.
> > Kang Jalal menilai agama madani sangat pas dikembangkan di Indonesia.
> > Pemahaman ini bisa menyatukan bangsa yang sudah lama tercabik-cabik oleh
> > paham keagamaan. "Kita bisa tingkatkan toleransi itu dari saling menghakimi,
> > menjadi memahami, dan kemudian saling mengalami. Pada tingkat paling tinggi,
> > kita menikmati kehadiran orang lain dalam kehidupan," katanya.
> >
> > Bagaimana pemerintah berperan mengembangkan pluralisme? "Buat kita, itu
> > anjuran. Buat pemerintah, itu keharusan," katanya.
> >
> > Secara moral, pemerintah wajib melindungi kelompok minoritas dengan memberi
> > hak dan peluang yang sama. Pemerintah mestinya bersikap tegas dalam
> > melindungi kelompok-kelompok minoritas.
> > Pluralisme juga bisa dikembangkan lewat sistem pendidikan. Akhlak atau
> > karakter yang baik, seperti penghargaan kepada orang lain atau sikap empati
> > terhadap sesama, bisa ditanamkan lewat program-program pelatihan di sekolah.
> > Pendidikan paling layak disebut pendidikan karena mengajarkan karakter.
> >
> > Menurut Jalal, secara keseluruhan negara memang masih lemah. "State sudah
> > menetapkan sesuatu, katakanlah undang-undang yang melindungi kebebasan
> > beragama, tapi tak jalan di lapangan. Menurut UUD 1945, tak boleh ada satu
> > kelompok agama diserang hanya karena beda mazhab. Tapi, penyerangan itu
> > terjadi," ujarnya.
> > Negara lemah karena hukum kita lemah. Hukum lemah karena politik Indonesia
> > itu ditentukan hubungan dan kepentingan kelompok. Pemerintah, kata Kang
> > Jalal, lebih mempertimbangkan kepentingan politik, bukan lagi undang-undang
> > yang membela hak asasi manusia.
> > * * *
> > Diambil dari Kompas, 8 Ferbruari 2011
> >
> > Edisi onlinenya
> > http://cetak.kompas.com/read/2011/02/06/04310528/menuju.agama.madani
> > Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung
> > Teruuusss...!
> >
> > ------------------------------------
> >
> > Yahoo! Groups Links
> >
> >
> >
> >
>




------------------------------------

Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kisunda/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kisunda/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke