Mas Amex,
Saya setuju itu anti kekerasan, tapi bukan berarti cengeng dan penakut
bukan? BUku pelajaran mengenai ukhuwah basyariyahnya dibuka lagi donk!
Kalau sampean melihat PKL dipukuli oleh aparat apa lantas terus menganjurkan
kedua belah fihak untuk berdialog? saya kira tidak cukup. Kepentingan
kedudanya beda. PKL ingin mencari penghidupan, sementara pemerintah atas
nama neoliberalisme ingin memberantas PKL itu. Nah lalu ketika pemerintah
menjalankan kekuasaannya untuk mengusir PKL kenapa tidak ketika banser unjuk
kekuatan untuk mengusir pemerintah kog dilarang? Ini aneh. Kira-kira
kasusnya sama dengan sengketa tanah-tanah warga dengan para pengusaha mal.
Juga misalnya kalau pemerintah mengimpor besar dan menaikkan BBM atas
instruksi tuan kapitalis apa lantas sampean menulis "ilmiyah" di koran atau
membuat iklan layanan masyarakat bahwa impor dan kenaikan itu lebih baik
wong kenyataannya menyengsarakan!?

Dalam diam kadang saya meyayangkan mental cengeng temen2 LSM yang mengaku
anti kekerasan. Mereka lari dari kenyataan bahwa dunia ini penuh dengan
kekerasan. Mereka coba menghibur diri dengan berwacana ria, menafsirkan
kembali al-qur'an, menayakan keberadaan tuhan, menggugat kerasulan,
membayangkan nilai universal, hak asasi manusia, demokrasi yang suci, dst.
Ingat bahwa yang menyertai kita saat lahir ke dunia ini tidak lain adalah
darah. hehe, yang terahir ini saya kutip dari orang-orang FPI.
Allahuakbar...

Jadi begitu,


On 5/19/07, Slamet Thohari <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
>
> hehehe, wah NU dah siap melawan neoliberal, bagaimana kalo
> perang melawan apapun itu gak usah pake kekerasan ya...
> apalagi sampai melibatkan banser segala. bagi saya,
> semangat mempelajari banyak hal dan kemudian disikapi
> secara dewasa, adalah jauh lebih baik, dari pada
> menggunakan kekerasan. bukankah di Ahmad Siddiq pernah
> bilang tentang apa itu ukhwah basyariyah
>
> cheers
> amex
>
> On Fri, 18 May 2007 13:10:12 +0700
> "kh anam" <[EMAIL PROTECTED] <gus.anam%40gmail.com>> wrote:
> > Ada cerita menarik begini, waktu itu ada apel Banser di
> >Kediri, Jawa Timur.
> > Saat istirahat di tempaaaat... grak! Sang komandan lalu
> >berceramah: "Musuh
> > utama NU sekarang ini adalah neoliberalisme. Mereka
> >telah menjajah dan
> > memeras kita. Neoliberalisme telah menyebabkan banyak
> >pengangguran dan
> > meningkatnya angka kemiskinan warga nahdliyyin. Maka
> >jihad kita sekarang ini
> > adalah jihad melawan neoliberalisme."
> >
> > Semangat para anggota Banser terbakar-bakar. Ingat
> >rasanya waktu Mbah Hasyim
> > meneriakkan Resolusi Jihad 1945, melawan tentara sekutu.
> >Keinginan untuk
> > turut berjihad dan rasa jengkel kepada neoliberalisme
> >bercampur menjadi
> > satu.
> >
> > Salah seorang pemuda kekar yang berada di barisan tengah
> >tidak mampu menahan
> > diri dan langsung maju ke depan menghampiri sang
> >komandan, berkata: "Siap
> > komandan... saya bersedia berada di barisan depan
> >melawan neoliberalisme.
> > Saya tidak rela NU di perlakukan seperti itu. Memangnya
> >NU ini kecil apa...
> > Pak komandan tunjukkan kepada kami dimana tempatnya
> >neoliberalisme itu. Saya
> > siap betempur sampai titik darah penhabisan..!"
> >
> > ......:> Kadang2 neoliberalisme itu perlu "diorangkan"
> >biar jelas yang
> > menyerang dan mau diserang itu siapa.
> >
> >
> > On 5/17/07, ahmad shidqi <[EMAIL PROTECTED] <diqidalbo%40yahoo.com>>
> wrote:
> >>
> >> wahai kaum muda NU...
> >> kenapa perdebatan kita akhir-akhir ini kembali seperti
> >>era 60-70 an,
> >> sekitar tahlil, qunut, talqin dsb itu. kita memang tak
> >>bisa mengabaikan
> >> adanya penyerangan pemikiran terhadap NU yang
> >>akhir-akhir ini semakin marak
> >> itu, tapi mbok kita semua jangan terjebak hanya pada
> >>perdebatan klasik itu.
> >> ada persoalan yang lebih krusial yang saat ini megancam
> >>indoensia secara
> >> umum dan nahdliyyin secara khusu. persoalan itu adalah
> >>ekspansi neo
> >> liberalisme yang telah menyengsarakan umat manusia,
> >>termasuk kaum
> >> nahdliyyin. kadang kita ini memang latah, ketika semua
> >>ramai membicarakan
> >> islam kiri, semua ikut-ikutan membicarakan, tetapi
> >>ketika semua ramai
> >> membindangkan psot tra, ya kita ikut lagi membincangkan.
> >>kalau gerakan kita
> >> seperti ini terus, kapan kita akan mampu membangun
> >>indoensia yang mandiri.
> >> karena itu, menurut saya, soal tahlil dan maulid itu
> >>memang penting untuk
> >> kita bela dan pertahankan, tetapi janagan sampai kita
> >>terlena dan abai untuk
> >> juga bergerak melawan bahaya neolib yang
> >> saat ini sudah nyaris tak terbendung itu.
> >>
> >> shidqi
> >> (NCC/nahdliyyin crisis center)
> >>
> >> ---------------------------------
> >> Get the Yahoo! toolbar and be alerted to new email
> >>wherever you're
> >> surfing.
> >>
> >> [Non-text portions of this message have been removed]
> >>
> >>
> >>
> >
> >
> > [Non-text portions of this message have been removed]
> >
>
> 
>


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke