Mas Anam, Soal email saya yang salah kirim itu, ceritanya sangat sederhana. Salah seorang anggota milis JIL menulis email yang dikirim ke milis JIL dan sejumlah milis lain secara bersamaan, termasuk milis KMNU. Ketika saya reply, ternyata terkirim ke KMNU. Saya baru sadar belakangan. Akhirnya saya harus mengirim email ulang ke milis JIL.
Komentar anda yang lain kurang menarik buat saya, karena "nadanya" seperti teori konspirasi. Saya menganjurkan anda membaca sejarah pemikiran barat dengan baik dan cobalah hindari berpikir dalam kerangka teori konspirasi. Tapi soal pasar bebas ingin saya tanggapi sekali lagi. Sekali lagi, saya bukan seorang ekonom. Jadi tanggapan ini adalah tanggapan awam. Yang dibutuhkan Indonesia sekarang ini adalah investasi sebanyak-banyaknya dari perusahaan asing, seperti dilakukan oleh negeri-negeri ASEAN yang lain. Indonesia memerlukan iklim investasi yang baik, sehingga modal asing masuk, menciptakan lapangan kerja yang banyak, sehingga pengangguran berkurang. Kalau ekonomi kita baik dan lapangan pekerjaan banyak, kan ndak perlu kita kirim TKW ke luar negeri yang akhirnya di negeri seberang nasibya dikuyo-kuyo. Eh, kok malah ada orang membenci modal asing. Gimana sih ini? Apalagi membenci modal asing dengan alasan seolah-olah membela rakyat kecil. Lho, bagaimana? Di mana logikanya? Adapun modal asing membawa dampak negatif, ya dampaknya itu yang diatasi, jangan modal asingnya dimusuhi dong. Ulil --- kh anam <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Mas Ulil, jujur saya masih senang dengan sampean, > paling tidak bisa memberi > warna lain di milis kmnu biar tidak monoton. Saya > kira milis kmnu ini lebih > cocok dan lebih "masuk akal" buat sampean dari pada > di milis jil yang belum > apa-apa orang sudah bilang "setuju" kayak zaman orba > saja. > > Saya tidak ada hubungan biologis dengan mas baso > (kami kenal di LTN sudah > sama-sama terkenal, hehe..).... Ketika membaca > tulisan sampean yang indah di > kmnu bertajuk "sekularisme sukarela" yang kemudian > disusul sampean bilang > salah kirim (hehe... kmnu dan jil kan hurufnya beda > jauh, bisa aja lu...) > saya sempat bergumam ada lagi yang sukarela yakni > ketika sampean dan > kawan-kawan mengkampanyekan liberalisme Islam maka > secara sukarela sampean > mendukung praktik liberalisme ekonomi --terlepas > apakah jil setuju > liberalisme ekonomi atau tidak-- Ketika misalnya > secara sukarela jil > "bersahabat" dengan Freedom Institut maka secara > sukarena juga jil mendukung > kampanye pasar bebas mereka --Mas Ulil pasti hafal > nama-nama ideolog pasar > bebas di Fredom Institut. > > Yang diperjuangkan oleh jil dan LSM-LSM wacana > adalah kebebasan dalam > berfikir tentang agama atau lebih muluk-muluknya > kebebasan dalam berfikir > kritis: seperti berdemokrasi, penegaan ham, > kesetaraan dender, > pluralisme/multikulturalisme, anti terorisme, > gerakan moral anti korupsi, > dan lain-lain. Sementara yang diperjuangkan oleh > orang-orang pasar adalah > kebebasan dalam berdagang, itu saja. Nah ternyata > isu-isu macam jil selalu > menjadi jurus ampuh orang-orang pasar: Mereka > berkampanye tentang > pikiran-pikiran kritis itu sambil membawa barang > dagangan. Lihat bagaimana > gerakan moral anti korupsi yang digelontorkan oleh > LSM-LSM dan dibiayai oleh > lembaga founding --lembaga hibah hasil urunan para > pedagang-- mampu > menggeser isu kegagalan sistem ekonomi liberal orde > baru. Katakan, yang > disalahkan bukan sistem ekonominya tapi mental para > pejabatnya yang korup > dan malas. Sama persis dengan alasan "kumpeni". > > Setelah pikiran-pikiran kritis itu diputar-putar > oleh kalangan LSM macam jil > sebaga "wacana" maka dengan mudahnya negara maju > atau --melalui-- organisasi > perdagangan dunia berbisnis di Indonesia dengan > pertama-tama berkampanye > tentang pikiran-pikiran kritis. Lihat betapa > mudahnya mereka "berbisnis" di > Aceh setelah mereka berbicara banyak tentang jilbab > dan kesetaraan gender, > atau negara Islam. Saya kira orang LSM yang paling > "benar" adalah Gus Dur: > Mau menerima dana hibah dan berkampanye > soal-pikiran-pikiran kritis tadi, > tapi soal pasar bebas dia selalu bilang tidak. > Bahasa Amerikanya mungkin, no > way! > > Jadi, persoalannya tidak sekedar cium tangan kiai, > itu urusan sampean dengan > mas baso. > > > [Non-text portions of this message have been > removed] > > Ulil Abshar-Abdalla Department of Religion Boston University
