Curriculum Vitae anarkisme ala FPI
 Tahun  2001
 - 27 Agustus Ratusan  massa yang tergabung dalam  Front Pembela Islam (FPI) 
berunjuk rasa di depan Gedung DPR/MPR. Mereka menuntut  MPR/DPR untuk 
mengembalikan Pancasila sesuai dengan Piagam Jakarta
 - 09 Oktober FPI  membuat keributan dalam aksi demonstrasi di depan Kedutaan 
Amerika Serikat  dengan merobohkan barikade kawat berduri dan aparat keamanan 
menembakkan gas air  mata serta meriam air
 - 15 Oktober Polda  Metro Jaya menurunkan sekitar seribu petugas dari empat 
batalyon di kepolisian  mengepung kantor Front Pembela Islam (FPI) di Jalan 
Petamburan III Jakarta Barat dan terjadi bentrokan
 - 07 November  Bentrokan terjadi antara laskar Jihad Ahlusunnah dan Laskar FPI 
dengan mahasiswa  pendukung terdakwa Mixilmina Munir di Pengadilan Negeri (PN) 
Jakarta Selatan.  Dua orang mahasiswa terluka akibat dikeroyok puluhan  laskar
  
  
 Tahun  2002
 - 15 Maret Panglima  Laskar Front Pembela Islam (FPI), Tubagus Muhammad Sidik 
menegaskan, aksi  sweeping terhadap tempat-tempat hiburan yang terbukti 
melakukan kemaksiatan,  merupakan hak dari masyarakat
 - 15 Maret Satu truk  massa FPI (Front Pembela  Islam) mendatangi diskotik di 
Plaza  Hayam Wuruk.
 - 15 Maret sekitar 300  masa FPI merusak sebuah tempat hiburan, Mekar Jaya 
Billiard, di Jl. Prof Dr.  Satrio No.241, Karet, Jakarta
 - 24 Maret Sekitar 50  anggota Front Pembela Islam (FPI) mendatangi diskotek 
New Star di Jl. Raya  Ciputat. FPI menuntut agar diskotek menutup aktivitasnya.
 - 24 Mei Puluhan  massa dari Front Pembela  Islam (FPI) di bawah pimpinan 
Tubagus Sidiq menggrebek sebuah gudang minuman di  Jalan Petamburan VI, Tanah 
Abang, Jakarta Pusat
 - 26 Juni Usai  berunjuk rasa menolak Sutiyoso di Gedung DPRD DKI,  massa 
Front Pembela Islam  (FPI) merusak sejumlah kafe di Jalan Jaksa yang tak jauh 
letaknya dari tempat  berunjuk rasa. Dengan tongkat bambu, sebagian dari mereka 
merusak diantaranya  Pappa Kafe, Allis Kafe, Kafe Betawi dan Margot Kafe.
 - 4 Oktober 2002  Sweeping ke tempat-tempat hiburan—Riziq dipenjara selama 
tujuh  bulan
 - 14 Oktober 2002  Sekitar 300 orang pekerja beberapa tempat hiburan di  
Jakarta melakukan aksi unjuk  rasa di depan Gedung DPRD DKI. Mereka menuntut 
pembubaran Front Pembela Islam  (FPI) yang mereka anggap telah melakukan aksi 
main hakim sendiri terhadap tempat  hiburan
 - 16 Oktober Habib  Rizieq diperiksa pihak kepolisian di Mapolda Metro Jaya
 - 06 November Lewat  rapat singkat yang dihadiri oleh sesepuh Front Pembela 
Islam (FPI), maka Dewan  Pimpinan Pusat FPI, mengeluarkan maklumat pembekuan 
kelaskaran FPI di seluruh  Indonesia untuk jangka waktu yang tidak ditentukan
 - Desember FPI  diaktifkan kembali
  
