***********************
Your mail has been scanned by Chandra Asri InterScan.
***********-***********


kyai ulil,

kalau bahasa jawanya 'ngono yo ngono nek ojo ngono'
bolehlah kita beranggapan bahwa ekonomi pasar adalah yg paling memungkinkan 
saat ini, tapi ya itu porsi kesejahteraanya atau bahasa paling tepat 
keuntungannya jangan diembat sendiri, bagi2 lah kepada orang yg susah, fakir 
miskin, yatim piatu, janda2 terlantar, dst.

kata kyai saya, yg seorang manajer di sebuah bumn dan juga mahir alfiyah 
(maklum ketua NU), usaha apapun boleh asal halal tapi keuntungannya yg pas 
adalah 40% untuk diri-sendiri dan keluarga serta  60% 
dibagikan/disedekahkan/diinfakkan ke orang lain, insya Allah banyak berkahnya,
dan dia pun melakukannya bukan sekedar ngomong doang.

ndak perlu muluk2, yg paling gampang adalah menerapkan ekonomi model 'muhammad 
yunus', ekonom yg mendapat nobel perdamaian itu.

silakan dilanjut ngobrolnya...

salam,
syaikhul



-----Original Message-----
From: Ulil Abshar-Abdalla [mailto:[EMAIL PROTECTED]
Sent: Thursday, February 22, 2007 2:36 AM
To: [email protected]
Subject: Re: [kmnu2000] "Sekularisme" sukarela --Untuk Mas Munir



Mas Munir,
Saya ndak yakin anda benar-benar tidak setuju
liberalisasi di bidang ekonomi. Maksud anda mungkin
bukan anti liberalisasi ekonomi per se, tetapi
liberalisasi yang tak terkontrol. Jadi yang anda
persoalkan mungkin derajat liberalisasi. Mohon
dikoreksi kalau saya salah duga.

Fondasi ekonomi liberal adalah ekonomi pasar. Lawannya
adalah ekonomi terpimpin yang dikontrol negara seperti
dalam sosialisme. Ekonomi terpimpin ambruk semua
sekarang, yang terbukti jalan dan masuk akal adalah
ekonomi pasar.

Dengan mengecualikan kasus Korut dan Kuba, saat ini
ekonomi pasar hampir merupakan praktek yang sulit
ditolak. Tentu setiap negara menganut variasi yang
berbeda dalam menerapkan ekonomi pasar. Tetapi intinya
sama: pasar plus kesejahteraan. Ada yang pasarnya 70%,
kesejahteraannya 30%, ada yang terbalik, ada yang
separoh-separoh, dsb.

Sekarang ini di kalangan anak-anak muda NU sedang
muncul "trend" anti-globalisasi yang dikombinasi
dengan ideologi dan teori macem-macem. Ada
anti-globalisasi plus pos-kolonialisme, ada yang plus
tradisionalisme, ada yang plus radikalisme dan
koservatisme, ada yang plus populisme, ada juga yang
plus ideologi kiri-baru (yang sekarang sudah pudar).
Ada anti-globalisasi yang motivasinya relijius, ada
yang murni sekuler. Pokoknya gerakan anti-globalisasi
sekarang ini seperti "keranjang" yang bisa dimasuki
apa saja, jadi kayak gado-gado yang kadang-kadang
membingungkan.

Yang kurang jelas pada penggiat anti-globalisasi
adalah bentuk ekonomi yang mereka inginkan. Apakah
mereka menginginkan ekonomi terpimpin yang sudah
kedaluwarsa itu, atau ekonomi pasar yang kandungan
kesejahteraannya lebih besar, atau malah ekonomi
Islam, misalnya? Atau mereka ingin menegakkan kembali
sosialisme negara a la Soviet atau Cina
pra-liberalisasi?

Jawabannya tidak jelas, karena yang ikut "menunggangi"
gerakan anti-globalisasi datang dari latar ideologi,
aspirasi serta kecenderungan intelektual yang
berbeda-beda.

