mosok mas?temen tha?
jare sopo sampean?
lek tak prasaku kalau hti besar.... pemerintah ndak bisa menumpas,
apalagi nu, kalau sudah tambah besar lagi dia akan merangkul seluruh komponen 
umat islam (ahmadiyah syiah jil ... gak melok, lek nunut yo sak karepe)
termasuk merangkul kyai kyai nu yg masih berpegang pada kitab kuning (fathul 
wahab, asnal matholib,
tuhfatul muhtaj syarhul minhaj, mughnil muhtaj dan nihayatul muhtaj dll yg 
menfardlukan khilafah).
poro kyai kyai meniko mboten perlu mlebet hti, cukup mengamini dan mengiyakan 
"khilafah fardlu" poro sederek...
kalau sudah begitu ... warga nu akan ikut kyainya.
cuman masalae warga nu saiki gak podo ambek biyen
kalai ada kyai yg ngomong masalah berat lan angel ... ditinggal ae nggolek kyai 
seng gampang ..
wallahu a'lam bissowaab
alfaatihah 

  ----- Original Message ----- 
  From: Jamaluddin Mohammad 
  To: [email protected] 
  Sent: Thursday, May 31, 2007 12:23 AM
  Subject: Re: [kmnu2000] HT I Menanggapi Transnasional ala Bang Moqshid, Any 
comment?


  Ini baru polemik lewat media massa. Kalau sudah kuat HTI siap ber-jihad lawan 
NU.


  Mokhamad_Nur <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
  Wah kayaknya perdebatan ideologi transnasional ga akan selesai. Karena
  kelihatannya kalangan HTI juga mulai sikap pertahanan.
  Ada yang berpendapat?
  Maaf kalau masalah ini berlanjut.... Supaya kita, nahliyin, bisa lebih
  "tegar" ;)

  Ini adalah petikan dari Jawa Pos, Mei 2007

  M.Nur
  Dept. of Food Tech. Unibraw
  Malang

  Moqshid Memprovokasi Konflik

  Oleh
  Muhammad Ismail Yusanto
  juru bicara Hizbut Tahrir Indonesia

  Esai yang ditulis Moqshid Ghazali di rubrik kajian (4/5/2007) banyak
  mengandung klaim dan penyesatan. Oleh karena itu, tulisan tersebut
  harus ditanggapi dan diluruskan.

  Pertama, penggunaan istilah "Islam transnasional" yang dialamatkan
  kepada sejumlah kelompok disertai dengan melekatkan tuduhan-tuduhan
  tertentu yang tidak pernah bisa diverifikasi kebenarannya. Artinya,
  hal itu menimbulkan generalisasi penyesatan.

  Seperti kasus perebutan masjid dan menghujat kebiasaan
  amaliah-ritualistik warga NU, yang tidak jelas di mana kasusnya, oleh
  siapa, kapan, dan bagaimana kejadiannya?

  Tetapi, ketika pertanyaan-pertanyaan itu tidak pernah dijawab, karena
  memang tidak bisa diverifikasi, tiba-tiba fitnah tersebut sudah
  tersebar ke mana-mana. Celakanya, "Islam transnasional" yang dijadikan
  kambing hitam fitnah jahat itu. Celakanya lagi, fitnah itu terus
  diulang-ulang, seolah-olah memang benar.

  Padahal, tidak pernah ada klarifikasi. Jika fitnah seperti itu
  diteruskan, justru itulah yang akan memicu konflik horizontal di
  tengah umat. Apakah memang itu yang menjadi tujuannya?

  Kalau memang benar begitu, lalu siapakah yang paling bertanggung jawab
  jika terjadi konflik horizontal akibat fitnah seperti itu? Karena itu,
  menurut saya, klaim dan penyesatan seperti itu harus segera dihentikan.

  Kedua, istilah "Islam transnasional" lawan dari "Islam nasional" atau
  "Islam keindonesiaan" itu sendiri sebenarnya tidak ada. Sebab, Islam
  hanya satu. Sumber Islam juga satu, yaitu Nabi Muhammad SAW, yang
  ternyata bukan orang Indonesia.

  Islam juga bukan agama asli Indonesia, tetapi dibawa masuk dari Arab
  ke Indonesia. Karena memang Islam bukan hanya agama orang Arab, tetapi
  juga agama semua bangsa, baik Arab maupun non-Arab ('ajam).

  Karena itu, tidak ada Islam Arab atau Islam Indonesia. Maka, klaim
  seperti ini justru bertentangan dengan nash Alquran, wamaa arsalnaka
  illa kaffat[an] li an-nas (Kami tidak mengutusmu [dengan membawa
  ajaran Islam], kecuali untuk seluruh manusia) (Qs 34: 28).

  Kalau memang Islam bukan agama transnasional, tentu tidak ada ibadah
  yang dilakukan lintas negara, seperti haji, umrah, dan jihad. Kalau
  Islam bukan agama transnasional, pasti praktik ibadah kaum muslim di
  Indonesia berbeda dengan kaum muslim di Saudi, Iran, Iraq, Kuwait, dan
  sebagainya. Tapi, nyatanya tidak. Maka, semuanya itu membuktikan bahwa
  Islam adalah agama transnasional. Jadi, "Islam transnasional" ini bisa
  menyesatkan.

  Ketiga, jika mencermati uraian Moqshid, seolah-olah NU menolak
  formalisasi syariah. Terlebih, ketika formalisasi itu dihubungkan
  dengan ancaman bubarnya Indonesia. Ini tentu menyesatkan.

  Dan, penyesatan seperti itu pernah dijawab oleh Ketua PB NU KH A.
  Wahid Hasyim sendiri, "Pernyataan bahwa pemerintahan Islam tidak akan
  dapat memelihara persatuan bangsa, dan akan menjauhkan Irian menurut
  pandangan hukum Islam, adalah merupakan perbuatan munkar yang tidak
  dibenarkan syariat Islam, dan wajib tiap-tiap orang muslim menyatakan
  inkar atau tidak menyetujui.." untuk merespons pidato Soekarno
  (27/1/1953) di Amuntai, yang menuduh kalau Islam digunakan untuk
  memerintah negara, maka banyak daerah akan lepas.

  Bukan hanya itu, AD/ART NU juga menyatakan komitmen NU, "Menegakkan
  syariat Islam menurut haluan Aswaja (Ahlu Sunnah wal Jama'ah)."
  Sementara syariat Islam menurut Aswaja itu bukan hanya 'ubudiyah
  (ritual), tetapi juga munakahat, mu'amalat, jinayat, jihad, termasuk
  ahkam sulthaniyyah.

  Keempat, perjuangan khilafah akan bertubrukan dengan sikap para kiai
  NU. Saya kira ini juga klaim yang menyesatkan. Sebab, kitab-kitab yang
  membahas wajibnya mengangkat khilafah (imamah) juga dibahas di pesantren.

  Pendapat ini juga bukan hanya pendapat Hizbut Tahrir, tetapi pendapat
  seluruh ulama kaum muslim. Sebut saja kitab al-Hushun al-Hamidiyah,
  yang menjadi buku wajib di pesantren, juga kitab al-Ahkam as-Sulthaniyyah.

  Jadi, tuduhan Moqshid itu jelas mengada-ada. Kecuali kalau dia memang
  berniat menubruk-nubrukkan para kiai dengan kelompok lain, termasuk
  Hizbut Tahrir. Wallahu a'lam.

  ---------------------------------
  Building a website is a piece of cake. 
  Yahoo! Small Business gives you all the tools to get online.

  [Non-text portions of this message have been removed]



   


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke