Ya saya setuju dengan kekhawatiran Anda. apalagi PLTN itu deket pemukiman 
penduduk, bisa bahaya bila bocor atau terjadi kecelakaan. bukankah masih ada 
banyak pulau yang tidak dihuni, dan jauh dari pemukiman penduduk kenapa nggak 
diambil? 



Syaikhul Amin - MTD <[EMAIL PROTECTED]> wrote:                                  
salam mas ekki,
  
 saya salah seorang dari warga negara Indonesia yang tidak setuju dengan 
pembangunan PLTN, apalagi setelah kejadian lapindo brantas.  
 bisakah memberi suatu premis yang baru bahwa energi itu tidak sekedar cleaness 
tapi membuat bangsa ini menjadi lebih beradab? data terbaru indonesia juara 1 
korupsi se asia.  kalaupun akan dibangun siapa yang paling pas membangun, 
merawat dan mengoperasikannya?. sepanjang yg saya tahu jika diserahkan ke PLN 
akan lebih berbahaya...
 swasta? nggak ada yg sanggup, paling2 swasta asing...
 atau?
  
 syaikhul
  
 
 -----Original Message-----
 From: ekki kurniawan [mailto:[EMAIL PROTECTED]
 Sent: Friday, June 15, 2007 2:25 PM
 To: [EMAIL PROTECTED]; [email protected]
 Subject: [kmnu2000] Diskusi PLTN masih panjang! Maaf, bila berbeda pendapat.
 
 Salam "nuclear 4 peace" Nuklir hanya sebagian dari sumber energi anugrah Tuhan 
dari sekian banyak bentuk energi lainnya. Tuhan ciptakan Uranium tentu tidak 
sia2, pasti ada hikmahnya. Tugas kita adalah memanfaatkan untuk kemakmuran 
bersama. Setiap pemanfaatan energi pasti ada kelebihan dan kekurangannya. di 
situlah kita harus bijak mensikapinya. Maaf ini, saya posting tulisan yang 
lama, sebagai bagian dari diskusi kita selanjutnya. Prof Ir Marwoto 
Koesumopradono: 
 Indonesia Jangan Terjebak 
 Perangkap Tenaga Nuklir 
 ------------------------------- 
 Sejak dini Indonesia harus memikirkan dan mengembangkan teknologi 
 alternatif yang mempergunakan sumber-sumber energi yang lebih abadi atau 
 yang dapat diperbaharui untuk keselamatan masa depan bangsa. Hal ini perlu 
 karena disadari bahwa suatu waktu sumber-sumber minyak di Indonesia, bahkan 
 di dunia akan habis terkuras. 
 Hal ini diungkapkan Prof Ir Marwoto Koesumopradono, Dosen Fakultas 
 Teknik Universitas Diponegoro (Undip) Semarang hari Jumat (9/9) pada acara 
 seminar tentang Teknologi di Kampus Undip. 
 Dikatakan, perdebatan mengenai energi tak kunjung habis sejak tahun 1973 
 yang merupakan sejarah energi yang kelam bagi negara-negara industri maju 
 yang bergantung pada energi minyak bumi. Karena pada tahun tersebut baru 
 disadari bahwa mereka adalah pemegang kunci sumber minyak yang diperlukan 
 negara-negara industri yang maju. 
 Tahun itu juga negeri-negeri maju terdorong untuk mencari sumber-sumber 
 energi alternatif. Mereka dikejutkan oleh kenyataan, betapa selama ini 
 kemakmuran yang mereka nikmati sangat tergantung dari minyak yang murah. 
 "Kesadaran bahwa minyak sebagai sumber energi yang begitu penting 
 sebenarnya juga sumber yang terbatas dan tidak dapat diperbaharui, 
 berkembang dengan cepat dan harga minyak yang tinggi, mendorong mereka 
 mengembangkan sumber energi lain, "ujar alumnus Fakultas Teknik Kimia UGM 
 tahun 1966 ini. 
 Dikatakan, para pendukung energi nuklir mula-mula merasa yakin bahwa 
 tenaga nuklirlah yang akan menggantikan minyak. Akan tetapi ternyata tenaga 
 nuklir semakin bertambah besar. Berbagai keberatan yang beralasan kuat 
 dikemukakan. Yang kemudian terbukti dengan kecelakaan yang dialami berbagai 
 pembangkit tenaga nuklir di Amerika Serikat, Jepang, Inggris, Soviet, dan 
 negara lainnya. 
 Kekhawatiran terhadap bencana radiasi baik yang disebabkan oleh 
 kecelakaan karena pengoperasian, maupun bahaya radiasi dari limbah nuklir, 
 telah menghantui teknologi energi nuklir ini sejak lama. Marwoto memberi 
 contoh, Swedia beberapa tahun lalu telah memutuskan untuk tidak lagi 
 membangun pembangkit tenaga nuklir yang baru, dan yang terlanjur dibangun 
 akan ditutup setelah masa gunanya habis. 
 Selain itu, sebuah tenaga pembangkit tenaga nuklir 
 di Filipina, yang dibangun semasa Marcos berkuasa, kini ditutup dan tidak 
 dioperasikan mengingat kuatnya aksi protes oleh kelompok anti nuklir di 
 negara itu. Akibatnya Filipina menderita kerugian bermilyar dolar. 
 Sementara itu di Indonesia perdebatan mengenai tenaga nuklir juga telah 
 dimulai, meskipun menurut Marwoto masih kecil-kecilan. Pendukung nuklir 
 mencoba meyakinkan masyarakat bahwa pembangkit tenaga nuklir adalah jalan 
 satu-satunya memenuhi kenaikan tenaga listrik setelah tahun 2000 nanti. 
 "Sayangnya perdebatan pro dan kontra pembangkit tenaga nuklir di negeri 
 kita kurang dilandasi informasi para pendukung tenaga nuklir yang 
 mengatakan bahwa tenaga nuklir itu sepenuhnya terjamin aman, dan adalah 
 satu-satunya yang terbaik dan yang sanggup memenuhi keperluan energi di 
 Indonesia, "katanya. 
 Ditambahkan, di Amerika Serikat sendiri banyak proyek pembangkit tenaga 
 nuklir ditangguhkan. Bukan saja karena penanam modal yang diperlukan sangat 
 besar, akan tetapi karena masih banyak kekhawatiran bahwa proses tenaga 
 nuklir yang ada sekarang masih penuh risiko-risiko yang belum terjamin 
 pengamanannya dengan sepenuh-penuhnya. 
 "Berbagai insiden gawat telah terjadi di Amerika Serikat, yang membuka 
 mata orang banyak, betapa teknologi tenaga nuklir yang ada ini belumlah 
 sesempurna yang dikatakan selama ini oleh para pendukungnya yang punya 
 kepentingan keuangan besar di dalamnya, "katanya. 
 Demikian juga di Jerman ada "Kelompok Hijau" yang tak henti-hentinya 
 menentang usaha memperluas usaha jaringan pembangkit tenaga nuklir. Di 
 negeri itu, kata Marwoto, masalah tenaga nuklir merupakan perdebatan terus 
 menerus yang diselingi demonstrasi terhadap proyek pembangunan pembangkit 
 tenaga nuklir. Kelompok ini mendapat dukungan yang besar dari rakyat dan 
 menjadi kekuatan politik tersendiri. 
 Marwoto juga mengatakan, seorang ahli tenaga matahari Indonesia Prof Dr 
 Seno Sastroamidjojo, lulusan MIT di Amerika Serikat tak jemu-jemunya 
 mengimbau agar orang Indonesia jangan mudah terjebak ke dalam perangkap 
 tenaga nuklir. 
 Ia berpendapat, katanya, negeri seperti Indonesia yang terletak di jalur 
 khatulistiwa tidaklah perlu memprioritaskan upaya pembangunan pembangkit 
 tenaga nuklir. Karen masih ada energi yang bisa digunakan, seperti cahaya 
 matahari yang bisa menghasilkan listrik melalui konektor, juga melalui 
 teknologi lainnya. 
 Prof Marwoto sendiri mengatakan, banyak bahan yang bisa menghasilkan 
 energi. Seperti batubara yang banyak di Indonesia. Namun masalahnya, 
 batubara sebagai sumber tenaga asapnya sangat mencemarkan udara, dan bisa 
 menghasilkan hujan asam. Untuk itulah perlu dicari sumber energi 
 alternatif. 
 Disarankan juga, sumber minyak yang masih tersedia kini janganlah sampai 
 membuat kita terlena, dan membiarkan segala proses yang tidak baik 
 berlangsung terus, hingga membawa kita ke titik yang kritis. "Adalah lebih 
 bijaksana menghindarkan tercapainya titik kritis, baik dalam sumber energi 
 maupun dalam pencemaran lingkungan hidup sedini mungkin. Kita harus 
 mengembangkan kebijaksanaan yang setepat mungkin, juga bagi hari depan 
 bangsa kita, "katanya. 
 (Harian Umum Suara Pembaruan, 18 September 1994)
 
 ekki kurniawan < [EMAIL PROTECTED] <mailto:ekki0793%40yahoo.com> com> wrote:
 Assalamu'laikum, dan salam sejahtera buat semua!
 
