Dear yang lagi berdebat. Saya bukanlah orang yang mengikuti debat anak muda NU akhir-akhir ini dengan tepat, kumplit, dan ikut merasakan iklimnya sebagaimana teman-teman di Jakarta.
Tetapi mengenai tetapi mengenai liberalisme itu boleh2 saja. kuncinya sederhana, bagaimana posisi negara ? itu saja. bagi mereka yang percaya liberalisme negara musti minimal, biar masyarakat berkembang sendiri, termasuk ekonomi. Saya bukan bermaksud membela Mas Ulil, akan tetapi setidaknya dalam arena perdebatan wacana di Indonesia belum ada kalangan yang berani menyatakan diri "saya kanan" "saya pengikut liberalisme" dan seterusnya. Hampir semua orang dipelosok negeri ini "ngeri" mendengar wacana Liberalisme. tapi dengan kehadiran orang seperti Ulil dan teman-temannya setidaknya memberikan wawasan baru bagi kita, apa sich liberalisme itu?. sebab bila kita tengok sejarah semua pendiri2 bangsa ini penganut sosialisme atau paling tidak komunitarianisme. Jadi jangan salahkan liberalisme... justru dengan kehadirannya kita jadi lebih rasional, tidak asal "subsisdi", "tolak privatisasi" dan seterusnya. mengenai Tunggang menunggang, itu wajar, tapi mereka yang ditunggai bukan lah robot yang diam begitu saja, sehinga tidak punya "kedualatan agency", jadi tenang saja. entah itu seosialisme, komunitarianisme atau liberalisme yang penting bagi saya adalah dialog positif di antara mereka. saya sendiri nggak tau, paham apa yang saya anut sekarang ini, masih mencari-cari belum final pergulatanya. Amex --------------------------------------------------------------------------- Ikuti Lomba Karya Tulis Online dalam rangka 10 Tahun Multimedia TELKOM dan menangkan 1 laptop, 1 buah PC, 2 Speedy Unlimited 1 tahun, 2 kartu iVAS @ 200 Ribu, dan masih banyak hadiah menarik lainnya. Untuk informasi lebih lanjut klik http://www.plasa.com/ktonline/ ---------------------------------------------------------------------------
