Kumaha cenah pamadegan cagub-cawagub jabar ngeunaan coret basa daerah ieu?
Powered by Telkomsel BlackBerry®

-----Original Message-----
From: Ki Hasan <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Mon, 24 Dec 2012 14:41:23 
To: Ki Sunda<[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Cc: Baraya Sunda<[email protected]>; Urang 
Sunda<[email protected]>
Subject: [kisunda] Re: [Baraya_Sunda] Re: Kurikulum 2013 Coret Basa Daerah?

Ketua Tim Pengembangan Kurikulum 2013
Penghilangan Bahasa Daerah Merupakan Hal yang Wajar
Minggu, 23/12/2012 - 14:01

BANDUNG, (PRLM).-Ketua Tim Pengembangan Kurikulum 2013 Hamid Hasan menilai
penghilangan bahasa daerah atau bahasa Sunda merupakan hal yang wajar.
Mengingat sebuah daerah di Indonesia saat ini sudah heterogen sehingga
penggunaan bahasa Indonesia lebih baik ketimbang bahasa ibu atau daerah.

"Sebenarnya penggunaan bahasa daerah tergantung kebijakan di daerahnya
bukan wewenang kami atau pusat. Nanti mereka sendiri yang melakukannya,"
kata Guru Besar UPI itu di Dinas Pendidikan Jawa Barat, Jln. Dr. Rajiman,
Kota Bandung, belum lama ini.

Dia menambahkan, kurikulum baru yang tengah dalam masa uji publik masih
bisa direvisi. Nantinya, semua masukan yang ada di uji publik akan diikuti
dan direvisi hingga terjadi sosialisasi.

"Januari, analisis semua masukan dari lapangan dan revisi dianggap sudah
selesai. Kemudian, Febuari pelatihan guru dan penulisan buku pada konsep
dasar sudah ada. Jadi kita sambil berjalan kurikulum sambil tunggu guru
terlatih," jelas Hamid.

Sementara itu Ketua Umum PB Paguyuban Pasundan Prof. Didi Turmudzi
menyesalkan jika sampai mulok bahasa Sunda hilang. Budaya nasional itu
budaya daerah juga .Ciri suatu etnis yaitu bahasa dan etika. Mulok itu
tidak sekedar bahasa tapi juga kekebalan media, anak-anak saat ini sudah
terpengaruh begitu besar pada media elektronik. "Saya sangat khawatir
dengan perkembangan ada," katanya.

Hal senada juga dikemukakan Ketua PGRI Jawa Barat Edi Permadi yang
memprihatinkan jika kurikulum baru tidak menempatkan bahasa Sunda sebagai
mata pelajaran muatan lokal.

Menurutnya, pada kurikulum sebelumnya saja bahasa Sunda sudah cukup
terabaikan. Selain itu dia juga menilai masih jarangnya lulusan bahasa
Sunda, jangan sampai guru dari daerah lain yang mengajar bahasa Sunda.

Menurutnya, pembenahan masalah guru bukan hanya mengimbau saja tapi harus
dimulai dari LPTK dalam menjaring calon dan meluluskan serta mendapatkan
setifikasi. Seharusnya, di tahun mendatang kesepatan muatan lokal harus
lebih besar, mata pelajaran lebih sederhana dan ruang muatan lokal harus
lebih besar.

"Bisa jadi ekstrakulikuler dan ada reward buat mereka yang memiliki
penghargaan bahasa Sunda. Bali bisa mendunia karena kuat sama tradisi
daerah. Itu kuncinya," kata Edi. (A-208/A-107)***

http://www.pikiran-rakyat.com/node/216156

Kirim email ke