Menyimak diskusi soal perebutan masjid, saya kira persoalannya bukan
sertifikasi atau lemahnya kelembagaan NU dalam mengurusi masjid. Ada hal
remeh temeh yang menyebabkan masjid NU direbut orang lain: 1) Warga NU
terutama kader mudanya jarang berjamaah di mesjid 2)ada anggapan bahwa
kegiatan apapun tidak harus dilakukan di masjid, tapi bisa di hotel, di
kantor dinas partai politik, atau disekretariat badan otonom dan lembaga NU.
Ya jangan heran kalau ada yang merasa kehilangan masjid. Gitu aja kog repot.
(Idealnya masjid memang tidak perlu ada label NU-nya)

Terlepas dari persoalan itu, sepertinya ada fenomena yang menarik
akhir-akhir ini, yakni munculnya "NU fundamentalis" yakni NU yang merasa
eksistensinya adalah untuk memusuhi kelompok wahabi atau salafi. Saya
membayangkan dulu saat NU berdiri juga fenomenanya seperti itu. Hanya saja
mungkin berbeda, kalau dulu wahabi kuat sampai bisa melarang-larang orang
bermadzab atau berziarah kubur, tapi sekarang mereka lemah karena opini
dunia internasional hampir menyamakan "pemurnian Islam" dengan radikalisme
dan terorisme.

Tapi menurut saya, fenomena "NU Fundamentalis" itu tidak menarik karena
berarti NU mundur jauh ke belakang. Pendekatan aliran atau ashobiyah adalah
pendekatan awam, jauh sebelum masa keemasan Islam. Ingat bahwa NU sudah
sampai pasa perdebatan panjang melawan Muhammadiyah tentang bagaimana
seharusnya tata keorganisasian itu: antara yang modern kah atau yang
kultural kah. NU juga pernah berbentur dengan para kader mudanya tentang
apakah fungsi NU sebagai organisasi sosial yang ngurusi kebutuhan masyarakat
itu berpolitik atau kembali ke khittah?

Saya kuatir bahwa munculnya NU fundamentalis in adalah bagian dari "tangan
tak tampak" yang ingin mengadu domba umat Islam. Di Indonesia kan tidak ada
Sunni-Syiah yang bisa di adu-adu. Adanya ya Sunni sama wahabi, salafi, dan
sejenisnya. Sekali lagi ini tidak menarik.

Anehnya, fenomena NU fundamentalis ini malah dipicu oleh isu penguasaan
masjid dan perebutan kader yang digelontorkan oleh kalangan NU yang nyeleneh
seperti JIL, P3M, Wahid Institut, Lakpesdam dan Syir'ah: yang jarang ke
masjid (hehe), yang jarang mengamalkan ajaran sunni, yang tidak banyak
berpusing dengan macam-macam aliran theologi dalam Islam karena itu dianggap
bukan substansi.

Setahu saya, menyimak perjalanan waktu, JIL dan kawan-kawan memang muncul
bukan sebagai agenda ilmiah untuk melakukan perubahan pikir yang kritis dan
mencerahkan, tapi remeh-temeh untuk ber(di)hadap-hadapkan kelompok Islam
wahabi atau salafi tadi. Faktanya bahwa belakangan tidak ada dialog ilmiah
yang dilakukan oleh kelompok2 yang nyeleneh tadi. Mereka hanya akan muncul
secara reaksioner ketika ada isu terorisme, jenggot, poligami dan pasukan
jihad ke poso.

Kalau kesimpulan tadi ada benarnya, ya sedianya NU tidak diadakan untuk hal
remeh-temeh seperti itu: berhadapan dengan kelompok Islam lain. Banyak
agenda yang perlu dikerjakan oleh organisasi yang punya "kekuatan kultural"
ini.

Jadi begitu,


On 2/12/07, Cak Munir <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
>   minimnya sertifikasi mesjid sepertinya jg menjadi problem yg ikut
> memberi andil thdp beralihnya mesjid kita ke organisasi lain. tentu saja jg
> selain lemahnya optimalisasi penggunaannya. sy jg ikut prihatin krn tradisi
> kita scr sistematis sedikit demi sedikit tergeser. sy kira perlu langkah2 yg
> sistemik, komprehensif, dan terpadu untuk mengatasi masalah ini. mungkin ada
> masukan...
> salam,
> munir, ansor jogja
>
> "Alamsyah M. Dja'far" <[EMAIL PROTECTED] <alammdj%40yahoo.com>> wrote:
> Masjid NU dan Muhammadiyah Direbut Organisasi Lain
> 12-2-2007
>
> Oleh : FATHURI/SYIRAH
>
> Mengenai sikut-sikutan di antara umat Islam yang
> disinggung Hasyim Muzadi dalam Workshop Pengkaderan
> Nasional yang diadakan Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama
> (LDNU) memang bukan hal yang asing. Di antara yang
> cukup meresahkan adalah perebutan masjid oleh beberapa
> organisasi berbeda.
>
> Hasyim sendiri punya cerita. "Kemarin saya ketemu Pak
> Din Syamsudin (Ketua Umum Muhammadiyah). Dia bilang,
> 'Bagaimana nih masjid saya kok banyak diambil
> organisasi lain'. Saya bilang, 'NU lebih dulu'," ujar
> Hasyim.
>
> Berdasarkan informasi dari salah seorang pengurus LDNU
> perebutan masjid ini terjadi di banyak wilayah,
> terutama di Jakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. "Di
> Jatinegara (Jakarta Timur) itu ada masjid namanya
> al-Bahri. Masjid ini didirikan guru Marzuki, pendiri
> pesantren pertama di Betawi. Masjid itu sekarang sudah
> dikuasai oleh kelompok lain," tandasnya.
>
> Imbasnya, kalau ada orang main qasidahan di masjid
> langsung direspon dengan memasang pamflet yang isinya,
> "Maaf Masjid Bukan Tempat Main Ondel-Ondel."
> Lain lagi kasus yang terjadi di luar Jawa, di
> antaranya di daerah Sumatra Barat. Menurut salah
> seorang peserta workshop perebutan itu bukan dilakukan
> oleh organisasi, tapi perseorangan yang memegang
> kekuasaan politik. "Ada oknum yang tidak pernah ke
> masjid tapi dengan seenaknya mengganti pengurus
> masjid, " tandasnya.
>
> LASTUPDATE: SENIN, 12 FEBRUARI 2007
>
> __________________________________________________________
> Don't pick lemons.
> See all the new 2007 cars at Yahoo! Autos.
> http://autos.yahoo.com/new_cars.html
>
> Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>
> 
>


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke