Ya, Salam lagi mas Syaikhul,
Kelihatan rakyat masih belum siap, tapi rakyat kita tergantung siapa yang
mempengaruhi.Batan dan juga mungkin universitas(STTN) sedang berupaya melakukan
sosialisasi, semoga nanti tahun 2016/17 majoriti rakyat kita jadi betul2 siap
menerimanya.inshaAllah.
DPR kita juga sudah mulai bagus,keadilan dan keberpihakan pada rakyat sudah
mulai kelihatan, terutama untuk kasus yang berkaitan dengan nuklir, misal kasus
interpelasi nuklir iran dan juga PLTN.
DPR Dukung Pembangunan PLTN
JAKARTA ¨C Sejumlah anggota Komisi VII Dewan Perwakilan Rakyat mendukung
pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) di Indonesia pada 2016.
Namun, untuk mengurangi penolakan dari masyarakat, perlu dilakukan sosialisasi
yang persuasif dan akurat. Hal ini mengemuka dalam rapat kerja dengan Menteri
Negara Riset dan Teknologi/Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi
Kusmayanto Kadiman kemarin.
Tanpa menyebutkan lokasi pembangunan proyek, H Ali Mubarak dari Fraksi
Kebangkitan Bangsa mengatakan anggaran untuk pembangunan instalasi nuklir harus
tinggi karena posisi
Indonesia
saat ini sudah kalah di mana-mana. ¡° Kalau bisa nuklir kita menyaingi Korea
Utara,¡± ujarnya.
Dalam dua pekan terakhir, masyarakat Jepara, Kudus, dan sekitarnya, yang
difasilitasi sejumlah lembaga swadaya masyarakat, terus-menerus menggelar unjuk
rasa menolak rencana pembangunan PLTN di Muria, Jawa Tengah. Mereka khawatir
PLTN akan bocor, seperti yang terjadi di
Chernobyl
, Rusia, sehingga mengancam keselamatan jiwa penduduk setempat.
Karena itu, M Najib dari Fraksi Amanat Nasional dan Syamsul Bachri dari
Fraksi Partai Golkar menekankan pentingnya sosialisasi tentang pentingnya PLTN.
Tanpa sosialisasi yang matang, penolakan dari masyarakat akan semakin menguat.
Sekarang ini, kata Najib, dunia−termasuk Indonesia−sedang diteror
Amerika Serikat. Karena itu, jika kita berbicara masalah teknologi nuklir,
masyarakat akan menganggap hal tersebut adalah senjata pemusnah massal. ¡°Hal
ini harus dilawan dengan sosialisasi yang benar oleh Kementerian Riset dan
Teknologi,¡± ujarnya dalam rapat yang dipimpin Sony Keraf itu.
Menanggapi semua itu, Kusmayanto menyatakan pihaknya tengah berupaya
melakukan sosialisasi, anatara lain melalui pembuatan buku bahan ajar dan pesan
layanan masyarakat melalui media
massa
serta mengadakan acara-acara seputar teknologi nuklir.
Tentang pengolahan limbah nuklir, kata dia,
Indonesia
akan menggunakan jasa Amerika Serikat melalui kerja sama Global Nuclear Energy
Partnership. ¡ñSORTA TOBING
Sumber: Koran Tempo, Selasa, 19 Juni 2007, Hal.A4 Kol.2-4
Syaikhul Amin - MTD <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
salam mas ekki,
yg saya tahu medco energi int'l indonesia tbk adalah pemain oil and gas akan
sangat riskan jika bermain ke PLTN, memang lewat anak perusahaan medco power
indonesia menggarap proyek PLT panas bumi spt di lahendong, garut. tapi itu
kapasitas juga kecil paling banter 150 MW. dan saya nggak yakin dengan
kemampuannya bisa menggarap proyek PLTN. medco lebih banyak bergerak di
konstruksi rig offshore dan angkutan crude oil. mungkin ada swasta yg lebih
mumpuni selain medco?
memang diakui banyak ahli2 nuklir kita (baik yg master maupun doktor) yg
jobless, itulah yg harusnya dipikirkan oleh pemerintah sebaik2nya. maksudnya
begini jangan sampai membuat project negara spt IPTN yg sekarang nasib karyawan
dan asetnya akhirnya tersia2kan, bahkan ratusan master dan doktor ahli
auronetika yg telah dihasilkan mjd 'terbuang'.
sekiranya project PLTN ini diserahkan ke PLN akan lebih semrawut karena PLN
salah satu bumn yg korup, lihat saja kasus dirutnya yg tersangkut korupsi dalam
pengadaan PLTD.
bgm dengan BATAN atau universitas? sanggupkah?
