LAPAN: Penentuan Tanggal Idul Fitri Semestinya Tak Perlu Berbeda
Minggu, 28 Agustus 2011 | 19:13 WIB

*TEMPO Interaktif*, *Jakarta* - Perayaan Idul Fitri tahun ini yang
kemungkinan akan dirayakan pada hari berbeda oleh umat Islam di Indonesia,
mendapat tanggapan dari sejumlah kalangan. Salah satunya, peneliti Lembaga
Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), Thomas Jamaluddin. Dia menilai
seharusnya tidak perlu ada perbedaan penentuan tanggal satu syawal.


Menurut Thomas, dengan kecanggihan teknologi yang kini dimiliki LAPAN dan
Institut Teknologi Bandung, seharusnya bisa ditemukan kesamaan dalam
penentuan rukyat maupun hisab. Dengan bantuan teknologi yang terus
berkembang, kata dia, kedua cara penentuan penaggalan Islam ini bisa
diperhitungkan dengan lebih tepat.


"Prinsipnya tetap, penentuan satu syawal ditentukan berdasarkan pengamatan
hilal (kemunculan bulan)," ujar Thomas saat dihubungi, Ahad 28 Agustus 2011.

Perbedaan penentuan hilal, menurut Thomas terjadi karena masih ada
organisasi yang menggunakan cara lama yang disebut wujudul hilal. Cara ini
hanya melihat apakah bulan sabit pertama sudah tampak di ufuk. Padahal,
penampakan saja tidak cukup. Untuk bisa disebut rukyat jatuh, kata dia,
kalau ketinggiannya sudah di atas dua derajat.


"Berdasar pengalaman sebelumnya, tidak mungkin ada rukyat pada ketinggian di
bawah dua derajat," kata dia.

Cara penentuan lainnya adalah dengan menggunakan penghitungan atau hisab.
Namun masih banyak organisasi Islam yang tidak mempercayai keakuratan
penghitungan melalui hisab ini. Padahal, kata Thomas, dengan perkembangan
sains dan teknologi, penentuan hilal melalui metode hisab dapat dilakukan
dengan lebih terukur. “Sudah ada *software* yang bisa menentukan hilal ini
dan mendapatkannya juga mudah.”

Dengan perkembangan teknologi inilah, Thomas berpendapat seharusnya proses
penentuan hilal bisa lebih sederhana. Penentuan hilal pun bisa dilakukan
dengan mengkombinasikan pola hisab dan rukyat. “Dua-duanya sama dan bisa
dilakukan bersamaan.”

Selama ini dalam menentukan hilal, LAPAN selalu bekerjasama dengan Institut
Teknologi Bandung dan berkoordinasi dengan Kementerian Agama serta
Kementerian komunikasi dan Informasi. “Kami juga bekerjasama dengan
ormas-ormas Islam lainnya dalam menentukan hilal," kata Thomas.

* IRA GUSLINA*

*http://tempointeraktif.com/hg/kesra/2011/08/28/brk,20110828-353968,id.html
*

Kirim email ke