Sy kira tdk hanya b'maksud mengajak dlm forum diskusi ttp jg bekerjanya
'insting pragmatisme' Cak Anam setelah membaca semakin kuatnya arus islam
'right wing' (in particular ex. mesjid NU direbut BUKAN rebutan mesjid) di
negara kita. Sy kira banyak tokoh-tokoh NU yg insting pragmatisme-nya jalan spt
Anda! Sy tdk perlu menjelaskan masalah ini karena hanya sekedar spekulatif
belaka. itu pertama.
kedua, sy sepakat kalo mesjid NU kurang digunakan utk kegiatan2 penting spt
yg Anda katakan. Bukankah tulisan sy pertama (diskusi mesjid) menyatakan bhw
lemahnya optimalisasi penggunaan? impliaksi dari ini adalah direbutnya mesjid
NU hingga berubahnya status, nama, sepemilikan, dan kegiataan2 tradisi kt.
bukan sekedar krn mesjid adalah mesjid Allah di mana semua komunitas bisa
memerolehnya dan menggunakannya dg gratis dan ikhlas. tetapi, ibarat sebuah
keluarga (NU dan mesjid sebagai rumahnya) sudah diusir dan yg mengusir sudah
mengisi dan merubah segala perabotan rumah kita. dalam kondisi spt ini, salah
satu kesulitan untuk mendapatkan rumah kita lagi adalah tidak adanya bukti
hukum bhw rumah itu milik kita. di sini signifikansi sertifikasi, menurut saya.
Jadi problem utamanya bukan semata-mata karena kader NU terutama yg muda jarang
berjemaah ke mesjid. itu hanya satu sisi aja.
terakhir, invisible hand utk mengadu domba umat islam selalu digunakan sbg
hujjah oleh sbgian kalangan. ini kecurigaan yg beralasan mengingat yg 'left
wing' -jil, dkk- bisa 'survive' krn eksistensi invisible hand td. ini bisa
dipahami untuk dijadikan muhasabah bersama. tapi sy kira ini sekedar perbedaan
dalam memahami islam. bukankah al islam dan al fikrah al islamiyyah itu berbeda?
jadi begitu,
salam hangat,
munir, ansor DIY
kh anam <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Wah tepatnya bukan teori konspirasi mas, tapi teori sikut sana sikut
sini,
mengajak sebanyak mungkin orang terlibat dalam forum diskusi yang aktif dan
hangat. Namun kadang yang spekulatif begituan memang bener lho, cuma kali
ini saya tidak berkepentingan mendapatkan pengakuan apakah spekulasi saya
itu bener.
Buat mbak Nur (dah jadi ibu??), bukan berarti saya tidak setuju gerakan
penyelamatan masjid dari "para pendekar berwatak jahat" tapi desas-desis
tentang kekalahan NU dalam berebut masjid atau kelemahan NU dalam sistem
pengkaderan tidak perlu terlalu dibesar-besarkan di media publik, apalagi
sampai dirinci. Itu konyol dan tidak strategis. Saya kurang sepakat dengan
Khamami Zada Lakpesdam yang membeber itu di Kompas beberapa waktu lalu.
Persoalannya bukan sekedar bisa nulis di koran bung, dan lalu terkenal.
Melaporkan kelemahan sendiri di hadapan publik itu namanya bunuh diri
toh...!!!
Nah, lalu gaya membangkitkan semacam "nasionalisme NU" dengan cara
memunculkan musuh bernama bernama wahabi, PKS dan sejenisnya itu sudah
ketinggalan jaman. Masyarakat sudah semakin bijak dan bisa memilih
organisasi mana yang bisa menularkan kesejahteraan "di muka bumi".
Jadi begitu,
On 2/13/07, Ahmad Fawaid <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> *Saya kuatir bahwa munculnya NU fundamentalis in adalah bagian dari
> "tangan
> tak tampak" yang ingin mengadu domba umat Islam.
> *
> Sangat bisa diduga "paradigma prasangka" ala Anam, sehingga dengan mudah
> mengepyah-uyah setiap orang yang dikategorikan "NU Fundamentalis" itu.
> Cara
> baca ala teori konspirasi model anam ini tentu juga punya tendensi
> mengadu-domba.Terlebih "menuduh" (sengaja saya cantumkan tanda petik
> karena
> diserta tawa, ha..ha..ha...) kelompok yang dikategorikan NU Fundamentalis
> jarang ke Masjid. Waduh....sebelum dituduh, nuduh duluan.....:)
>
> On 2/13/07, kh anam <[EMAIL PROTECTED] <gus.anam%40gmail.com>> wrote:
> >
> > Menyimak diskusi soal perebutan masjid, saya kira persoalannya bukan
> > sertifikasi atau lemahnya kelembagaan NU dalam mengurusi masjid. Ada hal
> > remeh temeh yang menyebabkan masjid NU direbut orang lain: 1) Warga NU
> > terutama kader mudanya jarang berjamaah di mesjid 2)ada anggapan bahwa
> > kegiatan apapun tidak harus dilakukan di masjid, tapi bisa di hotel, di
> > kantor dinas partai politik, atau disekretariat badan otonom dan lembaga
> > NU.
> > Ya jangan heran kalau ada yang merasa kehilangan masjid. Gitu aja kog
> > repot.
> > (Idealnya masjid memang tidak perlu ada label NU-nya)
> >
> > Terlepas dari persoalan itu, sepertinya ada fenomena yang menarik
> > akhir-akhir ini, yakni munculnya "NU fundamentalis" yakni NU yang merasa
> > eksistensinya adalah untuk memusuhi kelompok wahabi atau salafi. Saya
> > membayangkan dulu saat NU berdiri juga fenomenanya seperti itu. Hanya
> saja
> > mungkin berbeda, kalau dulu wahabi kuat sampai bisa melarang-larang
> orang
> > bermadzab atau berziarah kubur, tapi sekarang mereka lemah karena opini
> > dunia internasional hampir menyamakan "pemurnian Islam" dengan
> radikalisme
> > dan terorisme.
> >
> > Tapi menurut saya, fenomena "NU Fundamentalis" itu tidak menarik karena
> > berarti NU mundur jauh ke belakang. Pendekatan aliran atau ashobiyah
> > adalah
> > pendekatan awam, jauh sebelum masa keemasan Islam. Ingat bahwa NU sudah
> > sampai pasa perdebatan panjang melawan Muhammadiyah tentang bagaimana
> > seharusnya tata keorganisasian itu: antara yang modern kah atau yang
> > kultural kah. NU juga pernah berbentur dengan para kader mudanya tentang
> > apakah fungsi NU sebagai organisasi sosial yang ngurusi kebutuhan
> > masyarakat
> > itu berpolitik atau kembali ke khittah?
> >
> > Saya kuatir bahwa munculnya NU fundamentalis in adalah bagian dari
> "tangan
> > tak tampak" yang ingin mengadu domba umat Islam. Di Indonesia kan tidak
> > ada
> > Sunni-Syiah yang bisa di adu-adu. Adanya ya Sunni sama wahabi, salafi,
> dan
> > sejenisnya. Sekali lagi ini tidak menarik.
> >
> > Anehnya, fenomena NU fundamentalis ini malah dipicu oleh isu penguasaan
> > masjid dan perebutan kader yang digelontorkan oleh kalangan NU yang
> > nyeleneh
> > seperti JIL, P3M, Wahid Institut, Lakpesdam dan Syir'ah: yang jarang ke
> > masjid (hehe), yang jarang mengamalkan ajaran sunni, yang tidak banyak
> > berpusing dengan macam-macam aliran theologi dalam Islam karena itu
> > dianggap
> > bukan substansi.
> >
> > Setahu saya, menyimak perjalanan waktu, JIL dan kawan-kawan memang
> muncul
> > bukan sebagai agenda ilmiah untuk melakukan perubahan pikir yang kritis
> > dan
> > mencerahkan, tapi remeh-temeh untuk ber(di)hadap-hadapkan kelompok Islam
> > wahabi atau salafi tadi. Faktanya bahwa belakangan tidak ada dialog
> ilmiah
> > yang dilakukan oleh kelompok2 yang nyeleneh tadi. Mereka hanya akan
> muncul
> > secara reaksioner ketika ada isu terorisme, jenggot, poligami dan
> pasukan
> > jihad ke poso.