Karena anda menyebut soal subsidi, saya ingin
memberikan komentar sedikit. Meskipun keahian saya
selama ini sebatas Taqrib, Tahrir, dan Alfiyyah, ya
dikit-dikit bacalah pemikiran ekonomi yang ditulis
Hayek, Milton Friedman, atau Amartya Sen--minimal baca
daftar isi dan kesimpulan, he he he. Tetapi, sekali
lagi, saya bukan ahli ekonomi, jadi pendapat saya ini
anggap saja pendapat "kedai kopi". Sama sekali tidak
ilmiah.

Menurut saya, tidak ada kontradiksi antara ekonomi
pasar yang liberal dengan subdisi. Seperti saya
katakan di atas, praktek ekonomi pasar di semua negara
saat ini selalu dikombinasikan dengan kesejahteraan.
Tidak ada yang murni pasar. Kesejahteraan itu tiada
lain adalah subsidi atau kebijakan lain yang sifatnya
"afirmatif".

Yang membedakan antara satu negara dengan negara lain
adalah sejauh mana subsidi dilakukan. Tetapi subsidi
sendiri sebagai kebijakan, semua pihak sepakat. Apakah
suatu subsidi dalam satu bidang tertentu harus
dipertahankan atau tidak, itu di luar keahlian saya,
sebab ini menyangkut analisa kebijakan yang bersifat
mikro dan tidak mudah.

Dalam kasus pencabutan subsidi BBM dulu, misalnya,
saya melihat argumen yang pro-subsidi BBM cenderung
"emosional" seperti diwakili oleh orang-orang macam
Revrisond Baswir. Cara argumentasi Revrisond saat itu
mengingatkan saya pada cara-cara yang dipakai kalangan
Islam fundamentalis dalam mempertahankan syariat
Islam, meskipun ya tidak persis demikian. Sementara
argumen yang mendukung pencabutan, buat saya, jauh
lebih "nuchter", dingin, dan masuk akal.

Logika para pendukung pencabutan subsidi saat itu,
menurut saya, lebih persuasif: bagaimana mungkin
subsidi BBM yang tujuannya untuk menolong orang
miskin, tetapi yang menikmati justru para pemilik
mobil pribadi dari kalangan kelas menengah perkotaan?
Konsumsi BBM lebih banyak di kalangan kelas menengah
ketimbang kalangan masyarakat bawah. Apakah ini adil?
Memang benar, saat harga BBM naik, terjadi dampak
inflatoir yang membuat harga-harga naik, dan ini
memberatkan masyarakat miskin. Setelah waktu berlalu,
terbukti bahwa inflasinya tidak sebesar yang
ditakutkan oleh kalangan pendukung subsidi. Saya
sendiri tak hafal angka-angkanya.

Sementara itu, subsidi yang sifatnya langsung
diberikan kepada masyarakat miskin yang terkena dampak
kenaikan harga. Saya sendiri berpendapat bahwa
sebaiknya subsidi bersifat langsung, bukan melalui
mekanisme harga. Sebab subsidi melalui mekanisme harga
akan dinikmati oleh semua orang, termasuk kelas
menengah atas yang tidak seharusnya diberikan subsidi.
Ini tidak adil. Memang masalah besar kita adalah
birokrasi yang korup sehingga subsidi langsung
cenderung disunat. Namun, jika birokrasi yang korup
ini dijadikan alasan terus untuk menolak suatu
kebijakan, kita akhirnya tak bergerak.

Buat saya, di tengah serbuan globalisasi ekonomi
sekarang, contoh yang patut ditiru adalah Cina dan
India. Dua negara ini tidak koar-koar anti Amerika,
anti neoliberalisme, dst. Mereka dengan cerdik justru
mengambil keuntungan dari globalisasi pasar. Baca
laporan majalah Tempo terakhir yang mengulas dengan
baik membanjirnya barang-barang dari Cina ke pasar
domestik kita. Banjir barang Cina ini bukan saja
terjadi di Glodok, tetapi juga di seluruh Amerika.
Orang Amerika sendiri juga "nggrundel". Tetapi kalau
barang dari Cina jauh lebih murah, mau apa?

Perusahaan-perusahaan besar Amerika saat ini
mensubkontrakkan pekerjaan-pekerjaan kecil yang sepele
ke perusahaan yang berbasis di India. Jika anda
menelpon kantor "customer service" suatu perusahaan di
Amerika, menanyakan ini atau itu, jangan kaget kalau
telpon anda tersambung ke nomor internasional yang
terhubung ke India dan dilayani oleh seorang petugas
India yang sudah dilatih agar menghilangkan aksen
India dan berbicara Inggris dalam aksen Amerika.

Sebagian besar perusahaan Amerika saat ini
merelokasikan beberapa pekerjaan yang remeh-temeh ke
luar negeri, dan kesempatan inilah yang ditangkap oleh
India, Cina, Singapura, dan sekarang juga Malasyia.
Semua ini terjadi karena globalisasi.

Menurut saya tidak ada gunanya koar-koar anti-Amerika
seperti Ahmadinejad, Hugo Chaves atau Evo Morales.
Omong besar mereka memang enak didengarkan, tetapi
setelah itu apa?

Sesuai dengan sabda Nabi, "Carilah ilmu hingga ke
negeri Cina," saya lebih tertarik mencontoh Cina dan
India yang realistis itu, ketimbang menikmati
"nyanyian" anti-Amerikanya Hugo Chavez yang tak akan
membawa kita ke mana-mana.

Di depan kita ada dua pilihan: apakah kita memilih
retorika besar yang enak didengar, atau kerja keras a
la Cina dan India?

Supaya saya tidak pindah profesi menjadi ekonom,
sebaiknya saya berhenti di sini saja. Sekali lagi, ini
pendapat kedai kopi.

Ulil


Recent Activity

*

         6
        New  
<http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/members;_ylc=X3oDMTJmN28xbWo1BF9TAzk3MzU5NzE0BGdycElkAzE0OTM5NTYEZ3Jwc3BJZAMxNzA1MTM2MzgyBHNlYwN2dGwEc2xrA3ZtYnJzBHN0aW1lAzExNzIwODY5NTk->
 Members

Visit  
<http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000;_ylc=X3oDMTJldHNpZDc1BF9TAzk3MzU5NzE0BGdycElkAzE0OTM5NTYEZ3Jwc3BJZAMxNzA1MTM2MzgyBHNlYwN2dGwEc2xrA3ZnaHAEc3RpbWUDMTE3MjA4Njk1OQ-->
 Your Group
Give Back

Yahoo!  
<http://us.lrd.yahoo.com/_ylc=X3oDMTJtaTA5cWc5BF9TAzk3MzU5NzE0BF9wAzEEZ3JwSWQDMTQ5Mzk1NgRncnBzcElkAzE3MDUxMzYzODIEc2VjA25jbW9kBHNsawNicmFuZARzdGltZQMxMTcyMDg2OTU5;_ylg=1/SIG=11314uv3k/**http%3A//brand.yahoo.com/forgood>
 for Good

Get inspired

by a good cause.

Y! Toolbar

Get  
<http://us.lrd.yahoo.com/_ylc=X3oDMTJvM2oxMmZsBF9TAzk3MzU5NzE0BF9wAzIEZ3JwSWQDMTQ5Mzk1NgRncnBzcElkAzE3MDUxMzYzODIEc2VjA25jbW9kBHNsawN0b29sYmFyBHN0aW1lAzExNzIwODY5NTk-;_ylg=1/SIG=11c6dvmk9/**http%3A//toolbar.yahoo.com/%3F.cpdl=ygrps>
 it Free!

easy 1-click access

to your groups.

Yahoo! Groups

Start  
<http://groups.yahoo.com/start;_ylc=X3oDMTJvYWZzZGg1BF9TAzk3MzU5NzE0BF9wAzMEZ3JwSWQDMTQ5Mzk1NgRncnBzcElkAzE3MDUxMzYzODIEc2VjA25jbW9kBHNsawNncm91cHMyBHN0aW1lAzExNzIwODY5NTk->
 a group

in 3 easy steps.

Connect with others.

.
  
<http://geo.yahoo.com/serv?s=97359714/grpId=1493956/grpspId=1705136382/msgId=21934/stime=1172086959/nc1=1/nc2=2/nc3=3>





[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke