ah itu sih sekedar ketakutan yang menunjukkan ketidakmengertian pada masalah 
yang sebenarnya.
pernar dengar penerapan syariah islam di Garut dan cianjur atau tassikmalaya 
misalnya?
tanya sama orang sana?
bagaimana sebenarnya? dan lihatlah "konun-konun" yang dihasilkan?
hmmmmmmmmmm silahkan anda tertawa, karena ternyata tidak satupun dari mereka 
yang serius, kecuali yang mengomentari hanya karena diminta oleh founding
tq

nashrotulakhbar <[EMAIL PROTECTED]> wrote:                                  
sejauh yang saya ketahui memang HTI, PKS dan seluruh kaum "modernis 
 islam" tidak suka dengan ritual ibadah orang NU. terutama HTI, PKS 
 dan 'Salafi' yang di duga disebut pak hasyim sebagai ideologi trans 
 nasional itu.
 perlawanan terhadap ideologi NU ini sudah sampai taraf fitnah 
 mungkin ya, sampai ada suatu selebaran yang menyatakan beberapa 
 point ttg ritual ibadah NU ini, salah satunya adalah selebaran yang 
 di tanda tangani kiyai NU di jombang,yang menyataka himbauan agar 
 meninggalkan kebiasan qunut dan tahlil, walaupun belum tentu di di 
 motori oleh organisasi trans nasional tsb.
 adalah 'perebutan' masjid NU di bbrp tempat, sampai Masdar F. Masudi 
 menyaranka pe labelan terhadap masjid NU, tapi mungkin'direbut' 
 karena yang ngisi isa sama shubuh cuma kakek-kakek kali, persisnya 
 masjid kurang 'termakmurkan'. tapi bisa juga memang direbut-seperti 
 kasusnya pak masdar tadi-
 apa yang pak moqshit Ghozali suarakan di jawa pos tersebut tak 
 sepenuhnya salah/provokator, di bebberapa hal memang ada benarnya. 
 termasuk pelaksanaan syariat islam, jelas NU atau kita semua 
 setuju...tapi kalau dijalankan dengan versinya PKS atau HTI atau 
 salafi nanti dulu...
 sekian dulu salam ta'aruf, new comer neh, newbie...
 
 wass
 firdaus
 alumnus agriculture engineering dan Agribisnis IPB
 
 --- In [email protected], Jamaluddin Mohammad 
 <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
 >
 > Ini baru polemik lewat media massa. Kalau sudah kuat HTI siap ber-
 jihad lawan NU.
 >   
 > 
 > Mokhamad_Nur <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
 >           Wah kayaknya perdebatan ideologi transnasional ga akan 
 selesai. Karena
 > kelihatannya kalangan HTI juga mulai sikap pertahanan.
 > Ada yang berpendapat?
 > Maaf kalau masalah ini berlanjut.... Supaya kita, nahliyin, bisa 
 lebih
 > "tegar" ;)
 > 
 > Ini adalah petikan dari Jawa Pos, Mei 2007
 > 
 > M.Nur
 > Dept. of Food Tech. Unibraw
 > Malang
 > 
 > Moqshid Memprovokasi Konflik
 > 
 > Oleh
 > Muhammad Ismail Yusanto
 > juru bicara Hizbut Tahrir Indonesia
 > 
 > Esai yang ditulis Moqshid Ghazali di rubrik kajian (4/5/2007) 
 banyak
 > mengandung klaim dan penyesatan. Oleh karena itu, tulisan tersebut
 > harus ditanggapi dan diluruskan.
 > 
 > Pertama, penggunaan istilah "Islam transnasional" yang dialamatkan
 > kepada sejumlah kelompok disertai dengan melekatkan tuduhan-tuduhan
 > tertentu yang tidak pernah bisa diverifikasi kebenarannya. Artinya,
 > hal itu menimbulkan generalisasi penyesatan.
 > 
 > Seperti kasus perebutan masjid dan menghujat kebiasaan
 > amaliah-ritualistik warga NU, yang tidak jelas di mana kasusnya, 
 oleh
 > siapa, kapan, dan bagaimana kejadiannya?
 > 
 > Tetapi, ketika pertanyaan-pertanyaan itu tidak pernah dijawab, 
 karena
 > memang tidak bisa diverifikasi, tiba-tiba fitnah tersebut sudah
 > tersebar ke mana-mana. Celakanya, "Islam transnasional" yang 
 dijadikan
 > kambing hitam fitnah jahat itu. Celakanya lagi, fitnah itu terus
 > diulang-ulang, seolah-olah memang benar.
 > 
 > Padahal, tidak pernah ada klarifikasi. Jika fitnah seperti itu
 > diteruskan, justru itulah yang akan memicu konflik horizontal di
 > tengah umat. Apakah memang itu yang menjadi tujuannya?
 > 
 > Kalau memang benar begitu, lalu siapakah yang paling bertanggung 
 jawab
 > jika terjadi konflik horizontal akibat fitnah seperti itu? Karena 
 itu,
 > menurut saya, klaim dan penyesatan seperti itu harus segera 
 dihentikan.
 > 
 > Kedua, istilah "Islam transnasional" lawan dari "Islam nasional" 
 atau
 > "Islam keindonesiaan" itu sendiri sebenarnya tidak ada. Sebab, 
 Islam
 > hanya satu. Sumber Islam juga satu, yaitu Nabi Muhammad SAW, yang
 > ternyata bukan orang Indonesia.
 > 
 > Islam juga bukan agama asli Indonesia, tetapi dibawa masuk dari 
 Arab
 > ke Indonesia. Karena memang Islam bukan hanya agama orang Arab, 
 tetapi
 > juga agama semua bangsa, baik Arab maupun non-Arab ('ajam).
 > 
 > Karena itu, tidak ada Islam Arab atau Islam Indonesia. Maka, klaim
 > seperti ini justru bertentangan dengan nash Alquran, wamaa 
 arsalnaka
 > illa kaffat[an] li an-nas (Kami tidak mengutusmu [dengan membawa
 > ajaran Islam], kecuali untuk seluruh manusia) (Qs 34: 28).
 > 
 > Kalau memang Islam bukan agama transnasional, tentu tidak ada 
 ibadah
 > yang dilakukan lintas negara, seperti haji, umrah, dan jihad. Kalau
 > Islam bukan agama transnasional, pasti praktik ibadah kaum muslim 
 di
 > Indonesia berbeda dengan kaum muslim di Saudi, Iran, Iraq, Kuwait, 
 dan
 > sebagainya. Tapi, nyatanya tidak. Maka, semuanya itu membuktikan 
 bahwa
 > Islam adalah agama transnasional. Jadi, "Islam transnasional" ini 
 bisa
 > menyesatkan.
 > 
 > Ketiga, jika mencermati uraian Moqshid, seolah-olah NU menolak
 > formalisasi syariah. Terlebih, ketika formalisasi itu dihubungkan
 > dengan ancaman bubarnya Indonesia. Ini tentu menyesatkan.
 > 
 > Dan, penyesatan seperti itu pernah dijawab oleh Ketua PB NU KH A.
 > Wahid Hasyim sendiri, "Pernyataan bahwa pemerintahan Islam tidak 
 akan
 > dapat memelihara persatuan bangsa, dan akan menjauhkan Irian 
 menurut
 > pandangan hukum Islam, adalah merupakan perbuatan munkar yang tidak
 > dibenarkan syariat Islam, dan wajib tiap-tiap orang muslim 
 menyatakan
 > inkar atau tidak menyetujui.." untuk merespons pidato Soekarno
 > (27/1/1953) di Amuntai, yang menuduh kalau Islam digunakan untuk
 > memerintah negara, maka banyak daerah akan lepas.
 > 
 > Bukan hanya itu, AD/ART NU juga menyatakan komitmen NU, "Menegakkan
 > syariat Islam menurut haluan Aswaja (Ahlu Sunnah wal Jama'ah)."
 > Sementara syariat Islam menurut Aswaja itu bukan hanya 'ubudiyah
 > (ritual), tetapi juga munakahat, mu'amalat, jinayat, jihad, 
 termasuk
 > ahkam sulthaniyyah.
 > 
 > Keempat, perjuangan khilafah akan bertubrukan dengan sikap para 
 kiai
 > NU. Saya kira ini juga klaim yang menyesatkan. Sebab, kitab-kitab 
 yang
 > membahas wajibnya mengangkat khilafah (imamah) juga dibahas di 
 pesantren.
 > 
 > Pendapat ini juga bukan hanya pendapat Hizbut Tahrir, tetapi 
 pendapat
 > seluruh ulama kaum muslim. Sebut saja kitab al-Hushun al-Hamidiyah,
 > yang menjadi buku wajib di pesantren, juga kitab al-Ahkam as-
 Sulthaniyyah.
 > 
 > Jadi, tuduhan Moqshid itu jelas mengada-ada. Kecuali kalau dia 
 memang
 > berniat menubruk-nubrukkan para kiai dengan kelompok lain, termasuk
 > Hizbut Tahrir. Wallahu a'lam.
 > 
 > 
 > 
 >          
 > 
 >        
 > ---------------------------------
 > Building a website is a piece of cake. 
 > Yahoo! Small Business gives you all the tools to get online.
 > 
 > [Non-text portions of this message have been removed]
 >
 
 
     
                       

 
---------------------------------
No need to miss a message. Get email on-the-go 
with Yahoo! Mail for Mobile. Get started.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke