***********************
Your mail has been scanned by Chandra Asri InterScan.
***********-***********


mas anam yg mantan lurah pondok ciganjur,

ya begitulah gaya kyai ulil, dia mencoba untuk kaaffah dalam liberalismenya,
jadi nggak perlu heran,
antara mbah baso dan kyai ulil sama2 pernah mendekam di lakpesdam nu,
sebelum keduanya berkiprah di tempat lain.
masalah beda ijtihad ya itu biasa, toh masing2 punya argumen yang kuat.
yang jelas saya bangga terhadap keduanya...josss ilmune...

btw, mbah ahmad baso kemana ya? saya cuma bisa membaca tulisan2 beliau di 
tashwirul afkar, adakah beliau masih aktif di milis ini?

salam,
syaikhul

nb. Selamat buat kyai ulil, barusan saya membaca posting dari sukidi, sampeyan 
hari ini resmi menjadi mahasiswa PHD program di harvard university.




-----Original Message-----
From: kh anam [mailto:[EMAIL PROTECTED]
Sent: Friday, February 23, 2007 11:46 AM
To: [email protected]
Subject: [kmnu2000] "Sekularisme" sukarela --buat mas Ulil



Mas Ulil, jujur saya masih senang dengan sampean, paling tidak bisa memberi
warna lain di milis kmnu biar tidak monoton. Saya kira milis kmnu ini lebih
cocok dan lebih "masuk akal" buat sampean dari pada di milis jil yang belum
apa-apa orang sudah bilang "setuju" kayak zaman orba saja.

Saya tidak ada hubungan biologis dengan mas baso (kami kenal di LTN sudah
sama-sama terkenal, hehe..).... Ketika membaca tulisan sampean yang indah di
kmnu bertajuk "sekularisme sukarela" yang kemudian disusul sampean bilang
salah kirim (hehe... kmnu dan jil kan hurufnya beda jauh, bisa aja lu...)
saya sempat bergumam ada lagi yang sukarela yakni ketika sampean dan
kawan-kawan mengkampanyekan liberalisme Islam maka secara sukarela sampean
mendukung praktik liberalisme ekonomi --terlepas apakah jil setuju
liberalisme ekonomi atau tidak-- Ketika misalnya secara sukarela jil
"bersahabat" dengan Freedom Institut maka secara sukarena juga jil mendukung
kampanye pasar bebas mereka --Mas Ulil pasti hafal nama-nama ideolog pasar
bebas di Fredom Institut.

Yang diperjuangkan oleh jil dan LSM-LSM wacana adalah kebebasan dalam
berfikir tentang agama atau lebih muluk-muluknya kebebasan dalam berfikir
kritis: seperti berdemokrasi, penegaan ham, kesetaraan dender,
pluralisme/multikulturalisme, anti terorisme, gerakan moral anti korupsi,
dan lain-lain. Sementara yang diperjuangkan oleh orang-orang pasar adalah
kebebasan dalam berdagang, itu saja. Nah ternyata isu-isu macam jil selalu
menjadi jurus ampuh orang-orang pasar: Mereka berkampanye tentang
pikiran-pikiran kritis itu sambil membawa barang dagangan. Lihat bagaimana
gerakan moral anti korupsi yang digelontorkan oleh LSM-LSM dan dibiayai oleh
lembaga founding --lembaga hibah hasil urunan para pedagang-- mampu
menggeser isu kegagalan sistem ekonomi liberal orde baru. Katakan, yang
disalahkan bukan sistem ekonominya tapi mental para pejabatnya yang korup
dan malas. Sama persis dengan alasan "kumpeni".

Setelah pikiran-pikiran kritis itu diputar-putar oleh kalangan LSM macam jil
sebaga "wacana" maka dengan mudahnya negara maju atau --melalui-- organisasi
perdagangan dunia berbisnis di Indonesia dengan pertama-tama berkampanye
tentang pikiran-pikiran kritis. Lihat betapa mudahnya mereka "berbisnis" di
Aceh setelah mereka berbicara banyak tentang jilbab dan kesetaraan gender,
atau negara Islam. Saya kira orang LSM yang paling "benar" adalah Gus Dur:
Mau menerima dana hibah dan berkampanye soal-pikiran-pikiran kritis tadi,
tapi soal pasar bebas dia selalu bilang tidak. Bahasa Amerikanya mungkin, no
way!

Jadi, persoalannya tidak sekedar cium tangan kiai, itu urusan sampean dengan
mas baso.

[Non-text portions of this message have been removed]








[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke