Salam"nuclear for peace"
  untuk bung Wahyu Agung, ada tulisan yang setidaknya dapat menjelaskan bahwa 
pembangunan PLTN tahan gempa dan inshaAllah, aman buat pemukiman penduduk 
disekitarnya,semoga bisa menghilangkan rasa anxiety.
   
  From: Ma'rufin Sudibyo <[EMAIL PROTECTED] com>
Date: Jun 19, 2007 8:14 AM
Subject: Re: Fwd: [IndoEnergy] Masih seputar PLTN
To: [EMAIL PROTECTED] net.id
Cc: Rovicky Dwi Putrohari <[EMAIL PROTECTED] com>

Sebelumnya salam kenal dulu pak Nengah Sudja. Kalo
tidak salah pak Nengah ini pengamat energi yang
analisisnya sering dikutip koran-koran. Wah sebuah
kehormatan untuk berkorespondensi dengan anda.

Ada yang musti diralat dulu. Reaktor Kartini itu murni
reaktor eksperimental sebagai produsen neutron, dengan
daya maksimum 100 KWt (kilowatt thermal). Dan rasanya
belum pernah ada eksperimen untuk mengubah daya
thermal Kartini menjadi daya listrik, karena desain
dasar reaktor eksperimental dan reaktor daya itu
sangat berbeda.

Berkait intensitas gempa, disini dilampirkan dua
metode masing-masing dari Murphy-O'Brien dan
Gutenberg-Richter yang dikutip dari paper di situs BMG
dulu sebelum situs ini dirombak (dan papernya
menghilang). Pada metode Murphy-O'Brien hanya dihitung
percepatan tanah maksimum dimana intensitasnya harus
diketahui dulu. Sementara pada metode
Gutenberg-Richter harus diketahui dulu koefisien
atenuasi intensitasnya (k) yang besarnya tergantung
komposisi batuan setempat. Biasanya sih dicari dulu
titik acuan yang intensitasnya sudah diketahui
sehingga koefisien k bisa ditentukan.

Gempa Yogya memiliki moment magnitude 6,4 Mw
(body-wave magnitude 5,9 skala Richter), mekanismenya
geser kiri dengan episentrum di sekitar Imogiri.
Memang awalnya USGS menempatkan episentrum di muara
Sungai Opak. Namun sejumlah riset (salah satunya dari
Fukuoka dkk, hasil kerjasama Kyushu University-UGM)
menyimpulkan episentrumnya di sekitar Imogiri, yang
berjarak 11 km dari Babarsari (lokasi reaktor
Kartini). Terhadap rupture terdekat (yakni lintasan
patahan Opak), Reaktor Kartini berjarak 7 km.

Gempa menghasilkan guncangan berintensitas 8 MMI di
Yogya dan 5 MMI di Semarang. Dengan metode
Gutenberg-Richter dan Mw 6,4 didapatkan (secara kasar)
k=0,0068. Prediksi intensitas untuk beragam jarak
ditabulasikan dalam lampiran, yang dihitung dengan MS
Excel (jadi masih sangat sederhana), namun setelah
dicocokkan dengan peta dan data USGS hasilnya tidak
jauh berbeda. Jika dibandingkan dengan gempa Flores 12
Desember 1992 (yang memproduksi tsunami dengan run-up
26 meter itu) dimana k-nya adalah 0,0021 pada Gempa
Yogya ini k-nya 3 kali lipat lebih besar. Mengapa
demikian? Mungkin karena batuan penyusun Yogyakarta
dan sekitarnya adalah sedimen vulkanik lepas yang tak
terkonsolidasi sehingga lebh menyerap energi gempa
dibandingkan Flores.

Dari tabel itu bisa diketahui intensitas gempa di
Babarsari sebesar 8 MMI dengan percepatan maksimum 60
% G. Kalo merujuk pak Sudibyakto di Pusat Studi
Bencana Alam UGM, percepatan maksimum yang diderita
kota Yogyakarta mencapai 75 % G, tidak jauh berbeda.
Mungkin PSBA UGM menghitungnya berdasarkan jarak
Yogyakarta terhadap rupture terdekat, atau
menginterpolasi data akselerometer dari stasiun
seismik Wanagama Gunungkidul.

