Maaf jika OOT. Menarik mengikuti debat panjang dari buntut 'salah kirim' posting mas ulil ini. Setidaknya salah kirim ini menjadi berkah untuk berdiskusi panjang mengenai apa saja, walaupun yang patut disayangkan adalah sinisme yang ditunjukkan peserta milis ketika harus merespons gagasan yang tidak disetujuinya. Nada-nada meremehkan, apalagi 'menghakimi', sangat mengganggu alur diskusi yang dinamis di milis ini. Saya bukan moderator milis ini. Tapi saya adalah penikmat geliat diskusi yang digulirkan sahabat-sahabat di dunia maya ini. Berbeda pandangan satu hal yang wajar. Yang tidak wajar adalah meremehkan pandangan orang lain. Btw, saya ingin mengucapkan alf mabruk kepada Mas Ulil yang udah diterima di PHD program di Harvard University.
AFS On 2/23/07, kh anam <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Mas Ulil, jujur saya masih senang dengan sampean, paling tidak bisa > memberi > warna lain di milis kmnu biar tidak monoton. Saya kira milis kmnu ini > lebih > cocok dan lebih "masuk akal" buat sampean dari pada di milis jil yang > belum > apa-apa orang sudah bilang "setuju" kayak zaman orba saja. > > Saya tidak ada hubungan biologis dengan mas baso (kami kenal di LTN sudah > sama-sama terkenal, hehe..).... Ketika membaca tulisan sampean yang indah > di > kmnu bertajuk "sekularisme sukarela" yang kemudian disusul sampean bilang > salah kirim (hehe... kmnu dan jil kan hurufnya beda jauh, bisa aja lu...) > saya sempat bergumam ada lagi yang sukarela yakni ketika sampean dan > kawan-kawan mengkampanyekan liberalisme Islam maka secara sukarela sampean > mendukung praktik liberalisme ekonomi --terlepas apakah jil setuju > liberalisme ekonomi atau tidak-- Ketika misalnya secara sukarela jil > "bersahabat" dengan Freedom Institut maka secara sukarena juga jil > mendukung > kampanye pasar bebas mereka --Mas Ulil pasti hafal nama-nama ideolog pasar > bebas di Fredom Institut. > > Yang diperjuangkan oleh jil dan LSM-LSM wacana adalah kebebasan dalam > berfikir tentang agama atau lebih muluk-muluknya kebebasan dalam berfikir > kritis: seperti berdemokrasi, penegaan ham, kesetaraan dender, > pluralisme/multikulturalisme, anti terorisme, gerakan moral anti korupsi, > dan lain-lain. Sementara yang diperjuangkan oleh orang-orang pasar adalah > kebebasan dalam berdagang, itu saja. Nah ternyata isu-isu macam jil selalu > menjadi jurus ampuh orang-orang pasar: Mereka berkampanye tentang > pikiran-pikiran kritis itu sambil membawa barang dagangan. Lihat bagaimana > gerakan moral anti korupsi yang digelontorkan oleh LSM-LSM dan dibiayai > oleh > lembaga founding --lembaga hibah hasil urunan para pedagang-- mampu > menggeser isu kegagalan sistem ekonomi liberal orde baru. Katakan, yang > disalahkan bukan sistem ekonominya tapi mental para pejabatnya yang korup > dan malas. Sama persis dengan alasan "kumpeni". > > Setelah pikiran-pikiran kritis itu diputar-putar oleh kalangan LSM macam > jil > sebaga "wacana" maka dengan mudahnya negara maju atau --melalui-- > organisasi > perdagangan dunia berbisnis di Indonesia dengan pertama-tama berkampanye > tentang pikiran-pikiran kritis. Lihat betapa mudahnya mereka "berbisnis" > di > Aceh setelah mereka berbicara banyak tentang jilbab dan kesetaraan gender, > atau negara Islam. Saya kira orang LSM yang paling "benar" adalah Gus Dur: > Mau menerima dana hibah dan berkampanye soal-pikiran-pikiran kritis tadi, > tapi soal pasar bebas dia selalu bilang tidak. Bahasa Amerikanya mungkin, > no > way! > > Jadi, persoalannya tidak sekedar cium tangan kiai, itu urusan sampean > dengan > mas baso. > > [Non-text portions of this message have been removed] > > > -- A. Fawaid Sjadzili http://fawaidku.blogspot.com [Non-text portions of this message have been removed]
