Kuduna mah ulah dibahas nya, disebut sudah biasa malah jadi teu biasa implik2na aya pamundut pamarentah ulah memihak. Kuduna mah geuleuyeung golosor we da asana mah kiwari kaum muslim mah geus biasa nyanghareupan saukur beda lebaran. Trend nu aya malah teu milu kaputusan ormas didieu malah ngakurkeun iraha lebaran di arab saudi. Hade gorengna sorangan nu kapilih malah nu diluar. Powered by Telkomsel BlackBerry®
-----Original Message----- From: Ki Hasan <[email protected]> Sender: [email protected] Date: Sun, 28 Aug 2011 09:58:33 To: <[email protected]> Reply-To: [email protected] Cc: Baraya Sunda<[email protected]>; Urang Sunda<[email protected]> Subject: Re: [kisunda] Lebaran, Salasa atawa Rebo? Muhammadiyah Pastikan Lebaran 30 Agustus 2011 Sabtu, 27 Agustus 2011 | 13:06 WIB *TEMPO Interaktif*, *Jakarta* - Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Din Syamsuddin memastikan 1 Syawal 1432 Hijriah atau Hari Raya Idul Fitri 2011 jatuh pada 30 Agustus 2011. Keputusan itu berdasarkan pada metode hisab hakiki atau perhitungan yang dilakukan oleh majelis tarjih. ”Muhammadiyah Lebaran tanggal 30 Agustus,” kata dia ketika dihubungi *Tempo*, Sabtu, 27 Agustus 2011. Hasil perhitungan itu menunjukkan bahwa ijtimak akhir Ramadan 1432 Hijriah akan terjadi pada 29 Agustus 2011 yang bertepatan dengan 29 Ramadan 1432 H antara 10.04.03 WIB sampai pukul 10.05.16 WIB. Pada saat itu, matahari terbenam pada pukul 17.30.53 WIB dengan "hilal" (rembulan usia muda sebagai pertanda awal bulan/kalender) akan terlihat pada ketinggian 1 derajat 55 menit 11 detik hingga 2 derajat. "Dengan tampaknya hilal ini, kesimpulannya pada hari Selasa tanggal 30 Agustus 2011 itu sudah merupakan awal Syawal untuk mengakhiri puasa Ramadan," kata dia. Menurut Din, tahun ini Lebaran berpotensi tidak sama. Biasanya, perbedaan Lebaran terjadi sekali dalam empat tahun. Namun ia meminta semua pihak tidak membesar-besarkan masalah tersebut. Setiap organisasi keagamaan memiliki keyakinan dalil dan hadis sendiri-sendiri. ”Artinya ada alasan-alasan kenapa berbeda. Dan itu sudah biasa,” kata dia. Dia juga meminta pemerintah mengayomi semua organisasi yang memiliki perbedaan pandangan tersebut. Tidak boleh memihak salah satu karena mereka memiliki alasan yang berbeda. ”Pemerintah tidak boleh berpihak,” ujarnya.* MUHAMMAD TAUFIK* * http://www.tempointeraktif.com/hg/kesra/2011/08/27/brk,20110827-353833,id.html * Print
