Mas Hamzah,
Jujur saja, saya tidak tahu. Kalau yang anda sebut
"otak intelektual" di balik pencabutan subsidi BBM
dulu itu adalah para ekonom seperti Dede Chatib Basri,
Muhammad Ikhsan, Sri Mulyani, atau Rizal Mallarangeng
(meskipun dia bukan ekonom), dkk, tentu mereka sudah
mengkaji dengan mendalam sekali dan komprehensif. 

Saya sendiri, saat itu, hanya mendengarkan keterangan
mereka yang saya anggap persuasif, dan itulah sebabnya
saya mendukung pencabutan subsidi BBM.

Menurut saya, kelemahan argumen temen-temen yang anti
pencabutan subsidi seperti Revrisond Baswir saat itu
adalah kecenderungan mengangkat isu spesifik ini ke
tema besar "anti-neoliberalisme". Pada level yang
sedikit populer, yang berkembang justru adalah semacam
teori konspirasi. Mereka lemah sekali pada level
analisa mikronya. Mencabut subsidi langsung dianggap
setuju dengan seluruh agenda neo-liberalisme.
Perdebataannya menjadi tidak terfokus pada isu
spesifik, tetapi debat ideologi. Menurut saya, ini
kurang berguna dalam konteks "problem solving" untuk
masalah yang kongkrit seperti isu BBM.

Menurut saya, kalau mau diskusi soal neo-liberalisme
harus diselenggarakan terpisah. Orang-orang yang
mendukung pencabutan subsidi, belum tentu sepakat
dengan neo-liberalisme. Saya sendiri setuju dengan
banyak kritik kaum anti-globalisasi terhadap
neo-liberalisme, tetapi saya tidak mau ikut bergabung
dalam gerakan itu, dengan alasan yang sudah saya tulis
di email sebelumnya. 

Mencabut subsidi BBM, saat itu, juga langsung dituduh
anti-rakyat kecil. Saya menyayangkan sekali cara
berargumen seperti ini. Menurut saya, cara argumen
seperti ini terlalu simplistis dan tendensius, dan
mutunya sama dengan tuduhan kaum Islam fundamentalis
terhadap kalangan liberal yang dianggap menghina agama
kareka menafsirkan kembali teks-teks agama. 

Pokok soal yang menjadi bahan perdebatan di sini
sebetulnya isu keadilan. Kalangan yang mencukung
pencabutan subsidi BBM melihat ketidakadilan dalam
fakta berikut ini: BBM adalah konsumsi utama kelas
menengah; kalau disubsidi yang menikmati kelas
menengah. Kalangan yang menentang mempunyai cara
pandang lain: kalau BBM naik, akan membawa inflasi
besar, dan itu artinya harga-harga kebutuhan pokok
naik, dan di sana yang dirugikan adalah kaum miskin.
Ini tidak adil. 

Dua-duanya memakai kaca-mata keadilan. Mana yang anda
pilih? Ini terserah pada ijtihad masing-masing
perorangan. Tapi tolonglah jangan menuduh
antek-neoliberalisme, anti rakyat kecil, dsb. Kalau
tuduh-menuduh begitu, apa bedanya kita dengan orang
Dewan Dakwah yang menuduh Gus Dur atau Cak Nur
antek-zionis, antek-Amerika?

Mengutip kata-kata Pramudya, bersikaplah adil sejak di
pikiran.

