punten mun ripos gan,

---
http://nasional.kompas.com/read/2008/11/20/22020314/mencari.identitas.sunda.lewat.iket

Mencari Identitas Sunda Lewat Iket

Oleh *Cornelius Helmy dan Rony Ariyanto Nugroho*

"Saya pernah disangka penjual batu ali dan orang Baduy karena memakai
iket," kata Agus Bebeng (30), pewarta foto lembaga kantor berita nasional
Antara. Bebeng adalah salah seorang yang memilih identitas Sunda dalam
penampilan sehari-hari.

"Memakai iket juga seperti menebus dosa budaya dan tanda cinta saya pada
budaya Sunda. Dulu saya lebih memilih menggunakan mode Barat. Untuk penutup
kepala, contohnya, saya memilih menggunakan slayer corak modern," kata
Bebeng.

Bebeng mulai menggunakan iket dari kain tahun 1997. Saat itu, ia
terinspirasi masyarakat salah satu kampung adat. Keinginan memakai iket
semakin besar ketika salah seorang tetua adat memberikannya selembar iket.

Hal serupa dialami Fachrul Rozi (27), fotografer lepas, yang sempat
dianggap aneh ketika ada seorang ibu meminta foto bareng. Ibu itu menyangka
ia adalah masyarakat desa adat.

Ia mempelajari lima teknik pemasangan iket. Teknik iket barangbang semplak
lazim digunakan kusir dan jawara; koncer digunakan abdi dalem dan juragan;
lohen digunakan pasangan pengantin; parekos digunakan pedagang dan petani;
dan kuda mencar digunakan anak-anak.

"Tidak sekadar aksesori, iket ternyata juga menjadi lambang status sosial,"
kata Rozi. Gaya dan "nyunda"

Ria Ellysa Mifelsa (29), penggiat komunitas teater Laskar Panggung,
Bandung, mengaku, pertama kali menggunakan iket sepuluh tahun lalu hanya
sekadar bergaya. Namun, lama kelamaan, itu justru menjadi kebiasaan yang
sulit dilepaskan, khususnya ketika menghadiri acara tradisi Sunda.

Ia juga mempelajari bentuk iket berbagai macam daerah, filosofi, dan
perkembangannya. Iket, disebutnya, multifungsi antara lain sebagai
pelindung kepala, pembawa barang, dan status sosial. "Sama sekali tidak
salah bila sebagian pengguna tidak tahu filosofinya. Saya sendiri tidak
terlalu paham. Setidaknya kami menjadi bagian orang yang mencintai budaya
Sunda," katanya.

Menurut seniman Herry Dim, tidak dapat dimungkiri, khususnya di kota, iket
menjadi sebuah gaya hidup. Seseorang ingin terlihat nyunda sehingga ia
berpakaian Sunda. Namun, pandangan ini tidak bisa disalahkan. Menurut dia,
semakin banyak orang menggunakannya, itu akan sangat berguna untuk
melestarikan budaya Sunda.

Menurut dosen antroplogi Universitas Padjadjaran, Ira Indrawardhana, bagi
masyarakat Sunda, iket bisa menjadi identitas. Dalam iket terkandung pesan
antara lain menghormati orang tua dan selalu menempatkan kepentingan orang
lain di atas keinginan sendiri.

Namun, meski sudah menjadi mode, iket kerap dilupakan masyarakat Sunda.
Penggunaannya kerap dikatakan kuno, ketinggalan zaman. Menurut Ira, itu
merupakan pandangan keliru. Alasannya, masalah cocok atau tidak hanya
berputar pada sering atau tidaknya suatu hal digunakan banyak orang. Ia
mencontohkan peci yang dipopulerkan Soekarno atau kafiyeh yang dipopulerkan
Yasser Arafat. Semakin banyak orang menggunakannya, masyarakat akan semakin
mengenal dan menggunakannya.

Ira tidak mempermasalahkan iket digunakan sekadar mengikuti mode.
Alasannya, selama iket digunakan dan dilihat banyak orang, itu tentunya
menjadi promosi kuat bagi budaya Sunda.

"Saya pribadi memilih menggunakan iket cetak dengan gaya yang paling banyak
digunakan, yaitu barangbang semplak. Penggunanya tidak perlu mengikat
sendiri, tetapi disiapkan bentuk jadi sehingga tidak rumit," katanya.

-- 
d-: dudi herlianto :-q
paciringan.wordpress.com
kunyuk nuyun kuuk, kuuk nuyun kunyuk

Kirim email ke