PLTN memang sebuah kebutuhan tapi untuk pembangunannya sekarang ini jangan
dulu...:-))
syaikhul
-----Original Message-----
From: ekki kurniawan [mailto:[EMAIL PROTECTED]
Sent: Monday, June 18, 2007 5:57 PM
To: [email protected]; [EMAIL PROTECTED]
Subject: RE: [kmnu2000] Diskusi PLTN masih panjang! Maaf, bila berbeda pendapat.
Salam lagi Mas Syaikhul Amin, terimakasih atas balasannya.
Ya, mas, saya ingat kata2 Presiden Iran waktu berkunjung ke Jakarta :
"Kalau energi nuklir ini buruk, kenapa kalian (negara2 Eropa, Amerika yang
menentang nuklir iran) mengembangkannya."
"Kalau energi nuklir ini baik, kenapa kami tak boleh mengembangannya"
Nuklir hanya bagian dari energi mix yang ada, bukan solusi total untuk
mengatasi kekurangan keseluruhan energi, karena masih banyak sumber energi
lainya.
jadi Why not! kita manfaatkan, apalagi pihak goverment sudah merencanakan
jauh2, dan rencana Indonesia mengoperasikan PLTN 2016-17 sudah terdaftar di
IAEA dan diketahui diseluruh dunia.Saya merasa bangga akan hal ini, yang
berarti Indonesia menjadi negara Asean pertama yang punya PLTN, semoga sahaja
berjalan lancar,amin..InshaAllah.
Dan kalau program lancar ini maka akan banyak wisatawan2 asing berdatangan ke
Indonesia yang ingin tahu PLTN. Itukan jadi devisa buat negara, Macam di Iran,
yang saya dengar dari pengajian ustaz jalal, paling tidak ada 1200/hari
wisatawan asing yang datang ke negaranya untuk memantau PLTN Iran, sekaligus
rekreasi ke negri mullah.
Disamping itu kehadiran PLTN diharapkan akan menyedot tenaga kerja, karena
sudah banyak sarjana,master bahkan doktor di bidang tenaga nuklir ini yang
"nganggur". He he.
Mas! ada banyak pihak swasta yang tertarik dg PLTN (pembangkit listrik
tenaga"neutron" he he) diantaranya PT MEDCO , ini beritanya :
Jawara Minyak Bakal Terjun Ke Bisnis Pembangkit Nuklir Agustina Triyudhi
Astuti, Umar Idris posted by kontan on 06/02/07
Pemerintah berencana membangun banyak proyek pembangkit untuk memenuhi
kebutuhan listrik. Tak terkecuali energi nuklir yang mulai dilirik. Lagipula,
sejumlah negara seperti Jepang dan Korea Selatan, juga menawarkan proyek
pembangkit nuklir. Rupanya, proyek nuklir itu juga menarik PT Medco Energi.
Seberapa seriuskah Medco membangun reaktor pembangkit nuklir? Berikut
liputannya.
KEHADIRAN nuklir di bumi Indonesia bak harga mati alias tidak bisa
ditawar-tawar lagi. Tanpa energi alternatif tersebut 15 tahun lagi setrum di
negara ini bakal byar-pet. Soalnya, pemakaian listrik dari tahun ke tahun makin
kencang saja. Rata-rata meningkat enam persen saban tahunnya.
Tapi, pertumbuhan yang begitu cepat, tidak seimbang dengan penambahan kapasitas
listrik. Apalagi, sumber energi yang selama ini kebanyakan dari minyak dan gas
suatu saat bakal ludes. Walau masih melimpah ruah, batu bara juga tidak bisa
terus-terusan jadi andalan.
"Mau tidak mau nuklir ke depannya diperlukan untuk memberikan kontribusi pada
kebutuhan energi kita yang setiap tahun terus meningkat," kata Direktur
Pembangkit dan Energi Primer PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) Ali Herman
Ibrahim kepada KONTAN, Kamis (31/5) lalu.
Pemerintah pun tidak main-main guna mewujudkan mimpi membangun pembangkit
listrik tenaga nuklir (PLTN). Buktinya, negara membentengi betul proyek
ambisius ini lewat Undang-Undang Nomor 17/2007 tentang Rencana Pembangunan
Jangka Panjang Nasional 2005-2025.
Juru bicara Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) Ferhat Aziz mengatakan paling
tidak pada 2015 sampai 2019 nanti PLTN sudah bisa memainkan peranan dalam
sistem listrik nasional. "Pada 2025 menyumbang 4% atau setara 4.000 megawatt
(MW) dari total kebutuhan," ujarnya.
Rencananya, dua dari enam pembangkit nuklir yang dipatok bakal dibangun pada
2010 mendatang. Harapannya, pembangkit itu bakal beroperasi tujuh tahun
kemudian. Tender pembangunan reaktor senilai US$ 1,6 miliar ini akan mulai
2008, yang bisa memasok kebutuhan listrik Jawa-Bali.
BATAN sudah menyiapkan Sistem Energi Nuklir (SEN) yang bakal dipakai sebagai
panduan dalam melaksanakan dan mengembangkan sumber daya atom itu. Bahkan,
kajian lokasi pembangunan di Muria, Jawa Tengah sudah selesai sejak 1996 lalu.
Tapi, sekarang masih diperbarui, misalnya, aspek seismologi dan vulkanologi.
PLN jauh-jauh hari sudah memperhitungkan pemakaian energi nuklir sebagai sumber
penghasil listrik. Pada 1980-an perusahaan setrum pelat merah ini sudah
melakukan studi. Bagaimana cara mengoperasikan dan pengelolaan bahan bakar,
misalnya. Jadi, "Kami siap bila PLTN jadi ada," kata Ali.
Tak mau ketinggalan kereta. PT Medco Energi Internasional Indonesia Tbk., juga
langsung tancap gas. Mereka juga sudah melakukan studi kelayakan, bahkan sampai
terbang ke Prancis dan Korea Selatan segala. Tujuannya apalagi kalau bukan
untuk belajar teknologi setrum nuklir. Sebab, kedua negara itu sudah
memanfaatkan nuklir sebagai sumber energi penghasil setrum.
"Sebagai perusahaan energi kalau mau memimpin jangan sampai ketinggalan
kereta," kata Presiden Direktur Medco Energi Hilmi Panigoro. Sehingga, dia
bilang, semua jenis energi mesti dipelajari. Apalagi, 15 tahun lagi tanpa
nuklir kebutuhan listrik Jawa-Bali akan memble.
Yang pasti, Hilmi menegaskan, Medco Energi sangat berminat dengan proyek PLTN
tersebut. Hanya, mereka belum memutuskan lantaran mesti menyelesaikan studi
dulu. Lagian, pembangunan pembangkit nuklir harus bareng pemerintah, tidak
mungkin jalan sendiri.
Hilmi menambahkan, Indonesia mesti berkaca pada negara-negara yang sudah sukses
memanfaatkan nuklir sebagai energi alternatif. Contohnya, Prancis yang 80%
kebutuhan listriknya berasal dari PLTN. "Saya pikir pemenuhan kebutuhan listrik
yang paling murah itu, ya energi nuklir," ujarnya.
Menurut Kepala Pengembangan Proyek Nuklir PT Medco Power Indonesia, Arnold
Soetrisnanto, sudah banyak tawaran investor asing yang masuk. Sebut saja,
Jepang, Korea Selatan, Amerika Serikat dan Prancis. "Yang paling kenceng dan
gencar ialah Korea," ujarnya.
Cuma, Arnold mengungkapkan, masih ada yang mengganjal keinginan Medco Energi
main di PLTN. "Kami masih menunggu adanya peraturan presiden," kata bekas
Direktur BATAN ini.
Tapi, kalau pun pemerintah melarang, artinya mesti dikuasai oleh PLN, Medco
Energi rela melepas proyek itu. Toh, Arnold mengatakan masih ada kesempatan
menjadi kontraktor pembangunan PLTN itu yang mengerjakan procurement,
engineering dan konstruksinya.
Siapapun nanti yang berhak mendapat kue bernama pembangkit nuklir itu, Arnold
meminta peraturan presiden tersebut rampung tahun ini juga. Soalnya,
pembangunan reaktor membutuhkan waktu paling tidak 10 tahun. "Jadi, tidak bisa
menunggu lagi, harus cepat," ujarnya sembari bilang Divisi Nuklir Medco sudah
ada sejak Februari lalu.
-->
-->
---ek--
Syaikhul Amin - MTD < [EMAIL PROTECTED] <mailto:Syaikhul%40capcx.com> com>
wrote:
salam mas ekki,
saya salah seorang dari warga negara Indonesia yang tidak setuju dengan
pembangunan PLTN, apalagi setelah kejadian lapindo brantas.
bisakah memberi suatu premis yang baru bahwa energi itu tidak sekedar cleaness
tapi membuat bangsa ini menjadi lebih beradab? data terbaru indonesia juara 1
korupsi se asia. kalaupun akan dibangun siapa yang paling pas membangun,
merawat dan mengoperasikannya?. sepanjang yg saya tahu jika diserahkan ke PLN
akan lebih berbahaya...
swasta? nggak ada yg sanggup, paling2 swasta asing...
atau?
syaikhul
Recent Activity
4
New Members
Visit Your Group
Be Discovered!
Yahoo! HotJobs
Employers find you
Upload your resume
Yahoo! Finance
It's Now Personal
Guides, news,
advice & more.
Yahoo! Mail
Drag & drop
With the all-new
Yahoo! Mail Beta
.
Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com
[Non-text portions of this message have been removed]