“Contohnya, Ikat kepala yang digunakan masyarakat Baduy mempunyai nilai filosofi luhur. Ikat kepala warna putih digunakan masyarakat Baduy Dalam, artinya orang yang mengenakannya harus berhati bersih. Sedangkan ikat kepala warna hitam digunakan masyarakat Baduy Luar, artinya harus berinteraksi dan bersahabat dengan dunia luar yaitu alam,” tuturnya. === Kesadaran Terhadap Nilai-nilai Filosofi Budaya Sunda Masih Rendah Selasa, 17/04/2012 - 21:20
SUBANG, (PRLM).- Kecintaan dan Kesadaran masyarakat terhadap nilai- nilai warisan budaya leluhur sekaligus mengaplikasikan dalam keseharian masih rendah. Oleh karena itu masyarakat Subang, umumnya Jabar diimbau agar terus menghidupkan kembali nilai-nilai filosofi budaya Sunda. Demikian dikatakan Wakil Gubernur Jawa Barat, Dede Yusuf saat menghadiri acara helaran budaya "Ngajaga Lembur" yang berlangsung di Sekolah Dasar Negeri Tanjung III, Dusun Parigi, Kecamatan Cipunagara, Kabupaten Subang, Selasa (17/4/12). "Budaya, bukan hanya tari-tarian atau seremonial, tapi ada hal yang lebih penting, yaitu mempertahankan nilai-nilai filosofi budaya. Itu bisa mengantarkan masyarakat memahami bagaimana berprilaku arif terhadap sesama, lingkungan, dan tanah air," katanya. Dede mengatakan saat ini kesadaran terhadap nilai- nilai budaya di masyarakat masih rendah. Misalnya, ada beberapa falsafah sunda yang saat ini sudah menurun diantaranya kepedulian terhadap alam dan lingkungan. Padahal sejak dulu ada nilai nilai budaya Sunda yang mengajarkan masyarakat harus peduli terhadap lingkungan. "Ada pepatah 'aya gawir diawian'. Itu secara harfiah artinya, pentingnya melakukan upaya antisipasi mencegah terjadinya bencana alam. Bentuknya bisa berupa menanam pohon sebagai upaya mencegah bencana banjir dan erosi,” ujarnya. Dia juga menyayangkan akhir akhir ini marak penggunaan atribut budaya, tetapi kenyataannya hanya tempelan dan tidak mencerminkan seperti atribut yang dikenakannya. Padahal setiap atribut budaya dibuat dan dipakai itu ada maksud dan tujuannya, seperti ikat kepala yang menjadi identitas masyarakat Jawa barat. “Contohnya, Ikat kepala yang digunakan masyarakat Baduy mempunyai nilai filosofi luhur. Ikat kepala warna putih digunakan masyarakat Baduy Dalam, artinya orang yang mengenakannya harus berhati bersih. Sedangkan ikat kepala warna hitam digunakan masyarakat Baduy Luar, artinya harus berinteraksi dan bersahabat dengan dunia luar yaitu alam,” tuturnya. Pendapat sama dikatakan Acil Bimbo selaku penggagas forum 'Ngajaga Lembur', pemahaman masyarakat terhadap nilai-nilai filosofi budaya Sunda saat ini minim. Dia mengatakan kecintaan masyarakat terhadap tanah air dan warisan luhur budaya mulai terkikis dengan permasalahan karakter generasi muda. "Di tanah air sendiri orang Sunda jarang sekali memegang perang penting. Paling memprihatinkan lagi, banyak sekali kekayaan budaya Sunda yang belum terjaga," katanya. Dia menuturkan gerakan 'ngajaga lembur' bukan hanya di Subang. Namun merupakan sebuah gerakan yang perlu dikembangkan masyarakat Jawa Barat. Oleh karena itu, gerakan ngajaga lembur harus terus disosialisasikan ke seluruh masyarakat Jabar karena berkaitan dengan perbaikan generasi. "Ada trilogi yang mengantarkan pergerakan ini, yaitu ngajaga lembur, akur jeung dulur, dan panceug dina galur," katanya.(A-116/A-88)*** http://www.pikiran-rakyat.com/node/184977
