Tahun 1992, kuring kungsi nganjang ka Kampung Naga sarang kang Tommy, dosen FIB 
UI. Sapeuting jeput ngarekam (video) acara kasenian suluk/beluk. Duka tah kang 
Tommy masih nyimpen rekaman eta. Harita teh kuring ditampi ku kapala suku 
kampung Naga, namina hilap deui. sok sanajan listrik teu kenging lebet ka 
kampung Naga, tapi di bumi kepala adat aya radio transistor. Harita teh putrana 
kepala adat kampung Naga, nuju didamel di nagri Jepang. Duka tah, naha ayeuna 
putrana anu janten kapala adat, atanapi anu sanes.

baktos,

mrachmatrawyani





________________________________
From: Ki Hasan <[email protected]>
To: Ki Sunda <[email protected]>
Cc: Baraya Sunda <[email protected]>; Urang Sunda 
<[email protected]>
Sent: Saturday, August 27, 2011 7:21 AM
Subject: [kisunda] Re: Kampung Adat - Kampung Naga, Neglasari Salawu Tasikmalaya


  
Kampung Naga (2)
Dipadati Wisatawan Domestik dan Mancanegara 
Sabtu, 27 Agustus 2011 | 20:44 WIB


        * 
TATANG (45), warga Kampung Naga yang 
menjadi pemandu wisata, mengatakan, masalah kepedulian terhadap 
lingkungan sudah dilakukan oleh para leluhurnya hingga sekarang. Saat 
ini jumlah warga sudah mencapai 110 kepala keluarga (KK) dengan 113 
bangunan dan 1 leuit (lumbung) milik umum.
"Hampir setiap hari ramai dikunjungi wisatawan. Tapi ada 
tempat-tempat tertentu yang tidak bisa dimasuki atau didekati oleh 
wisatawan dan ada hari-hari tertentu yang membuat pemandu tidak boleh 
menjelaskan tentang sejarah Kampung Naga," ujarnya.
Pemandu wisata lainnya yang juga warga Kampung Naga, Cahyan (39), 
menambahkan hari-hari yang ditetapkan sebagai hari tabu untuk 
menjelaskan sejarah Kampung Naga itu adalah Selasa, Rabu, dan Sabtu. 
"Pada hari tabu itu kami tidak boleh menjelaskan soal sejarah kampung 
Naga, termasuk soal pakaian adat masyarakat dan jenis upacara ritual," 
kata Cahyan kepada Tribun.
Biasanya para wisman itu selalu diajak berkeliling kampung untuk 
melihat ibu-ibu menumbuk padi di saung lisung, melihat bangunan rumah 
dan masjid dan bale Patemon, serta melihat ruang-ruang di dalam rumah.
Diakui Cahyan di hutan keramat sebelah utara kampung terdapat sebuah 
makam keramat. Namun ia tidak bisa menjelaskan lebih jauh tentang makam 
keramat itu karena saat itu Hari Sabtu. Dia hanya menyebutkan makam itu 
tidak boleh dilihat orang umum.
"Warga kampung pun dalam setahun sekali hanya enam kali, yakni setiap perayaan 
hari besar Islam saja seperti Muharam, Mulud, Jumadilakhir, 
Rewah, dan Syawal. Kami ke sana untuk ziarah yang dilanjutkan berdoa di 
masjid," katanya.
Meski ada pantangan bagi wisatawan, kata Cahyan jumlah wisatawan 
sekarang ini makin banyak. Sebelum tahun 2000 wisatawan lokal hanya 
mencapai lima ribuan dalam setahun, dan mancanegara mencapai ratusan 
orang saja. Tapi setelah tahun 2000 hingga sekarang ini, wisatawan lokal dalam 
setahun bisa mencai 30 ribuan dan wisman mencapai 3 sampai 4 ribu orang.
"Karenanya jumlah pemandu pun sekarang sudah ada 40 orang. Kalau dulu hanya 5 
orang," kata Cahyan, yang biasanya dalam sekali memandu minimal mendapat tip Rp 
50 ribu. (dedy herdiana)
Penulis : Dedy Herdiana 
Editor : Yon Daryono
http://jabar.tribunnews.com/read/artikel/67332/Dipadati-Wisatawan-Domestik-dan-Mancanegara-
 
 

Kirim email ke