Kampung Naga (1) Terus Setia Menjaga Tradisi dan Budaya Leluhur Sabtu, 27 Agustus 2011 | 20:43 WIB
*SEMILIR *angin yang berembus terasa menyejukkan. Kesejukan pun makin membawa ketenangan dengan terdengarnya suara air di pancuran bambu dan riak air di sungai. Anak-anak kecil riang bermain di halaman depan rumah mereka yang terbuat dari bilik bambu dan berkaca dengan frame kayu serta beratap ijuk hitam. Itulah suasana yang terasa pada pagi menjelang siang di Kampung Naga, sebuah kampung adat di Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, belum lama ini. Saat itu puluhan pupuhu dari berbagai kampung adat yang ada di Jawa Barat terlihat sibuk menggelar pertemuan tentang pengusungan ikon budaya Jabar di Bale Patemon yang berdampingan dengan masjid. Meski pertemuan serius yang menghadirkan Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jabar, Ir H Herdiwan MM, itu tengah berlangsung, kegiatan keseharian masyarakatnya tampak tidak terganggu. Selain banyak anak-anak yang tetap bisa bermain bebas di halaman rumahnya, beberapa warganya suka membuat kerajinan tangan dari bambu pun tetap melakukan aktivitasnya dengan tenang. Bahkan beberapa warganya yang menjadi pemandu wisata, juga tetap menjalankan pekerjaannya. Di antara wisatawan yang datang saat itu terlihat tidak hanya kalangan wisatawan lokal, tapi wisatawan mancanegara (wisman) yang jumlahnya cukup banyak. Kampung Naga, yang berada sekitar 30 kilometer dari Kota Tasikmalaya dan 26 kilometer dari Garut, dikenal sebagai salah satu kampung adat di Jabar yang masih tetap setia memegang teguh aturan adatnya. Kepatuhannya pada aturan adat menjadikan kampung ini semakin diminati wisatawan untuk mengunjunginya. Sebab, dalam kepatuhannya melaksanakan aturan adat, mereka mampu menjaga bentuk arsitektur rumah serta tata ruang kampungnya yang tradisional. Aturan adat itu juga terpancar dalam setiap gerak perilaku warganya yang ramah dan mampu menjaga kelestarian lingkungan sekitarnya. Keasrian lingkungan akan terlihat sejak wisatawan akan memasuki kampung yang berada di lembah yang subur. Tempat ini juga dibatasi oleh hijaunya hutan keramat di sebalah barat, hamparan sawah di selatan, bentangan sungai Ciwulan dari Gunung Cikuray di utara dan timur. Pemandangan indah mulai terlihat sejak wisatawan mulai menuruni lebih dari 100 undakan tangga buatan yang berbelok-belok untuk mengurangi kecuraman jalan. Kemiringannya mencapai 45 derajat dan panjangnya sekitar 500 meter. Kemudian jalan setapak berbatu bulat halus sudah menanti sebagai pijakan menyusuri pinggiran Sungai Ciwulan sampai ke dalam Kampung Naga. *(dedy herdiana)* Penulis : Dedy Herdiana Editor : Yon Daryono http://jabar.tribunnews.com/read/artikel/67322/Terus-Setia-Menjaga-Tradisi-dan-Budaya-Leluhur-
