Soal demo anti Syiah, kita harus akui bahwa warga NU di bawah tak banyak 
memahami duduk persoalannya. Artinya, asal ajarannya beda dengan NU atau beda 
dengan paham yang dianut kebanyakan muslim Indonesia, ya main hajar aja. Kita 
tahu juga, nggak cuma Syiah yang mendapat perlakuan kayak gitu di Tanah Air 
ini. Paham Wahabi, Ahmadiyah, dan paham "aneh-aneh" lainnya pun kerap mendapat 
perlakuan yang tidak adil. Kalo boleh menyimpulkan, sebenarnya kemoderatan 
Ahlussunah Wal Jamaah-nya NU hanya ada pada tataran elit saja. Dalam 
pengertian, mereka orang NU yang berpikir moderat itu, ya hanya pada 
tokoh-tokohnya, akademisi, aktivis, peneliti, mahasiswa, dan lain-lain. Cuma 
itu. Selebihnya, apalagi pada tingkat bawah, moderasi NU itu tidak ada. Apalagi 
kalau ajaran yang "asing" itu masuk dan berkembang di Indonesia dengan 
cara-cara yang tidak saling menghargai, tidak menghormati kebudayaan setempat, 
dan sebagainya.

Soal dukungan PBNU terhadap nuklir Iran, dalam suatu kesempatan KH Hasyim 
Muzadi pernah berkata, "Saya ini sebetulnya tidak suka dengan Syiah. Banyak 
ajarannya yang menyimpang. Tapi saya membela Iran bukan karena Syiah-nya, tapi 
atas dasar kemanusiaan. Semua bangsa juga punya hak untuk mengembangkan 
teknologi, termasuk tekonolgi nuklir, sepanjang untuk kepentingan damai atau 
tidak untuk senjata."

Pernyataan itu bisa kita tafsirkan, pertama, bahwa NU pada dasarnya tidak 
sejalan dengan paham Syiah. Tapi sebagai sebuah bangsa, yang beragama pula, 
maka Iran patut dibela. Kedua, pernyataan tersebut juga mengisyaratkan bahwa 
bangsa manapun di dunia ini berhak untuk mengembangkan teknologi nuklir, 
termasuk Korea Utara (yang berhaluan komunis itu), termasuk pula bangsa 
Indonesia.

Di lain kesempatan, Kiai Hasyim juga pernah mengatakan bahwa dukungan 
pemerintah Indonesia terhadap Resolusi Dewan Keamanan Perserikatan 
Bangsa-bangsa (DK PBB) nomer 1747 yang menjatuhkan sanksi pada Iran, adalah 
sebuah bentuk "penghukuman"  terhadap "saudara" sendiri. "Saudara" menurut Kiai 
Hasyim bukan hanya karena Iran adalah bangsa yang mayoritas muslim, tapi juga 
sebagai salah satu dari banyak negara di bumi ini yang menjadi korban Amerika 
Serikat (AS). Indonesia pun masuk dalam daftar panjang korban kesewenangan AS. 
Nah, kalau Indonesia mendukung resolusi itu, berarti Indonesia telah turut pula 
menghukum Iran.

Sialnya lagi, kata Kiai Hasyim, dukungan itu tidak membawa hal positif bagi 
Indonesia. Paling banter hanya ucapan terima kasih AS pada Indonesia. Benar 
juga. Coba kita amati, apa sih pengaruhnya setelah Indonesia mendukung resolusi 
itu? Lebih sial lagi, bukan ucapan terima kasih yang diterima Indonesia,. 
Karena, nggak lama setelah sanksi pada Iran itu dijatuhkan, pemerintah AS 
mengumumkan kepada warganya yang mengimbau agar kalau ke Indonesia tidak 
menggunakan pesawat dari maskapai milik Indonesia. Alasannya, keamanan. Lebih 
baik menggunakan maskapai lain atau maskapai milik AS sendiri. Coba...??? 
Gimana nggak kurang ajarnya AS itu? Trims...

"M. Luthfi Thomafi" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:                                  
Salam,
 
 Apa kabar Kang Arif?
 
 Soal PBNU dan demo Syiah sesuatu yang biasa sajalah. PBNU tdk lagi berpikir
 ttg masalah Aqidah secara detail (utk menyoal eksistensi Syiah). Soal demo,
 sdg saya sendiri tidak tahu juntrungan demo di Bangil itu. Memang di sana
 ada komunitas Wahabi, tapi anggap saja itu dilakukan oleh PCNU sana. Anggap
 saja, lho... Jika ini benar terjadi, itu namanya bukan tidak konsisten, tapi
 belum terkomunikasikannya pemikiran atau program-program PBNU ke bawah.
 
 Kita dapat menuduh PBNU/NU inkonsisten kalau pada waktu yang bersamaan P
 Hasyim mendalangi demo itu. Bagiku, itu mustahil! Sejelek-jeleknya pak
 Hasyim Muzadi, gue kagak akan percaya beliau mendukung baik secara moral,
 material, atau main mata dan lainnya. Never...
 
 Soal kenapa tidak juga Korut dibela, ya gampang saja. Jujur saja bhw dlm
 konteks Iran ini PBNU menggunakan parameter "membela saudara seagama".
 Justru akan diketawakan orang kalau PBNU membela seagama saja belum bisa kok
 mau membela yg di luar agama. Berdosakah membela seagama, dan menunda
 pembelaan saudara di luar agama?
 
 Tak ada kamus berdosa. Inkonsisten? Ya jelas tidak mau dong dikatakan
 begitu. Sebab kemampuan PBNU baru memang segitu. Itu masih mending dari pada
 tidak sama sekali.
 
 So, dari kasus itu tidak bisa dengan gampang kasih label "tidak konsisten".
 Bagi saya, sekali pun tidak konsisten, ya gampang saja, Ma La Yudroku
 Kulluhu La Yutroku kulluhu. Kita cari positifnya program PBNU, dan
 tinggalkan demo ala Bangil. Kata Sastrawan Kesasar Aguk Irawan (yang cakep,
 kata Mbak Ntis) : Kita harus ber-husnu dzon sejak bangun tidur....
 
 Kang, sampean mau zorogan? Aku tidak provokasi, tapi mari kita zorogan
 rame-rame artikel-artikel di sini :
 http://www.albainah.net/index.aspx?function=Category&id=27&lang=
 
 Lebih seru, tapi ku yakin anda tidak setuju, baca juga yang ini :
 http://www.albainah.net/index.aspx?function=Item&id=11013&lang=
 
 Ini penting di-zorog rame-rame, apalagi bagi sampean yang hidup di ndeso
 (tapi aku tidak kapok ke rumahmu).
 
 Wassalam,
 
 Luthfi
 (waiting for the deadly match)
 
 ----- Original Message -----
 From: Arif Hidayat
 To: [email protected]
 Sent: Monday, April 23, 2007 1:46 PM
 Subject: Re: [kmnu2000] NU dan soal Iran (Syiah)
 
 Zaman gini masih ndemo golongan atau kelompok yg tak seakidah?
 Siapapun berhak menjalani aqidah yg diyakininya. Mau Syi'ah, mau Mu'tazilah,
 mau Sunni, mau kafir juga no problem...
 
 
     
                       

       
---------------------------------
Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru!

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke