Sayang sekali saya tidak menemukan foto Anda di Kompas. Jadi, saya 
tidak tahu kalau ada orang NU lain selain Gus Dur yang hadir dalam 
acara tersebut.

Soal sinetron di TV, siapa tahu teman-teman NU yang menggarap 
majalah Hidayah yang kemudian disinetronkan tersebut menggunakan 
pedoman "at-targhîb wa at-tarhîb". 

Satu hal yang ingin saya sampaikan, saya tidak dalam posisi mengecam 
atau membanggakan. Saya hanya mengamati saja.

Terima kasih atas pencerahannya.

Salam,
'ntis

--- In [email protected], "kh anam" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Malam itu saya juga kebetulan diundang. Saya datang bersama Sekjen 
Lesbumi M
> Dienaldo yang juga salah seorang pejabat TIM, juga Binhad 
Nurrohmat alumni
> Krapyak yang tulisannya sering nongol di Kompas itu, juga Ray 
Sahetapi aktor
> senior yang belakangan sering mengaku sebagai orang NU, dan saya 
yakin
> banyak wajah-wajah NU di situ. Persoalannya saya kira bukan 
sekedar karena
> Lesbumi NU tidak becus ngurusi soal film atau katakannlah ikut 
andil dalam
> merumuskan "strategi budaya". Pandangan seperti saya kira terlalu
> "struktural" dan cenderung menyalahkan organisasi NU. Masih baanyak
> kawan-kawan kita, mungkin termasuk anda, yang bergelut di dunia 
seni-budaya.
> Bahwa Hasyim Muzadi dan Zastrow hanya bisa menggunakan Lesbumi 
sebagai alat
> konser seni islami itu memang iya. Tapi kalau pun ditanyakan ke 
Gus Dur yang
> hadir waktu itu, "apa ada agenda mbuat film Gus?" Pasti 
jawabannya, "wong
> saya sekarang sedang main teater kog!" Ya, benar Gus, kita 
sekarang sedang
> main teater dan sementara ini kita kalah terus dalam jagad teater 
itu. Bukan
> hanya lesbumi yang kendur. Lihat Lembaga Pendidikan Ma'arif yang 
hanya bisa
> mbuat soal ujian Aswaja. Lihat PP lembaga tani NU (LP2NU) yang 
hanya bisa
> nadahi sisa proyek HKTI. Lihat PP Lakpesdam NU yang hanya bisa 
mengolok-olok
> sistem kaderisasi NU di muka umum Kompas meskipun mereka tidak 
yakin apakah
> mereka sendiri adalah kader yang baik. Masih ada waktu untuk 
menjadi pemeran
> yang baik, kalau ingin tetap nimbrung dalam teater NU. Lucunya 
(atau tidak
> lucinya --kata Aminoto), jangan lupa sinetron-sinetron dan 
tayangan mistik
> tv yang rame iklan namun anda kecam tidak berbudaya itu 
terinspirasi dari
> majalah semacam Hidayah yang digarap oleh anak-anak NU. Jangan 
lupa juga
> kalau para artis sinetron metropolitan dan film cinta gedongan 
yang miskin
> kreasi itu sering berkumpul di gedungnya Usmar Ismail yang anda 
banggakan
> itu. Kenapa bisa begitu? Wah, bukan soal Lesbuminya ndak becus kan?
> 
> Jadi begitu


Kirim email ke