Dan sejauh ini reaktor Kartini tetap aman. Keamanan
ini selain ditopang oleh konstruksi bangunannya, juga
didukung oleh lokasinya yang tidak berada di lintasan
patahan Opak sebagai master fault maupun
patahan-patahan sintetiknya dalam Opak fault system.
Beda dengan Bantul-Yogya selatan, misalnya, yang
belakangan diketahui berdiri di atas subfault yang
terkubur endapan Merapi setebal 3 km. Ketika energi
Gempa Yogya ditransmisikan lewat subfault ini,
hasilnya kerusakan dahsyat bagi bangunan diatasnya.
Sejauh ini diketahui energi gempa Yogya (yang setara
40 kiloton itu) selain menjalar di sepanjang patahan
Opak, juga ditransmisikan ke patahan Progo (ke barat),
Baturagung (dari Prambanan ke tenggara) dan synthetic
faults disekitarnya (yang mencapai 74 patahan minor
termasuk subfault di bawah Bantul). Hal ini yang
membuat gelombang primer Gempa Yogya terkutubkan
(terpolarisasi) dan menurut Tiar Prasetya (dari BMG
Yogya), polanya mirip kelopak bunga melati.

Sepengetahuan saya yang terbatas, reaktor dirancang
untuk bertahan menghadapi gempa > 8 Mw. Sebenarnya ini
tidak khas reaktor saja, berbagai bangunan lain
seperti jembatan (misalnya Golden Gate di San
Fransisco, yang sudah terbukti ketangguhannya saat
menghadapi Gempa Loma Prieta 1989) maupun
gedung-gedung bertingkat (seperti Regatta yang sedang
dibangun di Jakarta) juga dirancang mampu menghadapi
gempa yang sama. Bila dikonversikan ke intensitas,
bangunan2 tadi dirancang mampu bertahan menghadapi
guncangan 9-10 MMI. Kita bisa melihat pengalaman
Jepang dalam mengoperasikan reaktor-reaktor dayanya
yang aman-aman saja di daerah yang secara geologis
cukup aktif.

Bagaimana seismisitas di Muria dan sekitarnya bisa
dilihat juga di lampiran (bersumber dari USGS). Nampak
selama 15 tahun belakangan nyaris tak ada gempa
terekam di sana (untuk M > 4 SR sesuai standar peta
USGS). Di dekat Muria konsentrasi gempa lebih banyak
di utaranya (Kep. Karimunjawa) , namun hiposenternya
sangat dalam. Gempa terakhir di dekat Muria terjadi
Januari 2007 lalu, berpusat di Salatiga dan tergolong
dangkal (kedalaman 33 km) namun kecil (4,2 skala
Richter). Gempa ini nampaknya berpusat di patahan
besar yang menjadi dasar berdirinya jajaran gunung2
api Ungaran-Telomoyo- Merbabu-Merapi.

Mari bayangkan sebuah "worst case scenario", patahan
besar ini menjadi generator gempa dangkal dengan
episentrum di Gunung Ungaran. Magnitudenya? Asumsikan
sama dengan gempa-gempa maksimum yang bisa
dibangkitkan patahan besar Sumatra, yakni 8 Mw. Pada
gempa 8 Mw ini rupture-nya rata-rata menjulur sejauh
200 km, anggap saja arah rupturing-nya ke selatan
(sehingga menjangkau patahan Opak lewat triple
junction Prambanan). Menggunakan nilai k Gempa Flores,
di Muria (yang berjarak 50-an km), guncangannya
sebesar 10 MMI dengan percepatan 200 % G. Jika
menggunakan nilai k Gempa Yogya, guncangan di Muria
sebesar 8 MMI dengan percepatan 50 % G. Nilai-nilai
ini masih berada pada rentang yang bisa ditahan
reaktor.

Salam

Ma'rufin


wahyu agung <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          Ya saya setuju dengan kekhawatiran Anda. apalagi PLTN itu deket 
pemukiman penduduk, bisa bahaya bila bocor atau terjadi kecelakaan. bukankah 
masih ada banyak pulau yang tidak dihuni, dan jauh dari pemukiman penduduk 
kenapa nggak diambil? 

Syaikhul Amin - MTD <[EMAIL PROTECTED]> wrote: salam mas ekki,

saya salah seorang dari warga negara Indonesia yang tidak setuju dengan 
pembangunan PLTN, apalagi setelah kejadian lapindo brantas. 
bisakah memberi suatu premis yang baru bahwa energi itu tidak sekedar cleaness 
tapi membuat bangsa ini menjadi lebih beradab? data terbaru indonesia juara 1 
korupsi se asia. kalaupun akan dibangun siapa yang paling pas membangun, 
merawat dan mengoperasikannya?. sepanjang yg saya tahu jika diserahkan ke PLN 
akan lebih berbahaya...
swasta? nggak ada yg sanggup, paling2 swasta asing...
atau?

syaikhul


-----Original Message-----
From: ekki kurniawan [mailto:[EMAIL PROTECTED]
Sent: Friday, June 15, 2007 2:25 PM
To: [EMAIL PROTECTED]; [email protected]
Subject: [kmnu2000] Diskusi PLTN masih panjang! Maaf, bila berbeda pendapat.

Salam "nuclear 4 peace" Nuklir hanya sebagian dari sumber energi anugrah Tuhan 
dari sekian banyak bentuk energi lainnya. Tuhan ciptakan Uranium tentu tidak 
sia2, pasti ada hikmahnya. Tugas kita adalah memanfaatkan untuk kemakmuran 
bersama. Setiap pemanfaatan energi pasti ada kelebihan dan kekurangannya. di 
situlah kita harus bijak mensikapinya. Maaf ini, saya posting tulisan yang 
lama, sebagai bagian dari diskusi kita selanjutnya. Prof Ir Marwoto 
Koesumopradono: 
Indonesia Jangan Terjebak 
Perangkap Tenaga Nuklir 
------------------------------- 
Sejak dini Indonesia harus memikirkan dan mengembangkan teknologi 
alternatif yang mempergunakan sumber-sumber energi yang lebih abadi atau 
yang dapat diperbaharui untuk keselamatan masa depan bangsa. Hal ini perlu 
karena disadari bahwa suatu waktu sumber-sumber minyak di Indonesia, bahkan 
di dunia akan habis terkuras. 
Hal ini diungkapkan Prof Ir Marwoto Koesumopradono, Dosen Fakultas 
Teknik Universitas Diponegoro (Undip) Semarang hari Jumat (9/9) pada acara 
seminar tentang Teknologi di Kampus Undip. 
Dikatakan, perdebatan mengenai energi tak kunjung habis sejak tahun 1973 
yang merupakan sejarah energi yang kelam bagi negara-negara industri maju 
yang bergantung pada energi minyak bumi. Karena pada tahun tersebut baru 
disadari bahwa mereka adalah pemegang kunci sumber minyak yang diperlukan 
negara-negara industri yang maju. 
Tahun itu juga negeri-negeri maju terdorong untuk mencari sumber-sumber 
energi alternatif. Mereka dikejutkan oleh kenyataan, betapa selama ini 
kemakmuran yang mereka nikmati sangat tergantung dari minyak yang murah. 
"Kesadaran bahwa minyak sebagai sumber energi yang begitu penting 
sebenarnya juga sumber yang terbatas dan tidak dapat diperbaharui, 
berkembang dengan cepat dan harga minyak yang tinggi, mendorong mereka 
mengembangkan sumber energi lain, "ujar alumnus Fakultas Teknik Kimia UGM 
tahun 1966 ini. 
Dikatakan, para pendukung energi nuklir mula-mula merasa yakin bahwa 
tenaga nuklirlah yang akan menggantikan minyak. Akan tetapi ternyata tenaga 
nuklir semakin bertambah besar. Berbagai keberatan yang beralasan kuat 
dikemukakan. Yang kemudian terbukti dengan kecelakaan yang dialami berbagai 
pembangkit tenaga nuklir di Amerika Serikat, Jepang, Inggris, Soviet, dan 
negara lainnya. 
Kekhawatiran terhadap bencana radiasi baik yang disebabkan oleh 
kecelakaan karena pengoperasian, maupun bahaya radiasi dari limbah nuklir, 
telah menghantui teknologi energi nuklir ini sejak lama. Marwoto memberi 
contoh, Swedia beberapa tahun lalu telah memutuskan untuk tidak lagi 
membangun pembangkit tenaga nuklir yang baru, dan yang terlanjur dibangun 
akan ditutup setelah masa gunanya habis. 
Selain itu, sebuah tenaga pembangkit tenaga nuklir 
di Filipina, yang dibangun semasa Marcos berkuasa, kini ditutup dan tidak 
dioperasikan mengingat kuatnya aksi protes oleh kelompok anti nuklir di 
negara itu. Akibatnya Filipina menderita kerugian bermilyar dolar. 
Sementara itu di Indonesia perdebatan mengenai tenaga nuklir juga telah 
dimulai, meskipun menurut Marwoto masih kecil-kecilan. Pendukung nuklir 
mencoba meyakinkan masyarakat bahwa pembangkit tenaga nuklir adalah jalan 
satu-satunya memenuhi kenaikan tenaga listrik setelah tahun 2000 nanti. 
"Sayangnya perdebatan pro dan kontra pembangkit tenaga nuklir di negeri 
kita kurang dilandasi informasi para pendukung tenaga nuklir yang 
mengatakan bahwa tenaga nuklir itu sepenuhnya terjamin aman, dan adalah 
satu-satunya yang terbaik dan yang sanggup memenuhi keperluan energi di 
Indonesia, "katanya. 
Ditambahkan, di Amerika Serikat sendiri banyak proyek pembangkit tenaga 
nuklir ditangguhkan. Bukan saja karena penanam modal yang diperlukan sangat 
besar, akan tetapi karena masih banyak kekhawatiran bahwa proses tenaga 
nuklir yang ada sekarang masih penuh risiko-risiko yang belum terjamin 
pengamanannya dengan sepenuh-penuhnya. 
"Berbagai insiden gawat telah terjadi di Amerika Serikat, yang membuka 
mata orang banyak, betapa teknologi tenaga nuklir yang ada ini belumlah 
sesempurna yang dikatakan selama ini oleh para pendukungnya yang punya 
kepentingan keuangan besar di dalamnya, "katanya. 
Demikian juga di Jerman ada "Kelompok Hijau" yang tak henti-hentinya 
menentang usaha memperluas usaha jaringan pembangkit tenaga nuklir. Di 
negeri itu, kata Marwoto, masalah tenaga nuklir merupakan perdebatan terus 
menerus yang diselingi demonstrasi terhadap proyek pembangunan pembangkit 
tenaga nuklir. Kelompok ini mendapat dukungan yang besar dari rakyat dan 
menjadi kekuatan politik tersendiri. 
Marwoto juga mengatakan, seorang ahli tenaga matahari Indonesia Prof Dr 
Seno Sastroamidjojo, lulusan MIT di Amerika Serikat tak jemu-jemunya 
mengimbau agar orang Indonesia jangan mudah terjebak ke dalam perangkap 
tenaga nuklir. 
Ia berpendapat, katanya, negeri seperti Indonesia yang terletak di jalur 
khatulistiwa tidaklah perlu memprioritaskan upaya pembangunan pembangkit 
tenaga nuklir. Karen masih ada energi yang bisa digunakan, seperti cahaya 
matahari yang bisa menghasilkan listrik melalui konektor, juga melalui 
teknologi lainnya. 
Prof Marwoto sendiri mengatakan, banyak bahan yang bisa menghasilkan 
energi. Seperti batubara yang banyak di Indonesia. Namun masalahnya, 
batubara sebagai sumber tenaga asapnya sangat mencemarkan udara, dan bisa 
menghasilkan hujan asam. Untuk itulah perlu dicari sumber energi 
alternatif. 
Disarankan juga, sumber minyak yang masih tersedia kini janganlah sampai 
membuat kita terlena, dan membiarkan segala proses yang tidak baik 
berlangsung terus, hingga membawa kita ke titik yang kritis. "Adalah lebih 
bijaksana menghindarkan tercapainya titik kritis, baik dalam sumber energi 
maupun dalam pencemaran lingkungan hidup sedini mungkin. Kita harus 
mengembangkan kebijaksanaan yang setepat mungkin, juga bagi hari depan 
bangsa kita, "katanya. 
(Harian Umum Suara Pembaruan, 18 September 1994)

ekki kurniawan < [EMAIL PROTECTED] <mailto:ekki0793%40yahoo.com> com> wrote:
Assalamu'laikum, dan salam sejahtera buat semua!

Kalau alasan penolakan PLTN itu,"bahwa orang Indonesia jagoan korupsi, tidak 
berdisiplin, suka ugal-ugalan, dan tukang melanggar aturan. Mau nekat? Ora 
ngilo githoké (tidak bercermin tengkuknya), kata pepatah Jawa."

itu bukan hanya untuk PLTN, bidang lainnya juga perlu disiplin.
jangan korupsi, tidak ugal2an dan tak boleh melanggar aturan.
Semoga dengan adanya PLTN, bisa menjadi titik awal perbaikan nasib 
bangsa...inshaALlah.

Wassalam.

Fabby Tumiwa < [EMAIL PROTECTED] <mailto:fabby%40nusa.or.id> id> wrote:
http://www.kompas. <http://www.kompas.com/> com/

Opini Kompas, 12 Juni 2007 

Selasa, 12 Juni 2007 
Gegabah
L Wilardjo 
Gegabah ialah sok berani sekali, tidak menimbang dengan matang, kelewat nekat 
dan grusa-grusu alias terlalu terburu-buru. Dalam bersikap, mengambil 
keputusan, dan bertindak, gegabah (foolhardy) adalah sifat yang tidak baik. 
Gegabah itulah vonis Mahadewa Zeus atas Prometheus. Titan pemberani ini nekat 
mencuri api dari kahyangan, lalu api itu diberikannya kepada manusia. Niat 
Prometheus mulia, yakni membantu manusia memperoleh kemajuan demi 
kesejahteraannya. Tetapi, api tidak hanya berguna. Api juga mengandung bahaya. 
Prometheus salah, sebab menyerahkan hal yang berbahaya itu tanpa lebih dulu 
mengajari manusia bagaimana bertindak arif dalam hidup bermasyarakat. Maka, 
Zeus menghukum Prometheus. Ia dirantai di batu raksasa. Di siang hari, 
gagak-gagak mematukinya, mengodol-odol hatinya. Malam harinya, Prometheus 
sembuh. Ia pulih, tetapi hanya untuk kembali dikerubuti gagak yang 
menyayat-yayat hatinya. 
Sementara itu, Zeus mengutus Hermes untuk mengajarkan civic wisdom-kearifan 
hidup bermasyarakat-kepada manusia. Dan, penderitaan Prometheus baru berakhir 
setelah ia ditolong Hercules. 
Itulah mitos yang dikisahkan Dr Karlina Supelli, ahli filsafat berlatar 
astronomi dan dosen di STF Driyarkara. Ia bercerita di Kampoeng Percik, 
Salatiga, Jumat 25 Mei lalu. Ia membenarkan vonis Zeus. 
Challenger 
Karlina juga bercerita tentang kegegabahan yang lain. Yang ini bukan mitos atau 
legenda, tetapi kisah nyata. Syahdan, pada malam terakhir menjelang peluncuran 
pesawat ulang-alik Challenger di hari yang sangat dingin, 28 Januari 1986. Para 
insinyur yang merancang tangki bahan bakar roket penggalak (booster rocket) 
pesawat ulang-alik itu khawatir akan terjadi hal-hal yang tak diinginkan. Suhu 
pada hari itu diramalkan akan lebih dari 20 derajat F di bawah suhu terdingin 
yang pernah dialami dalam peluncuran-peluncuran sebelumnya. Keberatan para 
insinyur itu, khususnya insinyur senior Roger Boisjoly dan penyelia teknis 
Arnold Thompson, dikomunikasikan ke NASA, dan para insinyur di NASA pun 
memahami sikap para perancang tersebut. 
Tetapi, empat direktur "Thiokol" (perusahaan yang dikontrak membuat roket 
penggalak itu) punya kepentingan lain. Mereka ingin mendapatkan perpanjangan 
kontrak dari NASA. Dalam debat itu, Jerald Mason mendesak direktur teknis, 
Robert Lund, untuk "mencopot topi insinyur dan memakai topi manajemennya". 
Maka, sikap "Thiokol" dibalik, menjadi menyetujui peluncuran. 
Malam tanggal 28 Januari 1986, Allan Mcdonald, manajer proyek Roket Penggalak 
Berbahan Bakar Padat (Solid-fuel Rocket Booster atau SRB) masih berusaha 
menunda peluncuran. Ia menghubungi manajer peluncuran NASA di Pusat Penerbangan 
Angkasa Luar Marshall, Stanley Reinartz dan Lawrence Mulloy. Sia-sia belaka! 
Seperti di "Thiokol", manajemen di NASA juga menyepelekan peringatan para 
insinyur. Mulloy bahkan berkata, "Masya Allah, "Thiokol", kapan menurut kalian 
peluncuran ini boleh saya lakukan-bulan April nanti?" 
Maka, peluncuran itu pun terjadilah, disusul musibah besar. Challenger meledak 
dan hancur berkeping-keping. Di Challenger ada dua SRB, masing-masing terdiri 
atas empat bagian yang disambung. Celah sambungannya disumbat dengan "cincin O" 
yang terbuat dari bahan lenting. Karena suhu sangat dingin, "cincin O" itu 
menjadi getas dan rapuh. Gas menyusup keluar melalui celah sambungannya, lalu 
terbakar, memicu ledakan. 
Duit dan politik 
Itulah akibat kegegabahan manajer yang tidak menggubris peringatan para 
insinyur. Para direktur di "Thiokol" punya kepentingan UUD (ujung-ujungnya 
duit), ingin perpanjangan kontrak. Para manajer di NASA mendapat tekanan 
politik, sebab malam sesudah peluncuran itu rencananya Presiden Ronald Reagan 
akan memberikan amanat kepresidenan (State of the Union message), membanggakan 
sukses Challenger. Nuansa politiknya kental, seperti terlihat pada Christa 
MacAuliffe, ibu guru TK yang diikutsertakan dalam misi Challenger. Reagan ingin 
memperoleh dukungan kaum feminis. 
Kisah kegegabahan tadi kontras dengan Jerman. Negara ini menyusul Swedia dan 
Austria, menyatakan sudah emoh PLTN. Pembangkit bertenaga nuklir yang sudah 
telanjur ada hanya akan dihabiskan masa pakainya. 
Awal bulan Mei 2007 di Brussels, partai-partai hijau di Parlemen Eropa 
menekankan bahwa 21 tahun sesudah Chernobyl, situasi di bidang per-PLTN-an 
menakutkan. Setiap tahun terjadi 1.000-an musibah (insidents; zwischenfälle). 
Dalam 20 tahun sesudah Chernobyl, terjadi 16 kecelakaan besar (accidents; 
unfälle), dua di antaranya di Jerman. Wakil Ketua Partai Hijau di Parlemen 
Eropa, Rebecca Harm, mengatakan bahwa tenaga nuklir bukanlah sarana untuk 
mengatasi perubahan iklim. Wolfgang Kromp, pimpinan Lembaga Penelitian Risiko 
di Universitas Wina, menegaskan bahwa tenaga nuklir harus mundur teratur. 
Gegabah atau arif? 
Bagaimana kita sendiri di Indonesia? Apakah kita mau sok gagah, lalu bertindak 
gegabah? Atau bersikap arif dan mengedepankan kehati-hatian (prudence)? Apalah 
kita ini kalau dibandingkan dengan Swedia, Austria, dan Jerman dalam penguasaan 
teknologi tinggi dan dalam budaya berdisiplin ketat? 
Prof Dr Franz Magnis-Suseno, ningrat Jerman yang leluhurnya asal Chech, pastor 
Jesuit, memberikan "cap" jelek kepada kita. Dikatakannya bahwa orang Indonesia 
jagoan korupsi, tidak berdisiplin, suka ugal-ugalan, dan tukang melanggar 
aturan. Mau nekat? Ora ngilo githoké (tidak bercermin tengkuknya), kata pepatah 
Jawa. 
L Wilardjo Fisikawan dan Dosen Etika Program Pascasarjana UKSW 

Send instant messages to your online friends http://uk.messenger 
<http://uk.messenger.yahoo.com> .yahoo.com 

Send instant messages to your online friends http://uk.messenger 
<http://uk.messenger.yahoo.com> .yahoo.com 

[Non-text portions of this message have been removed]

[Non-text portions of this message have been removed]





---------------------------------
Be a better Heartthrob. Get better relationship answers from someone who knows.
Yahoo! Answers - Check it out. 

[Non-text portions of this message have been removed]



         

 Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke