Salam,

Saya ingin mengomentari dengan sangat serius subjek ini (karena 
kebetulan sedang belajar mengecimpunginya dunia Lesbumi). 

Dua hari lalu, Kamis malam, 25/01/07, ada acara penobatan Tokoh 
Perintis Teater Modern kepada 9 orang seniman pada "Malam Anugerah 
FTI (Federasi Teater Indonesia) 2006" di Pusat Perfilman Haji Usmar 
Ismail, Jakarta (Kompas, 25/01/07). Dua di antara seniman yang 
dinobatkan adalah Usmar Ismail dan Asrul Sani. Ketika saya membaca 
info tersebut di harian Kompas, saya menebak-nebak siapa orang NU - 
atas nama masa lalu - yang akan hadir pada acara tersebut. Kemarin 
ketika saya membuka-buka harian Kompas (26/01/07), saya mendapatkan 
foto Gus Dur bersama-sama dengan Jero Wacik (Menteri Kebudayaan dan 
Pariwisata), Abdul Rahman Saleh (Jaksa Agung), Wiranto, Nabiel 
Makarim, Suryopratomo (Pemred Kompas) dan WS Rendra sedang bersulang 
pada acara tersebut. Kenapa bukan KH. Hasyim Muzadi (Ketua Umum 
PBNU)? Kenapa bukan Al-Zastrow Ng (Ketua PP Lesbumi)?

***

Sebelum menggugat diri kita sendiri soal mengapa tak ada seniman dan 
budayawan NU yang mengapresiasi dan berperhatian pada teater dan 
film Indonesia, baik apabila kita menelaah keputusan Muktamar ke-
23 "Partai" NU tahun 1962, khususnya yang mengenai masalah kesenian/ 
kebudayaan. Salah satu anggota tim perumus dalam komisi program 
kerja yang terdiri dari 9 orang adalah Asrul Sani. Jadi, pandangan-
pandangan mengenai kesenian/ kebudayaan - sedikit-banyak - berasal 
dari Asrul Sani. Kita semua tahu siapa Asrul Sani kan?

Ada 13 butir keputusan mengenai kesenian/ kebudayaan yang telah 
dihasilkan dalam Muktamar ke-23 tersebut. Salah satu butir keputusan 
yang mendapat perhatian pengamat budaya di media massa pada saat itu 
adalah yang berbunyi: "Supaja di-sekolah2 N.U. diberikan peladjaran 
kesusasteraan dan kesenian Indonesia jang lebih intensif, demikian 
pula tentang peladjaran karang-mengarang bahasa Indonesia." (Sumber: 
Lesbumi, Arsip Nasional No. 214)

Saya tidak akan mengulas dengan lebih panjang butir keputusan 
tersebut, tetapi sedikit memberi catatan saja. Benar bahwa ada orang-
orang film (dan juga sandiwara dan teater) dalam Lesbumi/ NU, 
seperti (yang berulang-ulang kita sebut): Djamaluddin Malik (ayah 
Camelia Malik), Usmar Ismail dan Asrul Sani. Barangkali bisa juga 
ditambah: Soekarno M. Noor (ayah Rano Karno), Misbah Jusa Biran 
(suami Nani Wijaya), Mochtar Bina dan beberapa yang lain. Namun 
demikian, sependek yang saya baca, di dalam 13 butir keputusan yang 
dihasilkan tak satu pun kata "film" atau "teater" muncul (misal: 
pembinaan film/ teater, pemasyarakatan film/ teater atau mendorong 
penyelenggaraan festival film/ teater dll). Ini (bisa jadi) 
menunjukkan bahwa film/ teater adalah dunia yang asing dan sama 
sekali baru (modern) bagi warga nahdliyyin. Oleh sebab itu, butuh 
waktu yang (amat sangat) lama bagi warga nahdliyyin untuk 
mengakrabinya. Satu hal yang perlu diingat adalah bahwa orang-orang 
film/ teater itu tidak hendak memaksakan sesuatu yang jauh dari 
jangkauan warga nahdliyyin. 

Bila kita mengaitkan realitas tersebut dengan salah satu butir 
keputusan yang (justru) mendapat perhatian pengamat budaya di atas, 
maka realitas lain akan kita dapatkan: bahwa warga nahdliyyin pada 
saat itu sedang akan beranjak menuju masyarakat sastra (literature 
society) yang mensyaratkan (setidaknya) mahir baca-tulis. 
Sebaliknya, orang-orang seperti Usmar Ismail dan Asrul Sani yang 
menjadi ikon Lesbumi adalah orang-orang yang saya golongkan sebagai 
warga masyarakat pasca sastra (post-literature). Keduanya telah 
melampaui kondisi yang warga nahdliyyin pada saat itu (dekade 1960-
an) sedang akan beranjak menuju ke sana: sastra. 

Para sineas Lesbumi di tingkat pusat tidak pernah memaksakan warga 
nahdliyyin untuk memberikan pandangannya tentang film, sesuatu yang 
jauh dari jangkauan kita. Mengapa kita justru seolah memaksakan 
kehendak? 

***

Ketika Munas Alim Ulama NU yang baru lalu membahas soal tayangan 
infotainment di televisi, saya merasa sedikit lega. Sebab, ini 
setidaknya memberi harapan untuk melakukan kajian budaya di 
lingkungan NU meski hasilnya tidak seperti yang dikehendaki 
sebagaimana dalam kajian budaya. Saya kira, rintisan PP IPNU 
menyelenggarakan seminar nasional tentang "pop culture" di 
Yogyakarta menjelang kongresnya yang terakhir tahun lalu perlu 
direspons secara positif oleh para sesepuh NU.

Salam prihatin,
'ntis

--- In [email protected], "lakpesdam" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> salam hangat.
> 
> kawan-kawan, saya sangat suka dengan perbincangan film indonesia 
yang sedang ramai di media masa. pengamatan saya, dunia perfilman 
kita sedang berproses menuju "yang lebih baik". 
> diawali dengan kericuhan (menggugat hasil FFI) beberapa kelompok 
dalam dunia perfilman sedang melakukan kerja-kerja perubahan.
> di tengah-tengah perbincangan itu, saya selalu mencari-cari; 
adakah segelintir orang dari masyarakat NU yang terlibat? tentu yang 
saya maksud dengan NU adalah organisasi, bukan perorangan. NU mesti 
terlibat aktif dalam perubahan perfilman indonesia. NU punya 
kepentingan bukan hanya karena NU punya massa (konsumen film), tapi 
juga karena dunia film memiliki peran strategis dalam gerak 
kebudayaan. dan tentunya NU punya lesbumi dengan tokoh seniornya 
Misbah yusabiran, nama beken dalam dunia film kita.
> bagaimana, apakah kita hanya berpangku tangan? hanya menonton? 
hanya menjadi obyek perubahan?
> 
> regards,
> 
> hamzah sahal 
> 
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
>


Kirim email ke