  
 Tahun  2003
 - 20 April Ketua Umum  Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab ditahan 
di Markas Polda Metro Jaya  Jakarta setelah dijemput paksa dari bandara.
 - 08 Mei Habib  Muhammad Rizieq mulai diadili di PN Jakarta
 - 22 Mei 2003  Koordinator lapangan laskar Front Pembela Islam (FPI) Tubagus 
Sidik bersama  sepuluh anggota laskar FPI menganiaya seorang pria di jalan tol, 
dan mereka  ditangkap 23 Mei
 - 1 Juli 2003 Rizieq  menyesal dan berjanji akan menindak anggota FPI yang 
melanggar hukum negara di  PN Jakarta Pusat
 - 11 Agustus Majelis  hakim memvonis Habib Rizieq dengan hukuman tujuh bulan  
penjara
 - 19 November Ketua  FPI Habib Rizieq bebas
 - 18 Desember menurut  Ahmad Sobri Lubis, Sekretaris Jenderal FPI, usai 
bertemu Wakil Presiden Hamzah  Haz di Istana Wakil Presiden, Jakarta, Front 
Pembela Islam (FPI) akan mengubah  paradigma perjuangannya, tidak lagi 
menekankan pada metode perjuangan melalui  gerakan massa dan kelaskaran. 
Perjuangan lebih ditekankan lewat pembangunan  ekonomi, pengembangan pendidikan 
dan pemberantasan maksiat melalui jalur  hukum.
  
  
 Tahun  2004
 - 03 Oktober FPI  menyerbu pekarangan Sekolah Sang Timur sambil 
mengacung-acungkan senjata dan  memerintahkan para suster agar menutup gereja 
dan sekolah Sang Timur. Front  Pembela Islam( FPI) menuduh orang-orang Katolik 
menyebarkan agama Katolik karena mereka mempergunakan ruang olahraga sekolah 
sebagai gereja sementara sudah selama sepuluh tahun.
 - 11 Oktober FPI Depok Ancam Razia Tempat Hiburan
 - 22 Oktober FPI  melakukan pengrusakan kafe dan keributan dengan warga di  
Kemang
 - 24 Oktober 2004  Front Pembela Islam melalui Ketua Badan Investigasi Front 
FPI Alwi meminta maaf  kepada Kapolda Metro Jaya bila aksi sweeping yang 
dilakukannya beberapa waktu  lalu dianggap melecehkan aparat  hukum
 - 25 Oktober 2004  Ketua MPR yang juga mantan Presiden Partai Keadilan 
Sejahtera (PKS), Hidayat Nurwahid dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengecam 
cara-cara kekerasan yang  dilakukan Front Pembela Islam (FPI) dalam menindak 
tempat hiburan yang buka selama Bulan Ramadhan
 - 28 Oktober Meski  menuai protes dari berbagai kalangan, Front Pembela Islam 
(FPI) tetap meneruskan  aksi sweeping di bulan Ramadhan menurut Sekretaris 
Jenderal FPI Farid  Syafi'i
 - 28 Oktober 2004  Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah Ahmad Syafi'I 
Ma'arif meminta aksi-aksi  sepihak yang dilakukan Front Pembela Islam (FPI) 
terhadap kafe-kafe di Jakarta  dihentikan. Dia menilai, apa yang dilakukan FPI 
merupakan wewenang pemerintah  daerah dan kepolisian.
 - 23 Desember Sekitar  150 orang anggota Front Pembela Islam terlibat bentrok 
dengan petugas satuan pengaman JCT (Jakarta International Container Terminal)
  
  
 Tahun  2005
 - 27 Juni FPI  menyerang Kontes Miss Waria di Gedung Sarinah Jakarta
 - 05 Agustus FPI dan  FUI mengancam akan menyerang Jaringan Islam Liberal 
(JIL) di Utan  Kayu
 - 02 Agustus Dewan  Pimpinan Wilayah Front Pembela Isalam (FPI) Kabupaten 
Purwakarta, Jawa Barat,  meminta pengelola Taman Kanak-kanak Tunas Pertiwi, di 
Jalan Raya Bungursari,  menghentikan kebaktian sekaligus membongkar 
bangunannya. Jika tidak, FPI  mengancam akan menghentikan dan membongkar paksa 
bangunan.
 - 23 Agustus Tokoh  Nahdlatul Ulama (NU) Abdurrahman Wahid meminta pimpinan 
tertinggi Front Pembela  Islam (FPI) menghentikan aksi penutupan paksa 
rumah-rumah peribadatan (gereja)  milik jemaat beberapa gereja di Bandung. 
Pernyataan itu  disampaikan Wahid untuk menyikapi penutupan paksa 23 gereja di 
Bandung, Cimahi,  dan Garut yang berlangsung sejak akhir 2002 sampai kasus 
terakhir penutupan  Gereja Kristen Pasundan Dayeuhkolot, Bandung pada 22 
Agustus 2005  lalu.
 - 05 September, Ketua  Umum PBNU Hasyim Muzadi mengecam tindakan kekerasan 
yang dilakukan oleh  FPI
 - 22 September FPI  memaksa agar pemeran foto bertajuk Urban/Culture di Museum 
Bank  Indonesia,  Jakarta agar  ditutup
 - 16 Oktober FPI  mengusir Jamaat yang akan melakukan kebaktian di Jatimulya 
Bekasi  Timur
 - 23 Oktober FPI  kembali menghalangi jamaat yang akan melaksanakan kebaktian 
dan terjadi dorong  mendorong, aparat keamanan hanya menyaksikan saja.
 - 18 Oktober Anggota  Front Pembela Islam (FPI) membawa senjata tajam saat 
berdemo di Polres Metro Jakarta Barat.
 - 19 September FPI  diduga di balik ribuan orang yang menyerbu Pemukiman 
Jamaah Ahmadiyah di Kampung  Neglasari, Desa Sukadana, Kecamatan Campaka, 
Kabupaten  Cianjur.
  
