Setahu saya pada zaman sebelum G30S itu Lesbumi itu sangat kuat bahkan
merupakan lembaga seni dan budaya yang bisa bersaing dengan Lekra dan
mengakar sampai dengan didaerah-daerah dengan berbagai jenis kelompok
tradisional dan setahu saya yang sangat melegenda adalah kelompok2
sandiwaranya (harusnya ini cikal bakal film).
Tetapi saat ini sangat sulit menemukan kelompok kesenian yang merupakan
underbow dari Lesbumi bahkan mungkin Lesbumi sendiri janagan-jangan sudah
ndak jelas lagi masih hidup atau sudah almarhum dilembaga NU karena yang ada
hanya pengurus pusat saja, sama dengan beberapa lembaga yang lain di
NU......

Mungkin Lakpesdam bisa bentuk kajian dan penelitian mengenai organisasi2 NU
baik Banom maupun yang lain, apakah masih hidup, atau sudah sekarat dan
kenapa kok nggak ada kegiatan terus bagaimana menghidupkannya lagi atau
membudayakan kegiatan berorganisasi yang profesional (kayak judul seminar
saja).

Regards
  -----Original Message-----
  From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] Behalf
Of lakpesdam
  Sent: Monday, January 15, 2007 3:11 PM
  To: lakpesdam
  Cc: [email protected]
  Subject: [kmnu2000] NU dan Film Indonesia


  salam hangat.

  kawan-kawan, saya sangat suka dengan perbincangan film indonesia yang
sedang ramai di media masa. pengamatan saya, dunia perfilman kita sedang
berproses menuju "yang lebih baik".
  diawali dengan kericuhan (menggugat hasil FFI) beberapa kelompok dalam
dunia perfilman sedang melakukan kerja-kerja perubahan.
  di tengah-tengah perbincangan itu, saya selalu mencari-cari; adakah
segelintir orang dari masyarakat NU yang terlibat? tentu yang saya maksud
dengan NU adalah organisasi, bukan perorangan. NU mesti terlibat aktif dalam
perubahan perfilman indonesia. NU punya kepentingan bukan hanya karena NU
punya massa (konsumen film), tapi juga karena dunia film memiliki peran
strategis dalam gerak kebudayaan. dan tentunya NU punya lesbumi dengan tokoh
seniornya Misbah yusabiran, nama beken dalam dunia film kita.
  bagaimana, apakah kita hanya berpangku tangan? hanya menonton? hanya
menjadi obyek perubahan?

  regards,

  hamzah sahal

  [Non-text portions of this message have been removed]



  


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke