wah, obrolan dari investasi hingga jenggot segala. Luar biasa!! tapi setahu
saya orang yg berjenggot tidak pernah berinvestasi...he..he..maaf gurau.
kembali ke problem awal masalah (neo) liberalisme ekonomi.
Sy kira sudah saatnya menyatakan go to hell ke neolib mengingat KEGAGALANNYA
saat ini di negara kita dalam mengentaskan problem kemiskinan dan pengangguran.
saya berani untuk mengatakan bahwa sudah saatnya kita mencoba sistem ekonomi
baru yang lebih concern pada dua problem vital (kemiskinan dan pengangguran;
walau problem vital ekonomi tdk hanya 2 ini) rakyat indonesia saat ini. namanya
sistem ekonomi, ya tentu saja untuk menyejahterakan orang yg masuk dalam
lingkaran sitem tsb. tapi maaf, bukan mencoba-coba (sistem ekonomi baru yg
melibatkan 200 juta nyawa lebih), buat anak aja dilarang coba-coba kok.
salam,
munir, Ansor DIY.
kh anam <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Mas Ulil,
Saya juga membaca sejarah pemikiran barat, tapi mungkin tidak sekenceng
sampean. Yang paling berkesan buat saya adalah ketika membaca buku tahun
50-an berjudul "Aera Eropa" karangan Prof JM Romein, seorang maha guru
Universitas Amsterdam dan UGM. BUku itu direkomendasikan oleh Gus Dur di
pesantren Ciganjur bagi para santri yang ingin membaca sejarah peradaban
Barat. Dijelentrehkan bahwa Eropa maju adalah sebab mereka telah melakukan
"penyimpangan" dari "pola umum" atau pola sejarah umum --kita menyebutnya,
prilaku nyeleneh-- Yang nyeleneh itu terutama tampak diamati dari tradisi
filsafat sampai meledak-ledak menjadi renaissance, nasionalisme,
protestantisme, kapitalisme, dan isme-isme yang lain, aufklarung, revolusi
industri, revolusi amerika dan perancis, penemuan "daerah-daerah baru" atau
penj(jel)ajahan fisik dan dan diakhiri oleh akhir hegemoni eropa dan
munculnya imperialisme modern.... Indonesia (orang Islamnya) bisa juga
melakukan hal yang nyeleneh itu. Tapi lalu ada yang tidak bisa tidak bahwa
proses pembentukan sejarah Indonesia se-nyeleneh apapun tidak bisa terlepas
dari posisinya sebagai "negeri jajahan"; sejarah Indonesia tidak 100persen
bisa mandiri. Maka berfikir tentang Indonesia yang maju dan beradap, menurut
saya, tidak bisa dilepaskan dari konteks "hegemonia eropa" (atau Amerika)
yang masih berlangsung. Itu saja. Ini namanya "konspirasi" atau apa pun
namnya, tidak menjadi penting.
Saya juga bukan ahli ekonomi, tapi saya mencoba-coba belajar ekonomi. Mas
Ulil jangan buru-buru mendukung masuknya dana asing dan kelancaran arus
investasi donk! Saya kira, kali ini, mas ulil yang perlu membaca banyak buku
pelajaran mengenai "filsafat ekonomi", termasuk angka-angka teoritik dan
statistik yang masuk akal itu. Silahkan dibuktikan apakah benar bahwa arus
investasi itu sejajar dengan pengentasan kemiskinan atau penurunan angka
"riil" pengangguran. Jangan-jangan ada yang justru "tidak masuk akal" di
sana. Kalau "merasa" tidak mau mendalami ekonomi yang tidak usah ikut-ikutan
mendukung begitu. "Berkata yang baik atau diamlah..!". Urus saja
jenggot-jenggot FPI... heheh...
Lagi-lagi saya bicara Indonesia dalam kontek hegemonia. Jika begitu maka
keindahan "pasar bebas" yang "masuk akal" itu tidak akan serta-merta
dinikmati dengan memejamkan mata.
Jadi begitu,
Selamat, dapat tambahan kuliah gratis lagi
On 2/25/07, Ulil Abshar-Abdalla <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Mas Anam,
> Soal email saya yang salah kirim itu, ceritanya sangat
> sederhana. Salah seorang anggota milis JIL menulis
> email yang dikirim ke milis JIL dan sejumlah milis
> lain secara bersamaan, termasuk milis KMNU. Ketika
> saya reply, ternyata terkirim ke KMNU. Saya baru sadar
> belakangan. Akhirnya saya harus mengirim email ulang
> ke milis JIL.
>
> Komentar anda yang lain kurang menarik buat saya,
> karena "nadanya" seperti teori konspirasi. Saya
> menganjurkan anda membaca sejarah pemikiran barat
> dengan baik dan cobalah hindari berpikir dalam
> kerangka teori konspirasi.
>
> Tapi soal pasar bebas ingin saya tanggapi sekali lagi.
> Sekali lagi, saya bukan seorang ekonom. Jadi tanggapan
> ini adalah tanggapan awam.
>
> Yang dibutuhkan Indonesia sekarang ini adalah
> investasi sebanyak-banyaknya dari perusahaan asing,
> seperti dilakukan oleh negeri-negeri ASEAN yang lain.
> Indonesia memerlukan iklim investasi yang baik,
> sehingga modal asing masuk, menciptakan lapangan kerja
> yang banyak, sehingga pengangguran berkurang. Kalau
> ekonomi kita baik dan lapangan pekerjaan banyak, kan
> ndak perlu kita kirim TKW ke luar negeri yang akhirnya
> di negeri seberang nasibya dikuyo-kuyo.
>
> Eh, kok malah ada orang membenci modal asing. Gimana
> sih ini? Apalagi membenci modal asing dengan alasan
> seolah-olah membela rakyat kecil. Lho, bagaimana? Di
> mana logikanya?
>
> Adapun modal asing membawa dampak negatif, ya
> dampaknya itu yang diatasi, jangan modal asingnya
> dimusuhi dong.
>
> Ulil
>
> --- kh anam <[EMAIL PROTECTED] <gus.anam%40gmail.com>> wrote:
>
> > Mas Ulil, jujur saya masih senang dengan sampean,
> > paling tidak bisa memberi
> > warna lain di milis kmnu biar tidak monoton. Saya
> > kira milis kmnu ini lebih
> > cocok dan lebih "masuk akal" buat sampean dari pada
> > di milis jil yang belum
> > apa-apa orang sudah bilang "setuju" kayak zaman orba
> > saja.
> >
> > Saya tidak ada hubungan biologis dengan mas baso
> > (kami kenal di LTN sudah
> > sama-sama terkenal, hehe..).... Ketika membaca
> > tulisan sampean yang indah di
> > kmnu bertajuk "sekularisme sukarela" yang kemudian
> > disusul sampean bilang
> > salah kirim (hehe... kmnu dan jil kan hurufnya beda
> > jauh, bisa aja lu...)
> > saya sempat bergumam ada lagi yang sukarela yakni
> > ketika sampean dan
> > kawan-kawan mengkampanyekan liberalisme Islam maka
> > secara sukarela sampean
> > mendukung praktik liberalisme ekonomi --terlepas
> > apakah jil setuju
> > liberalisme ekonomi atau tidak-- Ketika misalnya
> > secara sukarela jil
> > "bersahabat" dengan Freedom Institut maka secara
> > sukarena juga jil mendukung
> > kampanye pasar bebas mereka --Mas Ulil pasti hafal
> > nama-nama ideolog pasar
> > bebas di Fredom Institut.
> >
> > Yang diperjuangkan oleh jil dan LSM-LSM wacana
> > adalah kebebasan dalam
> > berfikir tentang agama atau lebih muluk-muluknya
> > kebebasan dalam berfikir
> > kritis: seperti berdemokrasi, penegaan ham,
> > kesetaraan dender,
> > pluralisme/multikulturalisme, anti terorisme,
> > gerakan moral anti korupsi,
> > dan lain-lain. Sementara yang diperjuangkan oleh
> > orang-orang pasar adalah
> > kebebasan dalam berdagang, itu saja. Nah ternyata
> > isu-isu macam jil selalu
> > menjadi jurus ampuh orang-orang pasar: Mereka
> > berkampanye tentang
> > pikiran-pikiran kritis itu sambil membawa barang
> > dagangan. Lihat bagaimana
> > gerakan moral anti korupsi yang digelontorkan oleh
> > LSM-LSM dan dibiayai oleh
> > lembaga founding --lembaga hibah hasil urunan para
> > pedagang-- mampu
> > menggeser isu kegagalan sistem ekonomi liberal orde
> > baru. Katakan, yang
> > disalahkan bukan sistem ekonominya tapi mental para
> > pejabatnya yang korup
> > dan malas. Sama persis dengan alasan "kumpeni".
> >
> > Setelah pikiran-pikiran kritis itu diputar-putar
> > oleh kalangan LSM macam jil
> > sebaga "wacana" maka dengan mudahnya negara maju
> > atau --melalui-- organisasi
> > perdagangan dunia berbisnis di Indonesia dengan
> > pertama-tama berkampanye
> > tentang pikiran-pikiran kritis. Lihat betapa
> > mudahnya mereka "berbisnis" di
> > Aceh setelah mereka berbicara banyak tentang jilbab
> > dan kesetaraan gender,
> > atau negara Islam. Saya kira orang LSM yang paling
> > "benar" adalah Gus Dur:
> > Mau menerima dana hibah dan berkampanye
> > soal-pikiran-pikiran kritis tadi,
> > tapi soal pasar bebas dia selalu bilang tidak.
> > Bahasa Amerikanya mungkin, no
> > way!
> >
> > Jadi, persoalannya tidak sekedar cium tangan kiai,
> > itu urusan sampean dengan
> > mas baso.
> >
> >
> > [Non-text portions of this message have been
> > removed]
> >
> >
>
> Ulil Abshar-Abdalla
> Department of Religion
> Boston University
>
>
>
[Non-text portions of this message have been removed]
Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com
[Non-text portions of this message have been removed]