maaf baru reply, sy blm punya ponsel yg bisa cek plus reply mail setiap saat 
kayak cak anam!
mas ulil and all,
ideologi neoliberalisme di bdiang ekonomi yg merupakan 'derivasi' dari narasi 
besar modernisme memuja pasar sekaligus meniscayaakn KOMPETISI. jadi bukan 
masalah kesejahteraan sekian persen kemudian pasar sekian persen.
orang yg memuja pasar pasti akan senang dg liberalisasi ekonomi krn net 
improvement (keuntungan bersih) yg berdampak pd banyaknya pilihan2 kemudian 
berimpliaksi pd harga lebih rendah. makanya dalam neolib ini, kompetisi adalah 
hal mutak yg tak bisa ditawar-tawar! pertanyaan saya adalah,
bagaimanana kita bisa berkompetisi jika tdk ditopang infrastruktur dan kualitas 
SDM sbgmana yg telah dimiliki oleh negara2 maju? mereka menawaran liberalisme 
di bidang ekonomi krn mereka sadar betul ketika terjadi kompetisi, mereka lah 
yg akan keluar sebagai pemenang.
sekali lagi sy akan mencetak tebal kata KOMPETISI krn ini adalah poin penting 
dalam neolib yg memuja pasar. kompetisi adalah the best strategy untuk meraih 
profit maksimal sekaligus memeroleh aloikasi sumber daya yg optimal. in short, 
one person's crisis is anothe person's opportunity for enrichment (kalo tidak 
salah). PERSIS KAYAK HUKUM RIMBA DALAM DUNIA PERHEWANANN!! siapa yg lemah maka 
dia kan dicaplok oleh yg kuat demikian pula siapa yg masuk dalam kategori 
negara berkembang maka akan menjadi bulan2an negara maju!! persis seperti 
negara kita sekarang termasuk negara2 afrika yg kaya akan SDA. jadi ini masalah 
ieologi yg hanya bisa diselesaikan dengan take over ideologi pula! sekali lagi 
bukan masalah prosentase kesejahteraan dan pasar.
Dalam hegemoni ekonomi pasar, prilaku yg didasarkan pada solidariatas adalah 
kedunguan plus ketololan! dalam kontyeks seperti ini kayaknya sekali lagi 
kayaknya ekonomi syariah bisa menjembatani kerakusan plus ketamaakan bagi yg 
kuat sbg impliaksi dari ssitem neoliob ini (gampangannya neolib diciptakan dan 
diperuntukkan hanya bagi negara yg sudah kuat secara poliotik, ekonomi, 
pendidikan, dan terutama modal). jadi yg anti neolib memang belum menawarkan 
solsusi konkrit apakah ekonomi model sosialis atau kerakyatan ala Pak Muby atau 
ekonomi syariah! namun hampir semua sepakat bahwa neolib memiskinkan rakyat/ 
negara yang sudah miskin!! oleh karenanya perlu KEBERANIAN untuk menggantinya 
dg ideologi lain!
jika subsidi langsung (kita kenal BLT) sbg ganti pencabutan subsidi BBM (ini 
sebenarnya perdebanatn alin yg butuh ruang tersendiri tapi sy haya sedikit 
komentar saja) dianggap solusi maka tolong perhatiakn fakta empirik berikut 
ini. satu, alih-alih membantu supaya yg miskin bisa sedikit 'berdiri' kayak 
orang kaya, justru konflik horizontal terjadi scr sporadis (di tempat saya, 
Jember, banyak yg tukaran bahkan bekasnya ampe sekarang gara-gara BLT ini; dan 
banyak jg daerah lainnya), masih ada pula bentrokan degan aparat setempat, 
berapa kantor desa yg dibakar? berapa ketua RT yg dikejar2 untuk dibunuh?? 
belum lagi yg meninggal akaibat antri BLT spt di banyuangi dan bbrp tempat 
lainnya!! kedua, kita tidak pernah mendengar skarang bhw yg nerima BLt beberapa 
waktu lalu, menjadi sedikit berkecukupan. yg kita dengar adalah semakin banyak 
yg makan ansi aking gara2 impor beras yg notabene juga akibat langsung dari 
pemegang kebijakan yg berkarakter neolib!!
Di sini sy baru menyoroti dari satu aspek saja betapa neolib ini menggerogoti 
sedikit demi sedikit struktur kehidupan kita. saya belu menyoroti aspek lain 
(spt Bank Dunia dan IMF) yg juga dapat menewaskan rakyat miskin dan sebuah 
negara berembang.
terakhir, sy hanya khawatir akan dua hal. pertama, meniscayakan  liberalisme di 
seluruh aspek kehidupan. karena liberalsime di bidang agama sangat pemting bagi 
kelanggenagan demokrasi maka  liberalsiem di bidang ekonomi pun dianggap hal yg 
sama. kedua,  terjatuh pd semangat gaya islam fundamentalis (bukan NU 
fundamentasli-nya Cak Anam, he..he..) yg berbekal tau  'kulit'nya islam namun 
begitu yakin bhw islam yg dipahami itulah yg dianggap sbg panacea. semoga 
kekhawatran saya salah mas ulil.
salam hormat,
munir, Ansor DIY.