 Kalau alasan penolakan PLTN itu,"bahwa orang Indonesia jagoan korupsi, tidak 
berdisiplin, suka ugal-ugalan, dan tukang melanggar aturan. Mau nekat? Ora 
ngilo githoké (tidak bercermin tengkuknya), kata pepatah Jawa."
 
 itu bukan hanya untuk PLTN, bidang lainnya juga perlu disiplin.
 jangan korupsi, tidak ugal2an dan tak boleh melanggar aturan.
 Semoga dengan adanya PLTN, bisa menjadi titik awal perbaikan nasib 
bangsa...inshaALlah.
 
 Wassalam.
 
 Fabby Tumiwa < [EMAIL PROTECTED] <mailto:fabby%40nusa.or.id> id> wrote:
 http://www.kompas. <http://www.kompas.com/> com/
 
 Opini Kompas, 12 Juni 2007 
 
 Selasa, 12 Juni 2007 
 Gegabah
 L Wilardjo 
 Gegabah ialah sok berani sekali, tidak menimbang dengan matang, kelewat nekat 
dan grusa-grusu alias terlalu terburu-buru. Dalam bersikap, mengambil 
keputusan, dan bertindak, gegabah (foolhardy) adalah sifat yang tidak baik. 
 Gegabah itulah vonis Mahadewa Zeus atas Prometheus. Titan pemberani ini nekat 
mencuri api dari kahyangan, lalu api itu diberikannya kepada manusia. Niat 
Prometheus mulia, yakni membantu manusia memperoleh kemajuan demi 
kesejahteraannya. Tetapi, api tidak hanya berguna. Api juga mengandung bahaya. 
 Prometheus salah, sebab menyerahkan hal yang berbahaya itu tanpa lebih dulu 
mengajari manusia bagaimana bertindak arif dalam hidup bermasyarakat. Maka, 
Zeus menghukum Prometheus. Ia dirantai di batu raksasa. Di siang hari, 
gagak-gagak mematukinya, mengodol-odol hatinya. Malam harinya, Prometheus 
sembuh. Ia pulih, tetapi hanya untuk kembali dikerubuti gagak yang 
menyayat-yayat hatinya. 
 Sementara itu, Zeus mengutus Hermes untuk mengajarkan civic wisdom-kearifan 
hidup bermasyarakat-kepada manusia. Dan, penderitaan Prometheus baru berakhir 
setelah ia ditolong Hercules. 
 Itulah mitos yang dikisahkan Dr Karlina Supelli, ahli filsafat berlatar 
astronomi dan dosen di STF Driyarkara. Ia bercerita di Kampoeng Percik, 
Salatiga, Jumat 25 Mei lalu. Ia membenarkan vonis Zeus. 
 Challenger 
 Karlina juga bercerita tentang kegegabahan yang lain. Yang ini bukan mitos 
atau legenda, tetapi kisah nyata. Syahdan, pada malam terakhir menjelang 
peluncuran pesawat ulang-alik Challenger di hari yang sangat dingin, 28 Januari 
1986. Para insinyur yang merancang tangki bahan bakar roket penggalak (booster 
rocket) pesawat ulang-alik itu khawatir akan terjadi hal-hal yang tak 
diinginkan. Suhu pada hari itu diramalkan akan lebih dari 20 derajat F di bawah 
suhu terdingin yang pernah dialami dalam peluncuran-peluncuran sebelumnya. 
Keberatan para insinyur itu, khususnya insinyur senior Roger Boisjoly dan 
penyelia teknis Arnold Thompson, dikomunikasikan ke NASA, dan para insinyur di 
NASA pun memahami sikap para perancang tersebut. 
 Tetapi, empat direktur "Thiokol" (perusahaan yang dikontrak membuat roket 
penggalak itu) punya kepentingan lain. Mereka ingin mendapatkan perpanjangan 
kontrak dari NASA. Dalam debat itu, Jerald Mason mendesak direktur teknis, 
Robert Lund, untuk "mencopot topi insinyur dan memakai topi manajemennya". 
Maka, sikap "Thiokol" dibalik, menjadi menyetujui peluncuran. 
 Malam tanggal 28 Januari 1986, Allan Mcdonald, manajer proyek Roket Penggalak 
Berbahan Bakar Padat (Solid-fuel Rocket Booster atau SRB) masih berusaha 
menunda peluncuran. Ia menghubungi manajer peluncuran NASA di Pusat Penerbangan 
