TATALI PARANTI KARUHUN:
Invensi Tradisi
Komunitas Kasepuhan Gunung Halimun
Di Sukabumi , Jawa
Barat
(Ringkasan Disertasi
Jajang Gunawijaya, promosi doktor Antropologi FISIP UI 27 April 2011)
Bereda dengan komunitas Sunda pada umumnya, Komunitas Gunung
Halimun hingga saat ini masih mempraktikan berbagai bentuk tradisi leluhur
dalam kehidupan sehari-hari meskipun sangat terbuka terhadap dunia luar yang
penuh dinamika dan perubahan. Masyarakat
Sunda lainnya menjalani tradisi leluhur hanya dalam tataran seremonial atau
simbolis, sedangkan dalam kehidupan sehari-hari mereka berperilaku seperti
umumnya masyarakat modern. Komunitas Sunda tertentu mempraktikan tradisi leluhur
dalam kehidupan sehari-hari, tetapi menutup diri terhadap perkembangan yang
berasal dari dunia luar seperti yang terjadi pada masyarakat Baduy.(Ekadjati,
2005: 51-61; Permana, 2006: 26-27)
Warga komunitas tersebut meyakini bahwa nenek moyang mereka
berasal dari Kerajaan Pajajaran, Abah Anom dan para penggantinya dipercaya
sebagai orang yang selalu mendapat wangsit untuk memimpin dan memellihara adat
kebiasaan nenek moyang mereka yang disebut tatali
paranti karuhun. Ia dan pengganti-penggantinya diyakini sebagai keturunan
Raja Pajajaran yang memiliki sejumlah karuhun (nenek moyang yang hidup secara
gaib) yang selalu melindungi, mendampingi,
dan memberikan petunjuk kepadanya berupa wangsit-wangsit atau kekuatan
supranatural lainnya.
Dengan kemampuan yang dimilikinya, Abah Anom dapat
menyelenggarakan salah satu praktik sosial penting berupa pertujukkan kesenian
Sunda setiap tanggal 14 penanggalan Sunda bertepatan dengan munculnya bulan
purnama, pertunjukkan ini disebut opat
belasan yang terus berlanjut hingga kini. Setiap tanggal tersebut
ditampilkan berbagai bentuk kesenian tradisional Sunda mulai dari wayang golek,
jipeng, dan jaipongan secara bersamaan di Pelataran Imah Gede atau alun-alun
Kesepuhan Ciptagelar. Bentuk-bentuk
kesenian tersebut saat ini sukar ditemukan di daerah lain dalam wilayah
Provinsi Jawa Barat. Atas prakarsa Abah Anom, kesenian topeng dan jipeng (tanji
dan topeng) dikombinasikan lagi dengan kesenian dangdut yang menggunakan
instrumen
modern hingga muncul kesenian baru yang disebut pengdut atau jipengdut yang
berarti topeng dangdut atau tanji topeng didangdutkan. Dengan demikian
setiap tahun perkampungan yang terletak di kawasan hutan belantara, di daerah
pegunungan dengan ketinggian 1200 hingga 1500 m dari permukaan laut sangat
marak dengan hingar bingar suara tetabuhan
dan kerumunan manusia hingga larut malam.
Atas prakarsa salah seorang putra Abah Anom didirikanlah
stasiun radio AM lokal yang dipancarkan ke seluruh wilayah Gunung Halimun.
Sejak tahun 2008, Abah Anom berhasil mendirikan pemancar televisi lokal yang
disebut Televisi Ciptagelar yang radius jangkauannya 2,5 hingga 10 km, yang
dapat dinikmati oleh sebagian penduduk. Untuk memenuhi kebutuhan energi listrik
yang hingga kini belum dapat dilayani oleh PLN, Abah Anom menghimpun berbagai
bantuan untuk membangun pembangkit listrik tenaga air secara mandiri.
Gambaran mengenai masyarakat Gunung Halimun yang disatu pihak
masih menjalankan tradisi dan di pihak lain sangat akrab dengan perkembangan
teknologi, menimbulkan pertanyaan apakah tradisi yang selama ini mereka
jalankan merupakan tradisi yang betul-betul asli dari nenek moyang, ataukah
merupakan tradisi yang memang dikreasikan oleh kelompok tertentu di dalam
komunitas
itu. Pertanyaan ini mendorong saya untuk lebih jauh mempelajari tradisi seperti
yang telah dilakukan para ahli lain. Literatur yang membuka jalan untuk
mengkaji tradisi secara lebih jauh adalah yang ditulis oleh Sahab (2004)
tentang rekacipta tradisi
masyarakat Betawi yang menyebabkan bangkitnya kesadaran identitas etnik
kelompoknya. Dari bukunya itu, saya menemukan Hobsbawm (1992) yang mengkaji
tradisi pada masyarakat Eropa yang
berkaitan dengan pemantapan kesadaran keagungan dan hegemoni suatu bangsa,
pemantapan paham demokratisasi, dan pengukuhan
kekuasaan kelompok elit atas kelompok lainnya.
Oleh karena belum merasa puas mempelajari kedua literatur itu,
maka saya mencari sumber lain, hingga menemukan Annadine (1992) , mengkaji
makna seremonial Kerajaan Inggris, dalam
konteks sejarah masa lalu dan perkembangannya hingga paruh akhir abad 20.
Lalu, Trevor-Rover (1992: 15-41) mengkaji pakaian tradisional dataran tinggi
Skotlandia yang
dulunya dianggap aneh, ‘kampungan’, kurang beradab dan lain-lain, hingga
menjadi pakaian kebanggaan kelompok etniknya. Antropolog Sylvia Rodriguez
(1997: 33-37) mengkaji pesta Taos di Meksiko yang
menjadi pesta kebanggaan kelompok Indian keturunan Spanyol di Meksiko. Kemudian
Robert Cancel (2006: 12-25) mengkaji
Festival Mutomboko di Afrika yang digerakkan oleh pemimpin tradisionalLunda
ditengah-tengah kedaulatan
Republik Zambia; dan Terence Ranger (1992: 211-261) menulis tentang berbagai
tradisi bangsa Eropa pada koloni Negara-negara Eropa di Benua Afrika yang
menjadi symbol status bagi bangsa kulit putih yang tinggal di daerah
koloni-koloni tersebut.
Kajian-kajian para ahli tersebut bukanlah kajian terhadap
tradisi yang betul-betul lama atau kuno, tetapi merupakan kajian terhadap
tradisi baru yang digerakkan atau diselenggarakan oleh sekelompok inisiator
untuk tujuan-tujuan tertentu. Proses pembentukan tradisi baru itu jelas dan
tegas, yaitu tradisi lama atau produk tradisi lama yang oleh sekelompok
inisiator diperbaharui atau dibuat kreasi baru dan dibungkus dengan
symbol-simbol
lama hingga diterima oleh warga masyarakatnya dan dipraktikan dalam kehidupan
sehari-hari.
………………………………………………………………………………………………………………………………………………
Berbagai aktivitas sosial yang sengaja diciptakan kembali
oleh Hobsbawm (1992: 1) disebut invention
of tradition, yaitu seperangkat praktik-praktik yang berlangsung wajar,
sesuai dengan aturan-aturan atau norma-norma yang berlaku umum, melalui
pembentukan dan penanaman nilai-nilai, norma-norma dalam perilaku tertentu yang
berlangsung memalui pengulangan-pengulangan yang berhubungan dengan sejarah
masa lalu. Proses invention of tradition adalah suatu proses formalisasi dan
ritualisasi yang karakteristiknya merujuk
pada masa lalu ang terjadi dan dilakukan secara berulang-ulang (repetisi).
Proses ini berlangsung secara kontinyu dan berkembang secara luas. Invention of
tradition juga merespon
situasi yang baru meskipun dibawa dari referensi situasi lama melalui proses
pengulangan-pengulangan tersebut (hobsbawm: 2). Tradisi tersebut dibentuk atau
dikonstruksi oleh seorang inisiator.
Saya menerjemahkan invention
of tradition sebagai invensi tradisi yaitu sesuatu yang baru yang memang
diciptakan oleh tokoh-tokoh atau suatu kelompok sosial untuk berbagai tujuan.
Bentuk-bentuk invensi tradisi ini diterima oleh warga masyarakat karena dikemas
dengan mempertahankan symbol-simbol tradisi yang berkaitan dengan sejarah masa
lampau. Invensi tradisi ini selain diterima secara mulus oleh warga masyarakat
pendukungnya, juga dipraktikan secara terus menerus dalam bentuk aktivitas
social
sehingga menjadi semacam ritualisasi yang berlangsung wajar dan menghasilkan
efek yang beragam, seperti yang diungkapkan oleh para ahli di bawah ini.
Hobsbawm (1992: 270-271) mengemukakan, pada akhir abad XIX
dan awal abad XX di Eropa Barat terjadi proses demokratisasi yang digerakkan
oleh elit-elit politik dengan cara mengerahkan dan memobilisasi dukungan massa
untuk mendobrak dominasi atau kekuasaan monarki. Invensi tradisi yang dilakukan
mereka untuk mencapai tujuan tersebut di antaranya adalah:
(1) Membangun semacam institusi sekuler
yang sejajar dengan institusi lain yang telah ada yang mengilhami isi dan
prinsip-prinsip revolusioner dan semangat republik, yang dijalankan oleh
organisasi sekuler setara dengan kepasturan atau biarawan. Institusi sekuler
itu, bertujuan untuk menyosialisasikan dan memompakan semangat republik agar
memperoleh dukungan rakyat secara penuh terhadap pemerintahan republik yang
belum terlalu lama mengalami masa revolusi.
(2) Menciptakan berbagai seremoni publik,
berupa berbagai peringatan atau upacara nasional yang bertujuan untuk
memantapkan semangat nasionalisme, semangat perjuangan, persatuan nasional dan
memperkokoh loyalitas terhadap Negara (Hobsbawm, 1992: 280).
(3) Invensi dalam bentuk pembuatan monumen-monumen
publik yang tersebar di sudut-sudut kota maupun di berbagai negeri berupa
bangunan-bangunan yang bersifat massif, monumen-monumen dan patung-patung
raksasa yang popular disebut ‘statumania’ sebagai manifestasi dari semangat
demokratisasi, memperkuat patriotisme dan hegemoni
sepanjang masa (Hobsbawm, 1992 : 272). Dengan dibangunnya patung-patung dan
tokoh-tokoh besar atau peristiwa luar biasa yang terjadi pada masa lampau
diharapkan warga negaranya dapat
memelihara jati diri sebagai warga dari negara yang besar dan jaya sepanjang
masa.
………………………………………………………………………………………………………………………………………………
Proses invensi tradisi yang menurut
Hobsbawm (1992: 2) merupakan ritualisasi yang merujuk pada sejarah masa lalu
yang dilakukan secara berulang-ulang dan berkembang secara luas, dapat dilihat
dan diungkapkan dalam penelitian saya di Kasepuhan Gunung Halimun. Seperti
yang telah dikaji oleh para ahli di
atas, proses itu dibentuk atau dikonstruksi oleh seorang inisiator atau
kelompok inisiator dengan tujuan tertentu atau mempunyai dampak yang
menguntungkan kelompoknya seperti (1) mengukuhkan kembali identitas kelompok
etnis
ditengah-tengah kelompok etnis yang lain dalam suatu Negara atau kelompok sosial
yang lebih luas; (2) pengukuhan kembali keberadaan kekuasaan adat atau
legitimasi adat; (3) untuk mempertahankan otoritas atau posisi sosial ekonomi
dan politik kelompok tertentu dalam struktur masyarakat yang lebih luas; dan
(4) untuk menunjukkan kemegahan atau hegemoni suatu negara atas negara-negara
lain. Tujuan atau efek yang diharapkan dari invensi tradisi tersebut saya
ungkap dalam penelitian di Kasepuhan Gunung Halimun. Melalui penelitian ini
saya pun mengungkap kemungkinan adanya efek atau tujuan-tujuan lain dari proses
invensi tradisi yang belum terungkap pada kajian-kajian yang telah dilakukan
oleh para ahli tersebut.
………………………………………………………………………………………………………………………………………………