> >
> > Kalau kesimpulan tadi ada benarnya, ya sedianya NU tidak diadakan untuk
> > hal
> > remeh-temeh seperti itu: berhadapan dengan kelompok Islam lain. Banyak
> > agenda yang perlu dikerjakan oleh organisasi yang punya "kekuatan
> > kultural"
> > ini.
> >
> > Jadi begitu,
> >
> > On 2/12/07, Cak Munir <[EMAIL PROTECTED]
> > <munircak%40yahoo.com><munircak%40yahoo.com>> wrote:
> > >
> > > minimnya sertifikasi mesjid sepertinya jg menjadi problem yg ikut
> > > memberi andil thdp beralihnya mesjid kita ke organisasi lain. tentu
> saja
> > jg
> > > selain lemahnya optimalisasi penggunaannya. sy jg ikut prihatin krn
> > tradisi
> > > kita scr sistematis sedikit demi sedikit tergeser. sy kira perlu
> > langkah2 yg
> > > sistemik, komprehensif, dan terpadu untuk mengatasi masalah ini.
> mungkin
> > ada
> > > masukan...
> > > salam,
> > > munir, ansor jogja
> > >
> > > "Alamsyah M. Dja'far" <[EMAIL PROTECTED]
> > > <alammdj%40yahoo.com><alammdj%40yahoo.com><alammdj%
> 40yahoo.com>> wrote:
> > > Masjid NU dan Muhammadiyah Direbut Organisasi Lain
> > > 12-2-2007
> > >
> > > Oleh : FATHURI/SYIRAH
> > >
> > > Mengenai sikut-sikutan di antara umat Islam yang
> > > disinggung Hasyim Muzadi dalam Workshop Pengkaderan
> > > Nasional yang diadakan Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama
> > > (LDNU) memang bukan hal yang asing. Di antara yang
> > > cukup meresahkan adalah perebutan masjid oleh beberapa
> > > organisasi berbeda.
> > >
> > > Hasyim sendiri punya cerita. "Kemarin saya ketemu Pak
> > > Din Syamsudin (Ketua Umum Muhammadiyah). Dia bilang,
> > > 'Bagaimana nih masjid saya kok banyak diambil
> > > organisasi lain'. Saya bilang, 'NU lebih dulu'," ujar
> > > Hasyim.
> > >
> > > Berdasarkan informasi dari salah seorang pengurus LDNU
> > > perebutan masjid ini terjadi di banyak wilayah,
> > > terutama di Jakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. "Di
> > > Jatinegara (Jakarta Timur) itu ada masjid namanya
> > > al-Bahri. Masjid ini didirikan guru Marzuki, pendiri
> > > pesantren pertama di Betawi. Masjid itu sekarang sudah
> > > dikuasai oleh kelompok lain," tandasnya.
> > >
> > > Imbasnya, kalau ada orang main qasidahan di masjid
> > > langsung direspon dengan memasang pamflet yang isinya,
> > > "Maaf Masjid Bukan Tempat Main Ondel-Ondel."
> > > Lain lagi kasus yang terjadi di luar Jawa, di
> > > antaranya di daerah Sumatra Barat. Menurut salah
> > > seorang peserta workshop perebutan itu bukan dilakukan
> > > oleh organisasi, tapi perseorangan yang memegang
> > > kekuasaan politik. "Ada oknum yang tidak pernah ke
> > > masjid tapi dengan seenaknya mengganti pengurus
> > > masjid, " tandasnya.
> > >
> > > LASTUPDATE: SENIN, 12 FEBRUARI 2007
> > >
> > > __________________________________________________________
> > > Don't pick lemons.
> > > See all the new 2007 cars at Yahoo! Autos.
> > > http://autos.yahoo.com/new_cars.html
> > >
> > > Send instant messages to your online friends
> > http://uk.messenger.yahoo.com
> > >
> > > [Non-text portions of this message have been removed]
> > >
> > >
> > >
> >
> > [Non-text portions of this message have been removed]
> >
> >
> >
>
> --
> A. Fawaid Sjadzili
> http://fawaidku.blogspot.com
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>
>
>
[Non-text portions of this message have been removed]
Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com
[Non-text portions of this message have been removed]