Mas Ulil, Tulisan sampeyan ada yang ngambil dari buku The World is Flat ya? :)
AH On 2/23/07, Cak Munir <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > maaf baru reply, sy blm punya ponsel yg bisa cek plus reply mail setiap > saat kayak cak anam! > mas ulil and all, > ideologi neoliberalisme di bdiang ekonomi yg merupakan 'derivasi' dari > narasi besar modernisme memuja pasar sekaligus meniscayaakn KOMPETISI. jadi > bukan masalah kesejahteraan sekian persen kemudian pasar sekian persen. > orang yg memuja pasar pasti akan senang dg liberalisasi ekonomi krn net > improvement (keuntungan bersih) yg berdampak pd banyaknya pilihan2 kemudian > berimpliaksi pd harga lebih rendah. makanya dalam neolib ini, kompetisi > adalah hal mutak yg tak bisa ditawar-tawar! pertanyaan saya adalah, > bagaimanana kita bisa berkompetisi jika tdk ditopang infrastruktur dan > kualitas SDM sbgmana yg telah dimiliki oleh negara2 maju? mereka menawaran > liberalisme di bidang ekonomi krn mereka sadar betul ketika terjadi > kompetisi, mereka lah yg akan keluar sebagai pemenang. > sekali lagi sy akan mencetak tebal kata KOMPETISI krn ini adalah poin > penting dalam neolib yg memuja pasar. kompetisi adalah the best strategy > untuk meraih profit maksimal sekaligus memeroleh aloikasi sumber daya yg > optimal. in short, one person's crisis is anothe person's opportunity for > enrichment (kalo tidak salah). PERSIS KAYAK HUKUM RIMBA DALAM DUNIA > PERHEWANANN!! siapa yg lemah maka dia kan dicaplok oleh yg kuat demikian > pula siapa yg masuk dalam kategori negara berkembang maka akan menjadi > bulan2an negara maju!! persis seperti negara kita sekarang termasuk negara2 > afrika yg kaya akan SDA. jadi ini masalah ieologi yg hanya bisa diselesaikan > dengan take over ideologi pula! sekali lagi bukan masalah prosentase > kesejahteraan dan pasar. > Dalam hegemoni ekonomi pasar, prilaku yg didasarkan pada solidariatas > adalah kedunguan plus ketololan! dalam kontyeks seperti ini kayaknya sekali > lagi kayaknya ekonomi syariah bisa menjembatani kerakusan plus ketamaakan > bagi yg kuat sbg impliaksi dari ssitem neoliob ini (gampangannya neolib > diciptakan dan diperuntukkan hanya bagi negara yg sudah kuat secara > poliotik, ekonomi, pendidikan, dan terutama modal). jadi yg anti neolib > memang belum menawarkan solsusi konkrit apakah ekonomi model sosialis atau > kerakyatan ala Pak Muby atau ekonomi syariah! namun hampir semua sepakat > bahwa neolib memiskinkan rakyat/ negara yang sudah miskin!! oleh karenanya > perlu KEBERANIAN untuk menggantinya dg ideologi lain! > jika subsidi langsung (kita kenal BLT) sbg ganti pencabutan subsidi BBM > (ini sebenarnya perdebanatn alin yg butuh ruang tersendiri tapi sy haya > sedikit komentar saja) dianggap solusi maka tolong perhatiakn fakta empirik > berikut ini. satu, alih-alih membantu supaya yg miskin bisa sedikit > 'berdiri' kayak orang kaya, justru konflik horizontal terjadi scr sporadis > (di tempat saya, Jember, banyak yg tukaran bahkan bekasnya ampe sekarang > gara-gara BLT ini; dan banyak jg daerah lainnya), masih ada pula bentrokan > degan aparat setempat, berapa kantor desa yg dibakar? berapa ketua RT yg > dikejar2 untuk dibunuh?? belum lagi yg meninggal akaibat antri BLT spt di > banyuangi dan bbrp tempat lainnya!! kedua, kita tidak pernah mendengar > skarang bhw yg nerima BLt beberapa waktu lalu, menjadi sedikit berkecukupan. > yg kita dengar adalah semakin banyak yg makan ansi aking gara2 impor beras > yg notabene juga akibat langsung dari pemegang kebijakan yg berkarakter > neolib!! > Di sini sy baru menyoroti dari satu aspek saja betapa neolib ini > menggerogoti sedikit demi sedikit struktur kehidupan kita. saya belu > menyoroti aspek lain (spt Bank Dunia dan IMF) yg juga dapat menewaskan > rakyat miskin dan sebuah negara berembang. > terakhir, sy hanya khawatir akan dua hal. pertama, meniscayakan > liberalisme di seluruh aspek kehidupan. karena liberalsime di bidang agama > sangat pemting bagi kelanggenagan demokrasi maka liberalsiem di bidang > ekonomi pun dianggap hal yg sama. kedua, terjatuh pd semangat gaya islam > fundamentalis (bukan NU fundamentasli-nya Cak Anam, he..he..) yg berbekal > tau 'kulit'nya islam namun begitu yakin bhw islam yg dipahami itulah yg > dianggap sbg panacea. semoga kekhawatran saya salah mas ulil. > salam hormat, > munir, Ansor DIY. > > Ulil Abshar-Abdalla <[EMAIL PROTECTED] <ulil99%40yahoo.com>> wrote: Mas > Hamzah, > Jujur saja, saya tidak tahu. Kalau yang anda sebut > "otak intelektual" di balik pencabutan subsidi BBM > dulu itu adalah para ekonom seperti Dede Chatib Basri, > Muhammad Ikhsan, Sri Mulyani, atau Rizal Mallarangeng > (meskipun dia bukan ekonom), dkk, tentu mereka sudah > mengkaji dengan mendalam sekali dan komprehensif. > > Saya sendiri, saat itu, hanya mendengarkan keterangan > mereka yang saya anggap persuasif, dan itulah sebabnya > saya mendukung pencabutan subsidi BBM. > > Menurut saya, kelemahan argumen temen-temen yang anti > pencabutan subsidi seperti Revrisond Baswir saat itu > adalah kecenderungan mengangkat isu spesifik ini ke > tema besar "anti-neoliberalisme". Pada level yang > sedikit populer, yang berkembang justru adalah semacam > teori konspirasi. Mereka lemah sekali pada level > analisa mikronya. Mencabut subsidi langsung dianggap > setuju dengan seluruh agenda neo-liberalisme. > Perdebataannya menjadi tidak terfokus pada isu > spesifik, tetapi debat ideologi. Menurut saya, ini > kurang berguna dalam konteks "problem solving" untuk > masalah yang kongkrit seperti isu BBM. > > Menurut saya, kalau mau diskusi soal neo-liberalisme > harus diselenggarakan terpisah. Orang-orang yang > mendukung pencabutan subsidi, belum tentu sepakat > dengan neo-liberalisme. Saya sendiri setuju dengan > banyak kritik kaum anti-globalisasi terhadap > neo-liberalisme, tetapi saya tidak mau ikut bergabung > dalam gerakan itu, dengan alasan yang sudah saya tulis > di email sebelumnya. > > Mencabut subsidi BBM, saat itu, juga langsung dituduh > anti-rakyat kecil. Saya menyayangkan sekali cara > berargumen seperti ini. Menurut saya, cara argumen > seperti ini terlalu simplistis dan tendensius, dan > mutunya sama dengan tuduhan kaum Islam fundamentalis > terhadap kalangan liberal yang dianggap menghina agama > kareka menafsirkan kembali teks-teks agama. > > Pokok soal yang menjadi bahan perdebatan di sini > sebetulnya isu keadilan. Kalangan yang mencukung > pencabutan subsidi BBM melihat ketidakadilan dalam > fakta berikut ini: BBM adalah konsumsi utama kelas > menengah; kalau disubsidi yang menikmati kelas > menengah. Kalangan yang menentang mempunyai cara > pandang lain: kalau BBM naik, akan membawa inflasi > besar, dan itu artinya harga-harga kebutuhan pokok > naik, dan di sana yang dirugikan adalah kaum miskin. > Ini tidak adil. > > Dua-duanya memakai kaca-mata keadilan. Mana yang anda > pilih? Ini terserah pada ijtihad masing-masing > perorangan. Tapi tolonglah jangan menuduh > antek-neoliberalisme, anti rakyat kecil, dsb. Kalau > tuduh-menuduh begitu, apa bedanya kita dengan orang > Dewan Dakwah yang menuduh Gus Dur atau Cak Nur > antek-zionis, antek-Amerika? > > Mengutip kata-kata Pramudya, bersikaplah adil sejak di > pikiran. > > Ulil > > --- lakpesdam <[EMAIL PROTECTED] <lkpesdam%40cbn.net.id>> wrote: > > > mas ulil, bagi saya yang tak mengerti secuil pun > > politik ekonomi (atau > > apaapun istilahnya), tulisan sampean ini "meggang > > banget" (tahu iklannya > > titi kamal utk produk sarimi kan?), seperti minum > > kopi di (stasiun) tugu > > (jogja) plus jadah bakar. > > > > saya tak kuasa mengomentari tulisan sampean, karena > > takrib saja > > merangkak-rangkak, apalagi "ilmu kafir" yang tak > > pernah aku pegang. ndak > > tekan akalku, mas. > > > > saya ingin bertanya tentang satu hal saja sama > > sampean, mas ulil, yaitu > > apakah kebijakan kenaikan BBM yang diiringi dengan > > subsidi langsung ke warga > > miskin itu sudah PAS? saya tak tahu, apakah > > pemerntah beserta otak > > intelektualnya sudah mengkaji soal ini secara > > komperhensif? > > > > pertanyaan ini tentu cukup polos, tp saya memang > > belum tahu jawabannya. > > > > saya kira itu saja, kalau banyak bertanya atau > > menanggapi sesuatu yang tak > > mengerti nanti akan makin gatra ketidaktahuan saya. > > > > salam > > hamzah. > > > > > ----- Original Message ----- > > > From: "Ulil Abshar-Abdalla" <[EMAIL PROTECTED] <ulil99%40yahoo.com>> > > > To: <[email protected] <kmnu2000%40yahoogroups.com>> > > > Sent: Thursday, February 22, 2007 2:36 AM > > > Subject: Re: [kmnu2000] "Sekularisme" sukarela > > --Untuk Mas Munir > > > > > > > > > > Mas Munir, > > > > Saya ndak yakin anda benar-benar tidak setuju > > > > liberalisasi di bidang ekonomi. Maksud anda > > mungkin > > > > bukan anti liberalisasi ekonomi per se, tetapi > > > > liberalisasi yang tak terkontrol. Jadi yang anda > > > > persoalkan mungkin derajat liberalisasi. Mohon > > > > dikoreksi kalau saya salah duga. > > > > > > > > Fondasi ekonomi liberal adalah ekonomi pasar. > > Lawannya > > > > adalah ekonomi terpimpin yang dikontrol negara > > seperti > > > > dalam sosialisme. Ekonomi terpimpin ambruk semua > > > > sekarang, yang terbukti jalan dan masuk akal > > adalah > > > > ekonomi pasar. > > > > > > > > Dengan mengecualikan kasus Korut dan Kuba, saat > > ini > > > > ekonomi pasar hampir merupakan praktek yang > > sulit > > > > ditolak. Tentu setiap negara menganut variasi > > yang > > > > berbeda dalam menerapkan ekonomi pasar. Tetapi > > intinya > > > > sama: pasar plus kesejahteraan. Ada yang > > pasarnya 70%, > > > > kesejahteraannya 30%, ada yang terbalik, ada > > yang > > > > separoh-separoh, dsb. > > > > > > > > Sekarang ini di kalangan anak-anak muda NU > > sedang > > > > muncul "trend" anti-globalisasi yang dikombinasi > > > > dengan ideologi dan teori macem-macem. Ada > > > > anti-globalisasi plus pos-kolonialisme, ada yang > > plus > > > > tradisionalisme, ada yang plus radikalisme dan > > > > koservatisme, ada yang plus populisme, ada juga > > yang > > > > plus ideologi kiri-baru (yang sekarang sudah > > pudar). > > > > Ada anti-globalisasi yang motivasinya relijius, > > ada > > > > yang murni sekuler. Pokoknya gerakan > > anti-globalisasi > > > > sekarang ini seperti "keranjang" yang bisa > > dimasuki > > > > apa saja, jadi kayak gado-gado yang > > kadang-kadang > > > > membingungkan. > > > > > > > > Yang kurang jelas pada penggiat anti-globalisasi > > > > adalah bentuk ekonomi yang mereka inginkan. > > Apakah > > > > mereka menginginkan ekonomi terpimpin yang sudah > > > > kedaluwarsa itu, atau ekonomi pasar yang > > kandungan > > > > kesejahteraannya lebih besar, atau malah ekonomi > > > > Islam, misalnya? Atau mereka ingin menegakkan > > kembali > > > > sosialisme negara a la Soviet atau Cina > > > > pra-liberalisasi? > > > > > > > > Jawabannya tidak jelas, karena yang ikut > > "menunggangi" > > > > gerakan anti-globalisasi datang dari latar > > ideologi, > > > > aspirasi serta kecenderungan intelektual yang > > > > berbeda-beda. > > > > > > > > Karena anda menyebut soal subsidi, saya ingin > > > > memberikan komentar sedikit. Meskipun keahian > > saya > > > > selama ini sebatas Taqrib, Tahrir, dan Alfiyyah, > > ya > > > > dikit-dikit bacalah pemikiran ekonomi yang > > ditulis > > > > Hayek, Milton Friedman, atau Amartya > > Sen--minimal baca > > > > daftar isi dan kesimpulan, he he he. Tetapi, > > sekali > > > > lagi, saya bukan ahli ekonomi, jadi pendapat > > saya ini > > > > anggap saja pendapat "kedai kopi". Sama sekali > > tidak > > > > ilmiah. > > > > > > > > Menurut saya, tidak ada kontradiksi antara > > ekonomi > > > > pasar yang liberal dengan subdisi. Seperti saya > > > > katakan di atas, praktek ekonomi pasar di semua > > negara > > > > saat ini selalu dikombinasikan dengan > > kesejahteraan. > > > > Tidak ada yang murni pasar. Kesejahteraan itu > > tiada > > > > lain adalah subsidi atau kebijakan lain yang > > sifatnya > > > > "afirmatif". > > > > > > > > Yang membedakan antara satu negara dengan negara > > lain > > > > adalah sejauh mana subsidi dilakukan. Tetapi > > subsidi > > > > sendiri sebagai kebijakan, semua pihak sepakat. > > Apakah > > > > suatu subsidi dalam satu bidang tertentu harus > > > > dipertahankan atau tidak, itu di luar keahlian > > saya, > > > > sebab ini menyangkut analisa kebijakan yang > > bersifat > > > > mikro dan tidak mudah. > > > > > > > > Dalam kasus pencabutan subsidi BBM dulu, > > misalnya, > > > > saya melihat argumen yang pro-subsidi BBM > > cenderung > > > > "emosional" seperti diwakili oleh orang-orang > > macam > > > > Revrisond Baswir. Cara argumentasi Revrisond > > saat itu > > > > mengingatkan saya pada cara-cara yang dipakai > > kalangan > > > > Islam fundamentalis dalam mempertahankan syariat > > > > Islam, meskipun ya tidak persis demikian. > > Sementara > > > > argumen yang mendukung pencabutan, buat saya, > > jauh > > > > lebih "nuchter", dingin, dan masuk akal. > > > > > > > > Logika para pendukung pencabutan subsidi saat > > itu, > > > > menurut saya, lebih persuasif: bagaimana mungkin > > > > subsidi BBM yang tujuannya untuk menolong orang > > > > miskin, tetapi yang menikmati justru para > > pemilik > > > > mobil pribadi dari kalangan kelas menengah > > perkotaan? > > > > Konsumsi BBM lebih banyak di kalangan kelas > > menengah > > > > ketimbang kalangan masyarakat bawah. Apakah ini > > adil? > > > > Memang benar, saat harga BBM naik, terjadi > > dampak > > > > inflatoir yang membuat harga-harga naik, dan ini > > > > memberatkan masyarakat miskin. Setelah waktu > > berlalu, > > > > terbukti bahwa inflasinya tidak sebesar yang > > > > ditakutkan oleh kalangan pendukung subsidi. Saya > > > > sendiri tak hafal angka-angkanya. > > > > > > > > Sementara itu, subsidi yang sifatnya langsung > > > > diberikan kepada masyarakat miskin yang terkena > > dampak > > > > kenaikan harga. Saya sendiri berpendapat bahwa > > > > sebaiknya subsidi bersifat langsung, bukan > > melalui > > > > mekanisme harga. Sebab subsidi melalui mekanisme > > harga > > > === message truncated === > > Ulil Abshar-Abdalla > Department of Religion > Boston University > > > > > > Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com > > [Non-text portions of this message have been removed] > > > [Non-text portions of this message have been removed]