Ulil Abshar-Abdalla <[EMAIL PROTECTED]> wrote:                                  
Mas Hamzah,
 Jujur saja, saya tidak tahu. Kalau yang anda sebut
 "otak intelektual" di balik pencabutan subsidi BBM
 dulu itu adalah para ekonom seperti Dede Chatib Basri,
 Muhammad Ikhsan, Sri Mulyani, atau Rizal Mallarangeng
 (meskipun dia bukan ekonom), dkk, tentu mereka sudah
 mengkaji dengan mendalam sekali dan komprehensif. 
 
 Saya sendiri, saat itu, hanya mendengarkan keterangan
 mereka yang saya anggap persuasif, dan itulah sebabnya
 saya mendukung pencabutan subsidi BBM.
 
 Menurut saya, kelemahan argumen temen-temen yang anti
 pencabutan subsidi seperti Revrisond Baswir saat itu
 adalah kecenderungan mengangkat isu spesifik ini ke
 tema besar "anti-neoliberalisme". Pada level yang
 sedikit populer, yang berkembang justru adalah semacam
 teori konspirasi. Mereka lemah sekali pada level
 analisa mikronya. Mencabut subsidi langsung dianggap
 setuju dengan seluruh agenda neo-liberalisme.
 Perdebataannya menjadi tidak terfokus pada isu
 spesifik, tetapi debat ideologi. Menurut saya, ini
 kurang berguna dalam konteks "problem solving" untuk
 masalah yang kongkrit seperti isu BBM.
 
 Menurut saya, kalau mau diskusi soal neo-liberalisme
 harus diselenggarakan terpisah. Orang-orang yang
 mendukung pencabutan subsidi, belum tentu sepakat
 dengan neo-liberalisme. Saya sendiri setuju dengan
 banyak kritik kaum anti-globalisasi terhadap
 neo-liberalisme, tetapi saya tidak mau ikut bergabung
 dalam gerakan itu, dengan alasan yang sudah saya tulis
 di email sebelumnya. 
 
 Mencabut subsidi BBM, saat itu, juga langsung dituduh
 anti-rakyat kecil. Saya menyayangkan sekali cara
 berargumen seperti ini. Menurut saya, cara argumen
 seperti ini terlalu simplistis dan tendensius, dan
 mutunya sama dengan tuduhan kaum Islam fundamentalis
 terhadap kalangan liberal yang dianggap menghina agama
 kareka menafsirkan kembali teks-teks agama. 
 
 Pokok soal yang menjadi bahan perdebatan di sini
 sebetulnya isu keadilan. Kalangan yang mencukung
 pencabutan subsidi BBM melihat ketidakadilan dalam
 fakta berikut ini: BBM adalah konsumsi utama kelas
 menengah; kalau disubsidi yang menikmati kelas
 menengah. Kalangan yang menentang mempunyai cara
 pandang lain: kalau BBM naik, akan membawa inflasi
 besar, dan itu artinya harga-harga kebutuhan pokok
 naik, dan di sana yang dirugikan adalah kaum miskin.
 Ini tidak adil. 
 
 Dua-duanya memakai kaca-mata keadilan. Mana yang anda
 pilih? Ini terserah pada ijtihad masing-masing
 perorangan. Tapi tolonglah jangan menuduh
 antek-neoliberalisme, anti rakyat kecil, dsb. Kalau
 tuduh-menuduh begitu, apa bedanya kita dengan orang
 Dewan Dakwah yang menuduh Gus Dur atau Cak Nur
 antek-zionis, antek-Amerika?
 
 Mengutip kata-kata Pramudya, bersikaplah adil sejak di
 pikiran.
 
 Ulil
 
 --- lakpesdam <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
 
 > mas ulil, bagi saya yang tak mengerti secuil pun
 > politik ekonomi (atau
 > apaapun istilahnya), tulisan sampean ini "meggang
 > banget" (tahu iklannya
 > titi kamal utk produk sarimi kan?), seperti minum
 > kopi di (stasiun) tugu
 > (jogja) plus jadah bakar.
 > 
 > saya tak kuasa mengomentari tulisan sampean, karena
 > takrib saja
 > merangkak-rangkak, apalagi "ilmu kafir" yang tak
 > pernah aku pegang. ndak
 > tekan akalku, mas.
 > 
 > saya ingin bertanya tentang satu hal saja sama
 > sampean, mas ulil, yaitu
 > apakah kebijakan kenaikan BBM yang diiringi dengan
 > subsidi langsung ke warga
 > miskin itu sudah PAS? saya tak tahu, apakah
 > pemerntah beserta otak
 > intelektualnya sudah mengkaji soal ini secara
 > komperhensif?
 > 
 > pertanyaan ini tentu cukup polos, tp saya memang
 > belum tahu jawabannya.
 > 
 > saya kira itu saja, kalau banyak bertanya atau
 > menanggapi sesuatu yang tak
 > mengerti nanti akan makin gatra ketidaktahuan saya.
 > 
 > salam
 > hamzah.
 > 
 > > ----- Original Message -----
 > > From: "Ulil Abshar-Abdalla" <[EMAIL PROTECTED]>
 > > To: <[email protected]>
 > > Sent: Thursday, February 22, 2007 2:36 AM
 > > Subject: Re: [kmnu2000] "Sekularisme" sukarela
 > --Untuk Mas Munir
 > >
 > >
 > > > Mas Munir,
 > > > Saya ndak yakin anda benar-benar tidak setuju
 > > > liberalisasi di bidang ekonomi. Maksud anda
 > mungkin
 > > > bukan anti liberalisasi ekonomi per se, tetapi
 > > > liberalisasi yang tak terkontrol. Jadi yang anda
 > > > persoalkan mungkin derajat liberalisasi. Mohon
 > > > dikoreksi kalau saya salah duga.
 > > >
 > > > Fondasi ekonomi liberal adalah ekonomi pasar.
 > Lawannya
 > > > adalah ekonomi terpimpin yang dikontrol negara
 > seperti
 > > > dalam sosialisme. Ekonomi terpimpin ambruk semua
 > > > sekarang, yang terbukti jalan dan masuk akal
 > adalah
 > > > ekonomi pasar.
 > > >
 > > > Dengan mengecualikan kasus Korut dan Kuba, saat
 > ini
 > > > ekonomi pasar hampir merupakan praktek yang
 > sulit
 > > > ditolak. Tentu setiap negara menganut variasi
 > yang
 > > > berbeda dalam menerapkan ekonomi pasar. Tetapi
 > intinya
 > > > sama: pasar plus kesejahteraan. Ada yang
 > pasarnya 70%,
 > > > kesejahteraannya 30%, ada yang terbalik, ada
 > yang
 > > > separoh-separoh, dsb.
 > > >
 > > > Sekarang ini di kalangan anak-anak muda NU
 > sedang
 > > > muncul "trend" anti-globalisasi yang dikombinasi
 > > > dengan ideologi dan teori macem-macem. Ada
 > > > anti-globalisasi plus pos-kolonialisme, ada yang
 > plus
 > > > tradisionalisme, ada yang plus radikalisme dan
 > > > koservatisme, ada yang plus populisme, ada juga
 > yang
 > > > plus ideologi kiri-baru (yang sekarang sudah
 > pudar).
 > > > Ada anti-globalisasi yang motivasinya relijius,
 > ada
 > > > yang murni sekuler. Pokoknya gerakan
 > anti-globalisasi
 > > > sekarang ini seperti "keranjang" yang bisa
 > dimasuki
 > > > apa saja, jadi kayak gado-gado yang
 > kadang-kadang
 > > > membingungkan.
 > > >
 > > > Yang kurang jelas pada penggiat anti-globalisasi
 > > > adalah bentuk ekonomi yang mereka inginkan.
 > Apakah
 > > > mereka menginginkan ekonomi terpimpin yang sudah
 > > > kedaluwarsa itu, atau ekonomi pasar yang
 > kandungan
 > > > kesejahteraannya lebih besar, atau malah ekonomi
 > > > Islam, misalnya? Atau mereka ingin menegakkan
 > kembali
 > > > sosialisme negara a la Soviet atau Cina
 > > > pra-liberalisasi?
 > > >
 > > > Jawabannya tidak jelas, karena yang ikut
 > "menunggangi"
 > > > gerakan anti-globalisasi datang dari latar
 > ideologi,
 > > > aspirasi serta kecenderungan intelektual yang
 > > > berbeda-beda.
 > > >
 > > > Karena anda menyebut soal subsidi, saya ingin
 > > > memberikan komentar sedikit. Meskipun keahian
 > saya
 > > > selama ini sebatas Taqrib, Tahrir, dan Alfiyyah,
 > ya
 > > > dikit-dikit bacalah pemikiran ekonomi yang
 > ditulis
 > > > Hayek, Milton Friedman, atau Amartya
 > Sen--minimal baca
 > > > daftar isi dan kesimpulan, he he he. Tetapi,
 > sekali
 > > > lagi, saya bukan ahli ekonomi, jadi pendapat
 > saya ini
 > > > anggap saja pendapat "kedai kopi". Sama sekali
 > tidak
 > > > ilmiah.
 > > >
 > > > Menurut saya, tidak ada kontradiksi antara
 > ekonomi
 > > > pasar yang liberal dengan subdisi. Seperti saya
 > > > katakan di atas, praktek ekonomi pasar di semua
 > negara
 > > > saat ini selalu dikombinasikan dengan
 > kesejahteraan.
 > > > Tidak ada yang murni pasar. Kesejahteraan itu
 > tiada
 > > > lain adalah subsidi atau kebijakan lain yang
 > sifatnya
 > > > "afirmatif".
 > > >
 > > > Yang membedakan antara satu negara dengan negara
 > lain
 > > > adalah sejauh mana subsidi dilakukan. Tetapi
 > subsidi
 > > > sendiri sebagai kebijakan, semua pihak sepakat.
 > Apakah
 > > > suatu subsidi dalam satu bidang tertentu harus
 > > > dipertahankan atau tidak, itu di luar keahlian
 > saya,
 > > > sebab ini menyangkut analisa kebijakan yang
 > bersifat
 > > > mikro dan tidak mudah.
 > > >
 > > > Dalam kasus pencabutan subsidi BBM dulu,
 > misalnya,
 > > > saya melihat argumen yang pro-subsidi BBM
 > cenderung
 > > > "emosional" seperti diwakili oleh orang-orang
 > macam
 > > > Revrisond Baswir. Cara argumentasi Revrisond
 > saat itu
 > > > mengingatkan saya pada cara-cara yang dipakai
 > kalangan
 > > > Islam fundamentalis dalam mempertahankan syariat
 > > > Islam, meskipun ya tidak persis demikian.
 > Sementara
 > > > argumen yang mendukung pencabutan, buat saya,
 > jauh
 > > > lebih "nuchter", dingin, dan masuk akal.
 > > >
 > > > Logika para pendukung pencabutan subsidi saat
 > itu,
 > > > menurut saya, lebih persuasif: bagaimana mungkin
 > > > subsidi BBM yang tujuannya untuk menolong orang
 > > > miskin, tetapi yang menikmati justru para
 > pemilik
 > > > mobil pribadi dari kalangan kelas menengah
 > perkotaan?
 > > > Konsumsi BBM lebih banyak di kalangan kelas
 > menengah
 > > > ketimbang kalangan masyarakat bawah. Apakah ini
 > adil?
 > > > Memang benar, saat harga BBM naik, terjadi
 > dampak
 > > > inflatoir yang membuat harga-harga naik, dan ini
 > > > memberatkan masyarakat miskin. Setelah waktu
 > berlalu,
 > > > terbukti bahwa inflasinya tidak sebesar yang
 > > > ditakutkan oleh kalangan pendukung subsidi. Saya
 > > > sendiri tak hafal angka-angkanya.
 > > >
 > > > Sementara itu, subsidi yang sifatnya langsung
 > > > diberikan kepada masyarakat miskin yang terkena
 > dampak
 > > > kenaikan harga. Saya sendiri berpendapat bahwa
 > > > sebaiknya subsidi bersifat langsung, bukan
 > melalui
 > > > mekanisme harga. Sebab subsidi melalui mekanisme
 > harga
 > 
 === message truncated ===
 
 Ulil Abshar-Abdalla
 Department of Religion
 Boston University
 
 
     
                       

 Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke