sejauh yang saya ketahui memang HTI, PKS dan seluruh kaum "modernis 
islam" tidak suka dengan ritual ibadah orang NU. terutama HTI, PKS 
dan 'Salafi' yang di duga disebut pak hasyim sebagai ideologi trans 
nasional itu.
perlawanan terhadap ideologi NU ini sudah sampai taraf fitnah 
mungkin ya, sampai ada suatu selebaran yang menyatakan beberapa 
point ttg ritual ibadah NU ini, salah satunya adalah selebaran yang 
di tanda tangani kiyai NU di jombang,yang menyataka himbauan agar 
meninggalkan kebiasan qunut dan tahlil, walaupun belum tentu di di 
motori oleh organisasi trans nasional tsb.
adalah 'perebutan' masjid NU di bbrp tempat, sampai Masdar F. Masudi 
menyaranka pe labelan terhadap masjid NU, tapi mungkin'direbut' 
karena yang ngisi isa sama shubuh cuma kakek-kakek kali, persisnya 
masjid kurang 'termakmurkan'. tapi bisa juga memang direbut-seperti 
kasusnya pak masdar tadi-
apa yang pak moqshit Ghozali suarakan di jawa pos tersebut tak 
sepenuhnya salah/provokator, di bebberapa hal memang ada benarnya. 
termasuk pelaksanaan syariat islam, jelas NU atau kita semua 
setuju...tapi kalau dijalankan dengan versinya PKS atau HTI atau 
salafi nanti dulu...
sekian dulu salam ta'aruf, new comer neh, newbie...

wass
firdaus
alumnus agriculture engineering dan Agribisnis IPB


--- In [email protected], Jamaluddin Mohammad 
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Ini baru polemik lewat media massa. Kalau sudah kuat HTI siap ber-
jihad lawan NU.
>   
> 
> Mokhamad_Nur <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>           Wah kayaknya perdebatan ideologi transnasional ga akan 
selesai. Karena
> kelihatannya kalangan HTI juga mulai sikap pertahanan.
> Ada yang berpendapat?
> Maaf kalau masalah ini berlanjut.... Supaya kita, nahliyin, bisa 
lebih
> "tegar" ;)
> 
> Ini adalah petikan dari Jawa Pos, Mei 2007
> 
> M.Nur
> Dept. of Food Tech. Unibraw
> Malang
> 
> Moqshid Memprovokasi Konflik
> 
> Oleh
> Muhammad Ismail Yusanto
> juru bicara Hizbut Tahrir Indonesia
> 
> Esai yang ditulis Moqshid Ghazali di rubrik kajian (4/5/2007) 
banyak
> mengandung klaim dan penyesatan. Oleh karena itu, tulisan tersebut
> harus ditanggapi dan diluruskan.
> 
> Pertama, penggunaan istilah "Islam transnasional" yang dialamatkan
> kepada sejumlah kelompok disertai dengan melekatkan tuduhan-tuduhan
> tertentu yang tidak pernah bisa diverifikasi kebenarannya. Artinya,
> hal itu menimbulkan generalisasi penyesatan.
> 
> Seperti kasus perebutan masjid dan menghujat kebiasaan
> amaliah-ritualistik warga NU, yang tidak jelas di mana kasusnya, 
oleh
> siapa, kapan, dan bagaimana kejadiannya?
> 
> Tetapi, ketika pertanyaan-pertanyaan itu tidak pernah dijawab, 
karena
> memang tidak bisa diverifikasi, tiba-tiba fitnah tersebut sudah
> tersebar ke mana-mana. Celakanya, "Islam transnasional" yang 
dijadikan
> kambing hitam fitnah jahat itu. Celakanya lagi, fitnah itu terus
> diulang-ulang, seolah-olah memang benar.
> 
> Padahal, tidak pernah ada klarifikasi. Jika fitnah seperti itu
> diteruskan, justru itulah yang akan memicu konflik horizontal di
> tengah umat. Apakah memang itu yang menjadi tujuannya?
> 
> Kalau memang benar begitu, lalu siapakah yang paling bertanggung 
jawab
> jika terjadi konflik horizontal akibat fitnah seperti itu? Karena 
itu,
> menurut saya, klaim dan penyesatan seperti itu harus segera 
dihentikan.
> 
> Kedua, istilah "Islam transnasional" lawan dari "Islam nasional" 
atau
> "Islam keindonesiaan" itu sendiri sebenarnya tidak ada. Sebab, 
Islam
> hanya satu. Sumber Islam juga satu, yaitu Nabi Muhammad SAW, yang
> ternyata bukan orang Indonesia.
> 
> Islam juga bukan agama asli Indonesia, tetapi dibawa masuk dari 
Arab
> ke Indonesia. Karena memang Islam bukan hanya agama orang Arab, 
tetapi
> juga agama semua bangsa, baik Arab maupun non-Arab ('ajam).
> 
> Karena itu, tidak ada Islam Arab atau Islam Indonesia. Maka, klaim
> seperti ini justru bertentangan dengan nash Alquran, wamaa 
arsalnaka
> illa kaffat[an] li an-nas (Kami tidak mengutusmu [dengan membawa
> ajaran Islam], kecuali untuk seluruh manusia) (Qs 34: 28).
> 
> Kalau memang Islam bukan agama transnasional, tentu tidak ada 
ibadah
> yang dilakukan lintas negara, seperti haji, umrah, dan jihad. Kalau
> Islam bukan agama transnasional, pasti praktik ibadah kaum muslim 
di
> Indonesia berbeda dengan kaum muslim di Saudi, Iran, Iraq, Kuwait, 
dan
> sebagainya. Tapi, nyatanya tidak. Maka, semuanya itu membuktikan 
bahwa
> Islam adalah agama transnasional. Jadi, "Islam transnasional" ini 
bisa
> menyesatkan.
> 
> Ketiga, jika mencermati uraian Moqshid, seolah-olah NU menolak
> formalisasi syariah. Terlebih, ketika formalisasi itu dihubungkan
> dengan ancaman bubarnya Indonesia. Ini tentu menyesatkan.
> 
> Dan, penyesatan seperti itu pernah dijawab oleh Ketua PB NU KH A.
> Wahid Hasyim sendiri, "Pernyataan bahwa pemerintahan Islam tidak 
akan
> dapat memelihara persatuan bangsa, dan akan menjauhkan Irian 
menurut
> pandangan hukum Islam, adalah merupakan perbuatan munkar yang tidak
> dibenarkan syariat Islam, dan wajib tiap-tiap orang muslim 
menyatakan
> inkar atau tidak menyetujui.." untuk merespons pidato Soekarno
> (27/1/1953) di Amuntai, yang menuduh kalau Islam digunakan untuk
> memerintah negara, maka banyak daerah akan lepas.
> 
> Bukan hanya itu, AD/ART NU juga menyatakan komitmen NU, "Menegakkan
> syariat Islam menurut haluan Aswaja (Ahlu Sunnah wal Jama'ah)."
> Sementara syariat Islam menurut Aswaja itu bukan hanya 'ubudiyah
> (ritual), tetapi juga munakahat, mu'amalat, jinayat, jihad, 
termasuk
> ahkam sulthaniyyah.
> 
> Keempat, perjuangan khilafah akan bertubrukan dengan sikap para 
kiai
> NU. Saya kira ini juga klaim yang menyesatkan. Sebab, kitab-kitab 
yang
> membahas wajibnya mengangkat khilafah (imamah) juga dibahas di 
pesantren.
> 
> Pendapat ini juga bukan hanya pendapat Hizbut Tahrir, tetapi 
pendapat
> seluruh ulama kaum muslim. Sebut saja kitab al-Hushun al-Hamidiyah,
> yang menjadi buku wajib di pesantren, juga kitab al-Ahkam as-
Sulthaniyyah.
> 
> Jadi, tuduhan Moqshid itu jelas mengada-ada. Kecuali kalau dia 
memang
> berniat menubruk-nubrukkan para kiai dengan kelompok lain, termasuk
> Hizbut Tahrir. Wallahu a'lam.
> 
> 
> 
>          
> 
>        
> ---------------------------------
> Building a website is a piece of cake. 
> Yahoo! Small Business gives you all the tools to get online.
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
>


Kirim email ke