Angkasa Luar Marshall, Stanley Reinartz dan Lawrence Mulloy. Sia-sia belaka! 
Seperti di "Thiokol", manajemen di NASA juga menyepelekan peringatan para 
insinyur. Mulloy bahkan berkata, "Masya Allah, "Thiokol", kapan menurut kalian 
peluncuran ini boleh saya lakukan-bulan April nanti?" 
 Maka, peluncuran itu pun terjadilah, disusul musibah besar. Challenger meledak 
dan hancur berkeping-keping. Di Challenger ada dua SRB, masing-masing terdiri 
atas empat bagian yang disambung. Celah sambungannya disumbat dengan "cincin O" 
yang terbuat dari bahan lenting. Karena suhu sangat dingin, "cincin O" itu 
menjadi getas dan rapuh. Gas menyusup keluar melalui celah sambungannya, lalu 
terbakar, memicu ledakan. 
 Duit dan politik 
 Itulah akibat kegegabahan manajer yang tidak menggubris peringatan para 
insinyur. Para direktur di "Thiokol" punya kepentingan UUD (ujung-ujungnya 
duit), ingin perpanjangan kontrak. Para manajer di NASA mendapat tekanan 
politik, sebab malam sesudah peluncuran itu rencananya Presiden Ronald Reagan 
akan memberikan amanat kepresidenan (State of the Union message), membanggakan 
sukses Challenger. Nuansa politiknya kental, seperti terlihat pada Christa 
MacAuliffe, ibu guru TK yang diikutsertakan dalam misi Challenger. Reagan ingin 
memperoleh dukungan kaum feminis. 
 Kisah kegegabahan tadi kontras dengan Jerman. Negara ini menyusul Swedia dan 
Austria, menyatakan sudah emoh PLTN. Pembangkit bertenaga nuklir yang sudah 
telanjur ada hanya akan dihabiskan masa pakainya. 
 Awal bulan Mei 2007 di Brussels, partai-partai hijau di Parlemen Eropa 
menekankan bahwa 21 tahun sesudah Chernobyl, situasi di bidang per-PLTN-an 
menakutkan. Setiap tahun terjadi 1.000-an musibah (insidents; zwischenfälle). 
Dalam 20 tahun sesudah Chernobyl, terjadi 16 kecelakaan besar (accidents; 
unfälle), dua di antaranya di Jerman. Wakil Ketua Partai Hijau di Parlemen 
Eropa, Rebecca Harm, mengatakan bahwa tenaga nuklir bukanlah sarana untuk 
mengatasi perubahan iklim. Wolfgang Kromp, pimpinan Lembaga Penelitian Risiko 
di Universitas Wina, menegaskan bahwa tenaga nuklir harus mundur teratur. 
 Gegabah atau arif? 
 Bagaimana kita sendiri di Indonesia? Apakah kita mau sok gagah, lalu bertindak 
gegabah? Atau bersikap arif dan mengedepankan kehati-hatian (prudence)? Apalah 
kita ini kalau dibandingkan dengan Swedia, Austria, dan Jerman dalam penguasaan 
teknologi tinggi dan dalam budaya berdisiplin ketat? 
 Prof Dr Franz Magnis-Suseno, ningrat Jerman yang leluhurnya asal Chech, pastor 
Jesuit, memberikan "cap" jelek kepada kita. Dikatakannya bahwa orang Indonesia 
jagoan korupsi, tidak berdisiplin, suka ugal-ugalan, dan tukang melanggar 
aturan. Mau nekat? Ora ngilo githoké (tidak bercermin tengkuknya), kata pepatah 
Jawa. 
 L Wilardjo Fisikawan dan Dosen Etika Program Pascasarjana UKSW 
 
 Send instant messages to your online friends http://uk.messenger 
<http://uk.messenger.yahoo.com> .yahoo.com 
 
 Send instant messages to your online friends http://uk.messenger 
<http://uk.messenger.yahoo.com> .yahoo.com 
 
 [Non-text portions of this message have been removed]
 
 [Non-text portions of this message have been removed]
 
 
     
                       

       
---------------------------------
Be a better Heartthrob. Get better relationship answers from someone who knows.
Yahoo! Answers - Check it out. 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke