Salam, Salah satu pemandangan yang saya kangeni pada kota-kota di Asia, termasuk Jakarta, adalah pedagang kaki lima. Di Boston ini, kotanya terlalu steril dari pedagang kaki lima, begitu juga kota-kota lain di Amerika. Kalau sedang lapar dan mau cari nasi goreng di pinggir jalan ndak bisa.
Menurut saya, pemandangan "street peddlers" itu tetap perlu dipertahankan sebagai ciri khas kota Asia. Mungkin perlu regulasi yang lebih tertib seperti yang dikatakan oleh Slamet Tohari. Kepentingan pejalan kaki harus dihargai juga. Salah satu kelemahan besar kota-kota di Indonesia adalah tak tersedianya sarana yang nyaman untuk pejalan kaki, sehingga orang menjadi malas. Di kota-kota Amerika ini, orang biasa jalan kaki tiga sampai empat blok yang total jarajnya bisa mencapai 1-2 kilo. Mereka menjadi sehat. Di Jakarta, orang-orang lebih suka naik ojek, walaupun jarak yang ditempuh hanya setengah kilo, misalnya. Sebetulnya ada aspek penting dalam bisnis kaki lima ini. Mestinya mereka adalah subjek yang kena pajak juga. Selama bisnis mereka liar terus, tak tercatat oleh negara, otomatis negara akan dirugikan. Tanpa menghapuskan eksisten pedagang kaki lima, mereka pelan-pelan harus didorong menjadi bisnis resmi, tercatat, dan dikenai pajak, agak negara mempunyai uang yang cukup membiayai kesejahteraan. Ulil --- saidiman saidiman <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Mex, kerapkali memang tampak tragis nasib para > pedagang kaki lima itu (entah benar atau tidak, > nanti kita cari datanya). Tapi, apakah kita harus > berkutat bicara kepentingan para pedagang saja? Ada > kepentingan konsumen yang harus diperhatikan, dan > itu jauh lebih besar daripada para pedagang kaki > lima itu. Sepakat Mex, bukan berarti karena mereka > kecil dan miskin lantas selalu benar. Saya kira, > perubahan pola ekonomi global terjadi karena ada > perubahan tingkah konsumen juga. Barangkali memang > sebaiknya kita membiarkan pasar bekerja, dan ia akan > menemukan pola keseimbangannya sendiri demi > kepentingan konsumen yang lebih besar. > > Salam kenal, > Saidiman > > Slamet Thohari <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > On Sun, 20 May 2007 02:08:18 +0700 > > Anam, kebencianmu terhadap kapitalisme benar-benar > menubuh. kalau ada PKL digusur, loh itu kan urusan > pemerintah, ngapain Banser ikut2tan melawan polisi, > malah > bikin ruwet. tugas negara itu melindungi hak, > termasuk > melindungi hak agar ruang publik bisa ditempat orang > > banyak, danh kalau trotoar ditempati pedagang kaki > lima, > orang mau jalan pada kesulitan. kalau saya sebagai > Bupati, > tak gusur.. tapi tak bikinin tempat khusus sebagai > pengganti, kayak di Resto PKL Jogja itu hehehe, > disana > enak makan n murah. di sepanjang jalan Malioboro > oleh > pemerintan dibangun guied block untuk tunanetra, > tapi > guide block tersebut ditempati PKL, sampe2 gak > pernah > dipake sama orang difabel. ini kan penyalahguaan > ruang > publik: saya gak yakin, apa benar PKL2 itu benar2 > melarat, > saya pernah diskusi dengan Prof Bambang Purwanto, > dia > bikin makalah bagus, ternayata banyak orang yang > jualan di > pinggir jalan UGM itu rumahnya bagus2 dan > pendapatanya 5 > kali lebih besar dari UMR. saya percaya akan hal > ini, > soalnya penelitian, ilmiah dan ada angkanya. kalo > kamu > ngomong gimanapun saya gak bakal percaya, musti ada > data > yang valid, nggak boleh spekulatif. jadi intlektual > musti > penelitian, ggak usah pating clekutis.. > malu-maluin...pada > perinsipnya aku sih percaya kalau ada data dan ada > argumentasi yang kuat, mau liberal, mau komunis dll > > Gitu bos, btw aku tunggu undangan nikahmu > > yang dilakukan NU itu cuman anjuran moral dan > pemberdayaan > bagi masyarakatnya. > > > "kh anam" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Mas Amex, > > Saya setuju itu anti kekerasan, tapi bukan berarti > > >cengeng dan penakut > > bukan? BUku pelajaran mengenai ukhuwah > basyariyahnya > >dibuka lagi donk! > > Kalau sampean melihat PKL dipukuli oleh aparat apa > > >lantas terus menganjurkan > > kedua belah fihak untuk berdialog? saya kira tidak > > >cukup. Kepentingan > > kedudanya beda. PKL ingin mencari penghidupan, > sementara > >pemerintah atas > > nama neoliberalisme ingin memberantas PKL itu. Nah > lalu > >ketika pemerintah > > menjalankan kekuasaannya untuk mengusir PKL kenapa > tidak > >ketika banser unjuk > > kekuatan untuk mengusir pemerintah kog dilarang? > Ini > >aneh. Kira-kira > > kasusnya sama dengan sengketa tanah-tanah warga > dengan > >para pengusaha mal. > > Juga misalnya kalau pemerintah mengimpor besar dan > > >menaikkan BBM atas > > instruksi tuan kapitalis apa lantas sampean > menulis > >"ilmiyah" di koran atau > > membuat iklan layanan masyarakat bahwa impor dan > >kenaikan itu lebih baik > > wong kenyataannya menyengsarakan!? > > > > Dalam diam kadang saya meyayangkan mental cengeng > temen2 > >LSM yang mengaku > > anti kekerasan. Mereka lari dari kenyataan bahwa > dunia > >ini penuh dengan > > kekerasan. Mereka coba menghibur diri dengan > berwacana > >ria, menafsirkan > > kembali al-qur'an, menayakan keberadaan tuhan, > menggugat > >kerasulan, > > membayangkan nilai universal, hak asasi manusia, > >demokrasi yang suci, dst. > > Ingat bahwa yang menyertai kita saat lahir ke > dunia ini > >tidak lain adalah > > darah. hehe, yang terahir ini saya kutip dari > >orang-orang FPI. > > Allahuakbar... > > > > Jadi begitu, > > > > > > On 5/19/07, Slamet Thohari <[EMAIL PROTECTED]> > wrote: > >> > >> > >> hehehe, wah NU dah siap melawan neoliberal, > bagaimana > >>kalo > >> perang melawan apapun itu gak usah pake kekerasan > ya... > >> apalagi sampai melibatkan banser segala. bagi > saya, > >> semangat mempelajari banyak hal dan kemudian > disikapi > >> secara dewasa, adalah jauh lebih baik, dari pada > >> menggunakan kekerasan. bukankah di Ahmad Siddiq > pernah > >> bilang tentang apa itu ukhwah basyariyah > >> > >> cheers > >> amex > >> > >> On Fri, 18 May 2007 13:10:12 +0700 > >> "kh anam" <[EMAIL PROTECTED] > <gus.anam%40gmail.com>> > >>wrote: > >> > Ada cerita menarik begini, waktu itu ada apel > Banser > >>di > >> >Kediri, Jawa Timur. > >> > Saat istirahat di tempaaaat... grak! Sang > komandan > >>lalu > >> >berceramah: "Musuh > >> > utama NU sekarang ini adalah neoliberalisme. > Mereka > >> >telah menjajah dan > >> > memeras kita. Neoliberalisme telah menyebabkan > banyak > >> >pengangguran dan > >> > meningkatnya angka kemiskinan warga nahdliyyin. > Maka > >> >jihad kita sekarang ini > >> > adalah jihad melawan neoliberalisme." > >> > > >> > Semangat para anggota Banser terbakar-bakar. > Ingat > >> >rasanya waktu Mbah Hasyim > >> > meneriakkan Resolusi Jihad 1945, melawan > tentara > >>sekutu. > >> >Keinginan untuk > >> > turut berjihad dan rasa jengkel kepada > neoliberalisme > >> >bercampur menjadi > >> > satu. > >> > > >> > Salah seorang pemuda kekar yang berada di > barisan > >>tengah > >> >tidak mampu menahan > >> > diri dan langsung maju ke depan menghampiri > sang > >> >komandan, berkata: "Siap > >> > komandan... saya bersedia berada di barisan > depan > >> >melawan neoliberalisme. > >> > Saya tidak rela NU di perlakukan seperti itu. > === message truncated === Ulil Abshar-Abdalla Department of Religion Boston University