Ulil





--- lakpesdam <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> mas ulil, bagi saya yang tak mengerti secuil pun
> politik ekonomi (atau
> apaapun istilahnya), tulisan sampean ini "meggang
> banget" (tahu iklannya
> titi kamal utk produk sarimi kan?), seperti minum
> kopi di (stasiun) tugu
> (jogja) plus jadah bakar.
> 
> saya tak kuasa mengomentari tulisan sampean, karena
> takrib saja
> merangkak-rangkak, apalagi "ilmu kafir" yang tak
> pernah aku pegang. ndak
> tekan akalku, mas.
> 
> saya ingin bertanya tentang satu hal saja sama
> sampean, mas ulil, yaitu
> apakah kebijakan kenaikan BBM yang diiringi dengan
> subsidi langsung ke warga
> miskin itu sudah PAS? saya tak tahu, apakah
> pemerntah beserta otak
> intelektualnya sudah mengkaji soal ini secara
> komperhensif?
> 
> pertanyaan ini tentu cukup polos, tp saya memang
> belum tahu jawabannya.
> 
> saya kira itu saja, kalau banyak bertanya atau
> menanggapi sesuatu yang tak
> mengerti nanti akan makin gatra ketidaktahuan saya.
> 
> salam
> hamzah.
> 
> > ----- Original Message -----
> > From: "Ulil Abshar-Abdalla" <[EMAIL PROTECTED]>
> > To: <[email protected]>
> > Sent: Thursday, February 22, 2007 2:36 AM
> > Subject: Re: [kmnu2000] "Sekularisme" sukarela
> --Untuk Mas Munir
> >
> >
> > > Mas Munir,
> > > Saya ndak yakin anda benar-benar tidak setuju
> > > liberalisasi di bidang ekonomi. Maksud anda
> mungkin
> > > bukan anti liberalisasi ekonomi per se, tetapi
> > > liberalisasi yang tak terkontrol. Jadi yang anda
> > > persoalkan mungkin derajat liberalisasi. Mohon
> > > dikoreksi kalau saya salah duga.
> > >
> > > Fondasi ekonomi liberal adalah ekonomi pasar.
> Lawannya
> > > adalah ekonomi terpimpin yang dikontrol negara
> seperti
> > > dalam sosialisme. Ekonomi terpimpin ambruk semua
> > > sekarang, yang terbukti jalan dan masuk akal
> adalah
> > > ekonomi pasar.
> > >
> > > Dengan mengecualikan kasus Korut dan Kuba, saat
> ini
> > > ekonomi pasar hampir merupakan praktek yang
> sulit
> > > ditolak. Tentu setiap negara menganut variasi
> yang
> > > berbeda dalam menerapkan ekonomi pasar. Tetapi
> intinya
> > > sama: pasar plus kesejahteraan. Ada yang
> pasarnya 70%,
> > > kesejahteraannya 30%, ada yang terbalik, ada
> yang
> > > separoh-separoh, dsb.
> > >
> > > Sekarang ini di kalangan anak-anak muda NU
> sedang
> > > muncul "trend" anti-globalisasi yang dikombinasi
> > > dengan ideologi dan teori macem-macem. Ada
> > > anti-globalisasi plus pos-kolonialisme, ada yang
> plus
> > > tradisionalisme, ada yang plus radikalisme dan
> > > koservatisme, ada yang plus populisme, ada juga
> yang
> > > plus ideologi kiri-baru (yang sekarang sudah
> pudar).
> > > Ada anti-globalisasi yang motivasinya relijius,
> ada
> > > yang murni sekuler. Pokoknya gerakan
> anti-globalisasi
> > > sekarang ini seperti "keranjang" yang bisa
> dimasuki
> > > apa saja, jadi kayak gado-gado yang
> kadang-kadang
> > > membingungkan.
> > >
> > > Yang kurang jelas pada penggiat anti-globalisasi
> > > adalah bentuk ekonomi yang mereka inginkan.
> Apakah
> > > mereka menginginkan ekonomi terpimpin yang sudah
> > > kedaluwarsa itu, atau ekonomi pasar yang
> kandungan
> > > kesejahteraannya lebih besar, atau malah ekonomi
> > > Islam, misalnya? Atau mereka ingin menegakkan