  
 Tahun  2006
 - 19 Pebruari Ratusan  massa Front Pembela Islam berunjuk rasa ke kantor 
Kedutaan Besar Amerika Serika dan melakukan  kekerasan
 - 14 Maret FPI membuat  ricuh di Pendopo Kabupaten Sukoharjo
 - 12 April FPI  menyerang dan merusak Kantor Majalah Playboy
 - 20 Mei, anggota FPI  menggerebek 11 lokasi yang dinilai sebagai tempat 
maksiat di Kampung Kresek,  Jalan Masjid At-Taqwa Rt 2/6, Jati Sampurna, Pondok 
Gede
 -21 FPI, MMI dan HTI  menyegel kantor Fahmina Institute di Cirebon
 -23 FPI, MMI, HTI, dan  FUI mengusir KH Abdurrahman Wahid dari forum Dialog 
Lintas Etnis dan Agama di  Purwakarta Jawa Barat, dan sempat memaki "kiai 
anjing".
 - 25 Mei  Front Pembela  Islam (FPI) cabang Bekasi, mengepung kantor Polres 
Metro  Bekasi

 Undangan Aksi
Kepada Yth.
Saudara-saudara
di tempat
 
Salam Indonesia,
Kami mengundang saudara-saudara untuk bergabung dengan aksi kami yang akan
dilaksanakan pada:
 
Hari/tanggal : Jumat 26 Mei 2006
Pukul           : 14.00 WIB
Tempat         : Mabes Polri Jl. Trunojoyo, Jakarta Selatan
Acara           : Tuntutan kepada Kapolri untuk membubarkan FPI, MMI dan HTI
 
Setelah menyampaikan tuntutan kepada Kapolri kami akan mendatangai markas
FPI di Petamburan dan menuntut Ketua Umum FPI Habib Riziq Shihab meminta
maaf kepada K.H. Abdurrahman Wahid dan masyarakat lainnya yang menjadi
korban kekerasan FPI.
 
Demikian surat undangan ini kami buat, dan terima kasih
Jakarta, 25  Mei 2006
 
 
Organisasi-organisa si:
Garda Bangsa, Garda Kemerdekaan, BANSER (Barisan Serba Guna) NU Pemuda 
Demokrat, Aliansi Betawi Bersatu,Pencak Silat Pagar Nusa, Aliansi Masyarakat 
Anti Kekerasan, SKP-HAM, Relawan Perjuangan Demokrasi (Repdem), Institut 
Indonesia Muda, YMCA (Young Men Christian Association) , Gerak Indonesia, 
Pendawa, FPPI, Pemuda Katolik,PGIW- DKI Jakarta,MADIA, Gerakan Revolusi Nurani 
(GRN), Aliansi Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan.
 
Kontak Person
Eman Hermawan Ketua Umum Garda Bangsa 0816793903
Ahmad Taufik Ketua Umum Garda Kemerdekaan 08121078801/ 021-70292922
 
BUBARKAN FPI, FBR, DAN SEJENISNYA !!! 

 Tujuan : Petamburan – Slipi. Misi : membubarkan FPI. Pelaksana : Garda Bangsa. 
Demikianlah satu siang di hari Jum’at yang lumayan sepi untuk ukuran ibukota 
karena terjebak dalam hari kejepit nasional. Tokoh hal ini tidak menyurutkan 
para pendukung Gus Dur untuk menyebarkan protes kerasnya atas tingkah anggota 
FPI di Purwakarta yang dengan semena-mena mengusir mantan presiden Indonesia 
tersebut. Sebenarnya gejala adanya benih konflik mulai timbul saat DPR seenak 
udelnya merancang RUU APP yang terkesan bukan untuk mengangkat harkat wanita, 
melainkan justru menyalahkan kaum perempuan atas kebobrokan moral bangsaini. 
Ibu Sinta Nuriyah yang turut mendukung aksi anti RUU ini tak luput dari cercaan 
FBR (Perempuan Bejat) yang tak pantas kami tulis ulang lagi disini. Peristiwa 
Jum’at kemarin bisa menjadi pembuktian bahwa FPI dan FBR ternyata “berkomplot” 
saling mengamankan posisi mereka masing2, hanya saja kedok alasan pembenaran 
atas tindak anarkisme selama ini yang mereka gunakan
 berbeda. Berikut dibawah ini sekedar komparasi sederhana seperti apa 
karakteristik organisasi mereka :
 
 
Keterangan
FPI
FBR
 
 
Singkatan
 
Front Pembela Islam
 
Forum Betawi Rempug
 
 
Singkatan plesetan
 
 
Front Preman (berjubah) Islam, Fans Playboy Indonesia
 
Forum Bikin Rusuh, Front Bisanya Ribut 
 
 
 
Tokoh yg dicari wartawan
 
 
Habieb Rizieq
 
Fadholi El Muhir
 
 
Seragam
 
 
Putih-putih
 
Hitam-hitam
 
 
Latar belakang pembenaran
 
Agama
 
Budaya etnis betawi
 
 
Beberapa “prestasi kerja” ( dan rumor seputar aktivitas mereka )
 
 * 
tiap bulan Ramadhan menggrebek diskotek/café ( yg tidak bayar setoran uang 
keamanan)
* 
 
 ikut-ikutan bikin rusuh di depan kedubes kalo ada demo mendukung Palestina
 
* 
 
 tiap ada sengketa tanah, anggotanya siap berjaga untuk mereka yang membayari
* 
 
 dimuka publik seperti mendukung anti pornografi, namun lebih kepada melecehkan 
martabat perempuan
 
 
 
 
Organisasi “seperjuangan”
 
MMI, HTI, FBR, PKS

 
 
Musuh secara personal
 
Gus Dur, Inul Daratista, Ratna Sarumpaet, Sinta  Nuriyah, Olga Lydia, Tiara 
Lestari, Rieke Dyah Pitaloka.
 
 
 
Musuh secara organisasi
 
 
Garda Bangsa, PKB, NU, Banser, GP Ansor, PDI-P 
 
 
Makin terbuka sudah peta perjuangan beberapa “pengkhianat Pancasila” untuk 
menggolkan syariat Islam yang sejak Piagam Jakarta menjadi bahan perdebatan. 
Impian untuk mewujudkan Negara berdasarkan hukum Islam tentunya bukan tujuan 
bagi suatu bangsa yang sepakat untuk memegang kukuh “Bhinneka Tunggal Ika”.
 
Konsep pluralitas dan sekuler dianggap sebagai bentuk anti-islamisasi yang 
perlu diteriaki dengan “Allahu akbar”, sambil merusak dan membakar. Wacana 
talibanisasi pun jangan dianggap remeh, setidaknya bila para politikus lokal 
mengganggap serius demam pembuatan perda yang berdasarkan rancangan semau gue. 
Bayangkan ada daerah yang mensyaratkan perihal jilbab, mahir berbahasa Arab, 
sampai menyentuh ke ranah privat seperti urusan
perkawinan (poligami) segala. Tapi jarang ada penerapan perda anti KKN, 
misalnya.
  
Gebrakan paling radikal bisa kita lihat dalam kasus bom bunuh diri oleh orang2 
yang justru berlatar belakang pendidikan pesantren. Setingkat dibawahnya, para 
pembuat kerusuhan local di beberapa kota Indonesia bagian timur yang mengusung 
tema jihad. Lalu level bawahnya lagi bercirikan anarkisme, tanpa perlu diskusi 
dan berpikiran jernih, para pelaku bisa berbuat sekenanya main sweeping, main 
razia, dan merusak property milik masyarakat banyak. Beraninya kalo tampil 
keroyokan, tapi kalo diajak bertukar pikiran kelihatan banget mereka hanya 
ikut-ikutan doang tanpa mengerti apa yang sebenarnya mereka perjuangan, selain 
yaitu sorakan “Allahu akbar”.

  Tak heran, dalam aksi demonya kemarin Garda Bangsa mencap FPI sebagai preman 
berjubah agama (Islam). Memanfaatkan kebodohan umat untuk berbuat kekerasan. 
Apakah dalam Islam tidak diajarkan kedamaian, saling mengasihi, dan saling 
bertoleransi ? Bila aliran Ahmadiyah dan Lia Eden diberi stigma aliran sesat, 
bisakah kita sematkan pula hal yang sama kepada FPI, bahwa FPI menyesatkan 
pengikutnya untuk bertindak brutal dan justru mempermalukan nilai-nilai Islam 
itu sendiri ? Polisi bertindak tegas donk. Dan kaum muslim
moderat jangan diam saja melihat nilai religius agamanya diinjak-injak oleh 
mereka yang doyan kekerasan. 
 
Islam sontoloyo. Demikian sebuah tajuk menarik yang saya baca di majalah Tempo 
edisi kemarin. Yang ngomong sontoloyo ini bukan sembarangan loh, ini dari 
ucapannya Bung Karno, presiden pertama RI. Cuma mulutnya doang yang sok suci, 
tapi dalam hatinya sungguh hitam legam berlumuran egoisme dan mau menangnya 
sendiri. Tiap Idul Kurban menyumbang kambing dan sapi dari hasil korupsi. 
Berkali-kali pergi naik haji ke tanah suci hanya sebagai pamer kesombongan 
pribadinya yang busuk. Lihat saja oknum2 koruptor yang bertebaran di Departemen 
Agama menyalah gunakan dana haji umat. 
 Munafiknya kita ditambah lagi dengan sok pamer dihadapan kaum muslim luar 
negeri. Kalau dengar dan baca kisah rakyat Palestina dianiaya saja, langsung 
PKS dan ormas-ormas sekutunya pasang aksi sejuta umat yang bikin macet jalanan 
( sejuta apanya, paling juga nggak lebih gede ketimbang jumlah demo buruh ? ) 
berkunjung ke kedutaan besar tertentu sambil pasang aksi nyumbang segala. Tapi 
disaat yang sama, mereka tidak peduli dengan penderitaan nasib saudara-saudara 
TKI/TKW kita yang diperkosa, dizhalimi, dan disiksa oleh para majikannya di 
Timur Tengah, Malaysia, dan negara2 muslim lainnya.

 Ketika rakyat Aceh terlibat sengketa antara TNI-GAM, nggak jelas juga kemana 
para pemuka Islam berjuang. Bahkan seolah tutup mata pula atas banyaknya ladang 
/ perkebunan ganja disana. Yang lebih diributin malah soal pemberlakukan 
syariat Islam, yang hanya menghasilkan hukuman cambuk buat para penjudik kelas 
teri.
 
Balik lagi ke topic FPI, FBR, dan ormas2 yang berkedok agama, budaya etnis 
tertentu, dan sebagainya. Ssstt… katanya sich kebanyakan anggota kelompok 
mereka adalah kaum pengangguran dan berpendidikan rendah yang tentu saja bisa 
dirayu dengan dalih membela suatu hal yang prinsip tapi keblinger itu. Lihat 
saja perilaku norak dan kampungan dari omongan ketua FBR saat menghadapi mbak 
Ratna di acara Todays Dialogue Metro TV beberapa minggu lalu.
 
Kalaupun bisa dibilang “pekerja”, kerjanya yach malakin duit pedagang pasar, 
rebutan lahan parkir, narik upeti dari pengusaha diskotek/klub malam, majakin 
setoran dari kegiatan judi/prostitusi, dan tentunya berprofesi setaraf centeng 
bagi siapa saja yang membayari mereka. Dari duit haram itukah mereka sok 
berjuang ?

 Dan itukah yang dinamakan membela Islam atau adat betawi ? Bukankah itu semata 
membela perut dan ego golongan sendiri dengan cara2 yg justru bertentangan 
dengan nilai agama maupun budaya ?
       
---------------------------------
 Yahoo! Mail is the world's favourite email. Don't settle for less, sign up for 
your freeaccount today.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke