Gampang pisan atuh ilmu palak memalak mah ! Kantun bosongot beungeut 
pikasieuneun !
terus nu di palak na milih nu lelemeye ! Hhahahahaha !

--- On Sun, 28/8/11, Ki Hasan <[email protected]> wrote:

From: Ki Hasan <[email protected]>
Subject: Re: Santri Falak Re: [kisunda] Lebaran, Salasa atawa Rebo?
To: [email protected]
Received: Sunday, 28 August, 2011, 3:07 AM







 



  


    
      
      
      Enya panasaran, jadi hayang diajar elmu falak yeuh

2011/8/28  <[email protected]>
















 



  


    
      
      
      












Mang kuring mah panasaran eta pasantren nu fokus kana elmu falak tea kumaha nya 
pamadeganana. Sigana bisa rame tiap santri boga pamadegan sorangan nu bisa jadi 
beda jeung ajenganana.Powered by Telkomsel BlackBerry®
From:  Ki Hasan <[email protected]>
Sender:  [email protected]
Date: Sun, 28 Aug 2011 10:04:11 +0800To: <[email protected]>ReplyTo:  
[email protected]
Cc: Baraya Sunda<[email protected]>; Urang 
Sunda<[email protected]>
Subject: Re: [kisunda] Lebaran, Salasa atawa Rebo?

 



    
      
      
       Persis Lebaran 31 Agustus, NU Tunggu Rukyat
                                Sabtu, 27 Agustus 2011 | 19:52 WIB
                                TEMPO Interaktif, Jakarta
 - Organisasi keagamaan Persatuan Islam (Persis) menetapkan 1 Syawal 
1432 Hijriah jatuh pada 31 Agustus 2011. Menurut Pimpinan Persis Maman 
Abdurrahman, penetapan itu sesuai dengan almanak organisasi.

"Ketetapan
 itu sudah kami sebarkan ke semua pengurus cabang di daerah, media, dan 
pengumuman-pengumuman lain," kata dia ketika dihubungi Tempo, Sabtu 
malam, 27 Agustus 2011.

Menurut dia, untuk menetapkan tanggal 
Lebaran ada dua cara, yakni hisab (perhitungan) dan rukyatul hilal 
(melihat bulan muda di atas ufuk). Ia percaya pada 30 Agustus posisi 
hilal di atas ufuk, namun posisi itu masih berada di bawah 2 derajat. 
Kondisi itu, kata dia, menurut hadits disebut ghoiru imkanirrukyat atau 
belum mungkin hilal tampak.

Berdasar laporan dan data-data 
lembaga astronomi, kata dia, Persis meyakini pada hari berikutnya, 31 
Agustus, posisi ketinggian hilal sudah di atas 2 derajat. Dengan kondisi
 itu, ia melanjutkan, rukyatul hilal atau melihat hilal sudah bisa 
dilakukan. Terlebih, hal itu juga sesuai dengan kesepakatan MABIM 
(Indonesia, Malaysia, Singapura dan Brunei Darussalam).

Sebelumnya,
 Muhammadiyah lebih dulu sudah menetapkan Lebaran jatuh pada 30 Agustus 
2011. Pimpinan organisasi itu, Din Syamsuddin, menyatakan berdasar 
metode hisab hakiki atau perhitungan yang dilakukan oleh majelis tarjih,
 ijtimak akhir Ramadhan 1432 Hijriah akan terjadi pada 29 Agustus 2011 
yang bertepatan dengan 29 Ramadhan 1432 H antara 10.04.03 WIB sampai 
pukul 10.05.16 WIB. 

Pada saat itu, kata dia, matahari terbenam 
pada pukul 17.30.53 WIB dengan "hilal" (rembulan usia muda sebagai 
pertanda awal bulan/kalender) akan terlihat pada ketinggian 1 derajat 55
 menit 11 detik hingga 2 derajat.

"Dengan tampaknya hilal ini, 
kesimpulannya pada hari Selasa tanggal 30 Agustus 2011 itu sudah 
merupakan awal Syawal untuk mengakhiri puasa Ramadan," kata dia.

Adapun
 menurut salah satu Ketua Pengurus Besar Nahdhatul Ulama (NU) Slamet 
Effendi Yusuf, perbedaan itu hendaknya dihindari. Ia meminta masyarakat 
menunggu sidang isbat pada Senin, 29 Agustus 2011 nanti. NU sendiri, 
kata dia, hingga kini belum memutuskan kapan Lebaran, karena masih 
menunggu hasil rukyatul hilal. "Hasil rukyat nanti akan dipaparkan pada 
sidang isbat nanti," kata dia.

Kepala Badan Hisab dan Rukyah 
Kementerian Agama, Muhyidin Khazin, meminta masyarakat tidak risau dan 
bingung soal penetapan awal Lebaran tersebut. Menurut dia, itu hal 
biasa. 

Tahun ini, kata dia, potensi Lebaran tidak serentak 
memang ada."Tapi semua harus disikapi dewasa. Kalau masyarakat bingung, 
tunggu saja ketetapan pemerintah nanti pada pada sidang isbat 29 
Agustus," ujarnya.

Muhyidin mengimbuhkan, kendati Muhammadiyah 
sudah menetapkan 1 Syawal, sementara Nahdhatul Ulama (NU) belum karena 
menunggu hasil rukyah, menurut dia pemerintah tetap akan menunggu hasil 
sidang isbat. Pemerintah mengajak semua organisasi masyarakat itu 
menggelar Lebaran bersama-sama. "Itu kalau bisa. Tapi kalau tidak, ya 
tidak apa-apa, mereka punya alasan," kata dia.

MUHAMMAD 
TAUFIKhttp://www.tempointeraktif.com/hg/kabar_lebaran_10/2011/08/27/brk,20110827-353865,id.html





    
     

    










    
     

    
    






  










    
     

    
    


 



  



Kirim email ke