> kembali
> > > sosialisme negara a la Soviet atau Cina
> > > pra-liberalisasi?
> > >
> > > Jawabannya tidak jelas, karena yang ikut
> "menunggangi"
> > > gerakan anti-globalisasi datang dari latar
> ideologi,
> > > aspirasi serta kecenderungan intelektual yang
> > > berbeda-beda.
> > >
> > > Karena anda menyebut soal subsidi, saya ingin
> > > memberikan komentar sedikit. Meskipun keahian
> saya
> > > selama ini sebatas Taqrib, Tahrir, dan Alfiyyah,
> ya
> > > dikit-dikit bacalah pemikiran ekonomi yang
> ditulis
> > > Hayek, Milton Friedman, atau Amartya
> Sen--minimal baca
> > > daftar isi dan kesimpulan, he he he. Tetapi,
> sekali
> > > lagi, saya bukan ahli ekonomi, jadi pendapat
> saya ini
> > > anggap saja pendapat "kedai kopi". Sama sekali
> tidak
> > > ilmiah.
> > >
> > > Menurut saya, tidak ada kontradiksi antara
> ekonomi
> > > pasar yang liberal dengan subdisi. Seperti saya
> > > katakan di atas, praktek ekonomi pasar di semua
> negara
> > > saat ini selalu dikombinasikan dengan
> kesejahteraan.
> > > Tidak ada yang murni pasar. Kesejahteraan itu
> tiada
> > > lain adalah subsidi atau kebijakan lain yang
> sifatnya
> > > "afirmatif".
> > >
> > > Yang membedakan antara satu negara dengan negara
> lain
> > > adalah sejauh mana subsidi dilakukan. Tetapi
> subsidi
> > > sendiri sebagai kebijakan, semua pihak sepakat.
> Apakah
> > > suatu subsidi dalam satu bidang tertentu harus
> > > dipertahankan atau tidak, itu di luar keahlian
> saya,
> > > sebab ini menyangkut analisa kebijakan yang
> bersifat
> > > mikro dan tidak mudah.
> > >
> > > Dalam kasus pencabutan subsidi BBM dulu,
> misalnya,
> > > saya melihat argumen yang pro-subsidi BBM
> cenderung
> > > "emosional" seperti diwakili oleh orang-orang
> macam
> > > Revrisond Baswir. Cara argumentasi Revrisond
> saat itu
> > > mengingatkan saya pada cara-cara yang dipakai
> kalangan
> > > Islam fundamentalis dalam mempertahankan syariat
> > > Islam, meskipun ya tidak persis demikian.
> Sementara
> > > argumen yang mendukung pencabutan, buat saya,
> jauh
> > > lebih "nuchter", dingin, dan masuk akal.
> > >
> > > Logika para pendukung pencabutan subsidi saat
> itu,
> > > menurut saya, lebih persuasif: bagaimana mungkin
> > > subsidi BBM yang tujuannya untuk menolong orang
> > > miskin, tetapi yang menikmati justru para
> pemilik
> > > mobil pribadi dari kalangan kelas menengah
> perkotaan?
> > > Konsumsi BBM lebih banyak di kalangan kelas
> menengah
> > > ketimbang kalangan masyarakat bawah. Apakah ini
> adil?
> > > Memang benar, saat harga BBM naik, terjadi
> dampak
> > > inflatoir yang membuat harga-harga naik, dan ini
> > > memberatkan masyarakat miskin. Setelah waktu
> berlalu,
> > > terbukti bahwa inflasinya tidak sebesar yang
> > > ditakutkan oleh kalangan pendukung subsidi. Saya
> > > sendiri tak hafal angka-angkanya.
> > >
> > > Sementara itu, subsidi yang sifatnya langsung
> > > diberikan kepada masyarakat miskin yang terkena
> dampak
> > > kenaikan harga. Saya sendiri berpendapat bahwa
> > > sebaiknya subsidi bersifat langsung, bukan
> melalui
> > > mekanisme harga. Sebab subsidi melalui mekanisme
> harga
> 
=== message truncated ===


Ulil Abshar-Abdalla
Department of Religion
Boston University


Kirim email ke