Salam "nuclear 4 peace" Nuklir hanya sebagian dari sumber energi anugrah
Tuhan dari sekian banyak bentuk energi lainnya. Tuhan ciptakan Uranium tentu
tidak sia2, pasti ada hikmahnya. Tugas kita adalah memanfaatkan untuk
kemakmuran bersama. Setiap pemanfaatan energi pasti ada kelebihan dan
kekurangannya. di situlah kita harus bijak mensikapinya. Maaf ini, saya
posting tulisan yang lama, sebagai bagian dari diskusi kita selanjutnya.
Prof Ir Marwoto Koesumopradono:
Indonesia Jangan Terjebak
Perangkap Tenaga Nuklir
-------------------------------
Sejak dini Indonesia harus memikirkan dan mengembangkan teknologi
alternatif yang mempergunakan sumber-sumber energi yang lebih abadi atau
yang dapat diperbaharui untuk keselamatan masa depan bangsa. Hal ini perlu
karena disadari bahwa suatu waktu sumber-sumber minyak di Indonesia, bahkan
di dunia akan habis terkuras.
Hal ini diungkapkan Prof Ir Marwoto Koesumopradono, Dosen Fakultas
Teknik Universitas Diponegoro (Undip) Semarang hari Jumat (9/9) pada acara
seminar tentang Teknologi di Kampus Undip.
Dikatakan, perdebatan mengenai energi tak kunjung habis sejak tahun 1973
yang merupakan sejarah energi yang kelam bagi negara-negara industri maju
yang bergantung pada energi minyak bumi. Karena pada tahun tersebut baru
disadari bahwa mereka adalah pemegang kunci sumber minyak yang diperlukan
negara-negara industri yang maju.
Tahun itu juga negeri-negeri maju terdorong untuk mencari sumber-sumber
energi alternatif. Mereka dikejutkan oleh kenyataan, betapa selama ini
kemakmuran yang mereka nikmati sangat tergantung dari minyak yang murah.
"Kesadaran bahwa minyak sebagai sumber energi yang begitu penting
sebenarnya juga sumber yang terbatas dan tidak dapat diperbaharui,
berkembang dengan cepat dan harga minyak yang tinggi, mendorong mereka
mengembangkan sumber energi lain, "ujar alumnus Fakultas Teknik Kimia UGM
tahun 1966 ini.
Dikatakan, para pendukung energi nuklir mula-mula merasa yakin bahwa
tenaga nuklirlah yang akan menggantikan minyak. Akan tetapi ternyata tenaga
nuklir semakin bertambah besar. Berbagai keberatan yang beralasan kuat
dikemukakan. Yang kemudian terbukti dengan kecelakaan yang dialami berbagai
pembangkit tenaga nuklir di Amerika Serikat, Jepang, Inggris, Soviet, dan
negara lainnya.
Kekhawatiran terhadap bencana radiasi baik yang disebabkan oleh
kecelakaan karena pengoperasian, maupun bahaya radiasi dari limbah nuklir,
telah menghantui teknologi energi nuklir ini sejak lama. Marwoto memberi
contoh, Swedia beberapa tahun lalu telah memutuskan untuk tidak lagi
membangun pembangkit tenaga nuklir yang baru, dan yang terlanjur dibangun
akan ditutup setelah masa gunanya habis.
Selain itu, sebuah tenaga pembangkit tenaga nuklir
di Filipina, yang dibangun semasa Marcos berkuasa, kini ditutup dan tidak
dioperasikan mengingat kuatnya aksi protes oleh kelompok anti nuklir di
negara itu. Akibatnya Filipina menderita kerugian bermilyar dolar.
Sementara itu di Indonesia perdebatan mengenai tenaga nuklir juga telah
dimulai, meskipun menurut Marwoto masih kecil-kecilan. Pendukung nuklir
mencoba meyakinkan masyarakat bahwa pembangkit tenaga nuklir adalah jalan
satu-satunya memenuhi kenaikan tenaga listrik setelah tahun 2000 nanti.
"Sayangnya perdebatan pro dan kontra pembangkit tenaga nuklir di negeri
kita kurang dilandasi informasi para pendukung tenaga nuklir yang
mengatakan bahwa tenaga nuklir itu sepenuhnya terjamin aman, dan adalah
satu-satunya yang terbaik dan yang sanggup memenuhi keperluan energi di
Indonesia, "katanya.
Ditambahkan, di Amerika Serikat sendiri banyak proyek pembangkit tenaga
nuklir ditangguhkan. Bukan saja karena penanam modal yang diperlukan sangat
besar, akan tetapi karena masih banyak kekhawatiran bahwa proses tenaga
nuklir yang ada sekarang masih penuh risiko-risiko yang belum terjamin
pengamanannya dengan sepenuh-penuhnya.
"Berbagai insiden gawat telah terjadi di Amerika Serikat, yang membuka
mata orang banyak, betapa teknologi tenaga nuklir yang ada ini belumlah
sesempurna yang dikatakan selama ini oleh para pendukungnya yang punya
kepentingan keuangan besar di dalamnya, "katanya.
Demikian juga di Jerman ada "Kelompok Hijau" yang tak henti-hentinya
menentang usaha memperluas usaha jaringan pembangkit tenaga nuklir. Di
negeri itu, kata Marwoto, masalah tenaga nuklir merupakan perdebatan terus
menerus yang diselingi demonstrasi terhadap proyek pembangunan pembangkit
tenaga nuklir. Kelompok ini mendapat dukungan yang besar dari rakyat dan
menjadi kekuatan politik tersendiri.
Marwoto juga mengatakan, seorang ahli tenaga matahari Indonesia Prof Dr
Seno Sastroamidjojo, lulusan MIT di Amerika Serikat tak jemu-jemunya
mengimbau agar orang Indonesia jangan mudah terjebak ke dalam perangkap
tenaga nuklir.
Ia berpendapat, katanya, negeri seperti Indonesia yang terletak di jalur
khatulistiwa tidaklah perlu memprioritaskan upaya pembangunan pembangkit
tenaga nuklir. Karen masih ada energi yang bisa digunakan, seperti cahaya
matahari yang bisa menghasilkan listrik melalui konektor, juga melalui
teknologi lainnya.
Prof Marwoto sendiri mengatakan, banyak bahan yang bisa menghasilkan
energi. Seperti batubara yang banyak di Indonesia. Namun masalahnya,
batubara sebagai sumber tenaga asapnya sangat mencemarkan udara, dan bisa
menghasilkan hujan asam. Untuk itulah perlu dicari sumber energi
alternatif.
Disarankan juga, sumber minyak yang masih tersedia kini janganlah sampai
membuat kita terlena, dan membiarkan segala proses yang tidak baik
berlangsung terus, hingga membawa kita ke titik yang kritis. "Adalah lebih
bijaksana menghindarkan tercapainya titik kritis, baik dalam sumber energi
maupun dalam pencemaran lingkungan hidup sedini mungkin. Kita harus
mengembangkan kebijaksanaan yang setepat mungkin, juga bagi hari depan
bangsa kita, "katanya.
(Harian Umum Suara Pembaruan, 18 September 1994)
ekki kurniawan <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Assalamu'laikum, dan salam sejahtera buat semua!
Kalau alasan penolakan PLTN itu,"bahwa orang Indonesia jagoan korupsi, tidak
berdisiplin, suka ugal-ugalan, dan tukang melanggar aturan. Mau nekat? Ora
ngilo githoké (tidak bercermin tengkuknya), kata pepatah Jawa."
itu bukan hanya untuk PLTN, bidang lainnya juga perlu disiplin.
jangan korupsi, tidak ugal2an dan tak boleh melanggar aturan.
Semoga dengan adanya PLTN, bisa menjadi titik awal perbaikan nasib
bangsa...inshaALlah.
Wassalam.
Fabby Tumiwa <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
http://www.kompas.com/
Opini Kompas, 12 Juni 2007
Selasa, 12 Juni 2007
Gegabah
L Wilardjo
Gegabah ialah sok berani sekali, tidak menimbang dengan matang, kelewat nekat
dan grusa-grusu alias terlalu terburu-buru. Dalam bersikap, mengambil
keputusan, dan bertindak, gegabah (foolhardy) adalah sifat yang tidak baik.
Gegabah itulah vonis Mahadewa Zeus atas Prometheus. Titan pemberani ini nekat
mencuri api dari kahyangan, lalu api itu diberikannya kepada manusia. Niat
Prometheus mulia, yakni membantu manusia memperoleh kemajuan demi
kesejahteraannya. Tetapi, api tidak hanya berguna. Api juga mengandung bahaya.
Prometheus salah, sebab menyerahkan hal yang berbahaya itu tanpa lebih dulu
mengajari manusia bagaimana bertindak arif dalam hidup bermasyarakat. Maka,
Zeus menghukum Prometheus. Ia dirantai di batu raksasa. Di siang hari,
gagak-gagak mematukinya, mengodol-odol hatinya. Malam harinya, Prometheus
sembuh. Ia pulih, tetapi hanya untuk kembali dikerubuti gagak yang
menyayat-yayat hatinya.
Sementara itu, Zeus mengutus Hermes untuk mengajarkan civic wisdomkearifan
hidup bermasyarakatkepada manusia. Dan, penderitaan Prometheus baru berakhir
setelah ia ditolong Hercules.
Itulah mitos yang dikisahkan Dr Karlina Supelli, ahli filsafat berlatar
astronomi dan dosen di STF Driyarkara. Ia bercerita di Kampoeng Percik,
Salatiga, Jumat 25 Mei lalu. Ia membenarkan vonis Zeus.
Challenger
Karlina juga bercerita tentang kegegabahan yang lain. Yang ini bukan mitos
atau legenda, tetapi kisah nyata. Syahdan, pada malam terakhir menjelang
peluncuran pesawat ulang-alik Challenger di hari yang sangat dingin, 28 Januari
1986. Para insinyur yang merancang tangki bahan bakar roket penggalak (booster
rocket) pesawat ulang-alik itu khawatir akan terjadi hal-hal yang tak
diinginkan. Suhu pada hari itu diramalkan akan lebih dari 20 derajat F di bawah
suhu terdingin yang pernah dialami dalam peluncuran-peluncuran sebelumnya.
Keberatan para insinyur itu, khususnya insinyur senior Roger Boisjoly dan
penyelia teknis Arnold Thompson, dikomunikasikan ke NASA, dan para insinyur di
NASA pun memahami sikap para perancang tersebut.
Tetapi, empat direktur "Thiokol" (perusahaan yang dikontrak membuat roket
penggalak itu) punya kepentingan lain. Mereka ingin mendapatkan perpanjangan
kontrak dari NASA. Dalam debat itu, Jerald Mason mendesak direktur teknis,
Robert Lund, untuk "mencopot topi insinyur dan memakai topi manajemennya".
Maka, sikap "Thiokol" dibalik, menjadi menyetujui peluncuran.
Malam tanggal 28 Januari 1986, Allan Mcdonald, manajer proyek Roket Penggalak
Berbahan Bakar Padat (Solid-fuel Rocket Booster atau SRB) masih berusaha
menunda peluncuran. Ia menghubungi manajer peluncuran NASA di Pusat Penerbangan
Angkasa Luar Marshall, Stanley Reinartz dan Lawrence Mulloy. Sia-sia belaka!
Seperti di "Thiokol", manajemen di NASA juga menyepelekan peringatan para
insinyur. Mulloy bahkan berkata, "Masya Allah, "Thiokol", kapan menurut kalian
peluncuran ini boleh saya lakukanbulan April nanti?"
Maka, peluncuran itu pun terjadilah, disusul musibah besar. Challenger
meledak dan hancur berkeping-keping. Di Challenger ada dua SRB, masing-masing
terdiri atas empat bagian yang disambung. Celah sambungannya disumbat dengan
"cincin O" yang terbuat dari bahan lenting. Karena suhu sangat dingin, "cincin
O" itu menjadi getas dan rapuh. Gas menyusup keluar melalui celah sambungannya,
lalu terbakar, memicu ledakan.
Duit dan politik
Itulah akibat kegegabahan manajer yang tidak menggubris peringatan para
insinyur. Para direktur di "Thiokol" punya kepentingan UUD (ujung-ujungnya
duit), ingin perpanjangan kontrak. Para manajer di NASA mendapat tekanan
politik, sebab malam sesudah peluncuran itu rencananya Presiden Ronald Reagan
akan memberikan amanat kepresidenan (State of the Union message), membanggakan
sukses Challenger. Nuansa politiknya kental, seperti terlihat pada Christa
MacAuliffe, ibu guru TK yang diikutsertakan dalam misi Challenger. Reagan ingin
memperoleh dukungan kaum feminis.
Kisah kegegabahan tadi kontras dengan Jerman. Negara ini menyusul Swedia dan
Austria, menyatakan sudah emoh PLTN. Pembangkit bertenaga nuklir yang sudah
telanjur ada hanya akan dihabiskan masa pakainya.
Awal bulan Mei 2007 di Brussels, partai-partai hijau di Parlemen Eropa
menekankan bahwa 21 tahun sesudah Chernobyl, situasi di bidang per-PLTN-an
menakutkan. Setiap tahun terjadi 1.000-an musibah (insidents; zwischenfälle).
Dalam 20 tahun sesudah Chernobyl, terjadi 16 kecelakaan besar (accidents;
unfälle), dua di antaranya di Jerman. Wakil Ketua Partai Hijau di Parlemen
Eropa, Rebecca Harm, mengatakan bahwa tenaga nuklir bukanlah sarana untuk
mengatasi perubahan iklim. Wolfgang Kromp, pimpinan Lembaga Penelitian Risiko
di Universitas Wina, menegaskan bahwa tenaga nuklir harus mundur teratur.
Gegabah atau arif?
Bagaimana kita sendiri di Indonesia? Apakah kita mau sok gagah, lalu
bertindak gegabah? Atau bersikap arif dan mengedepankan kehati-hatian
(prudence)? Apalah kita ini kalau dibandingkan dengan Swedia, Austria, dan
Jerman dalam penguasaan teknologi tinggi dan dalam budaya berdisiplin ketat?
Prof Dr Franz Magnis-Suseno, ningrat Jerman yang leluhurnya asal Chech,
pastor Jesuit, memberikan "cap" jelek kepada kita. Dikatakannya bahwa orang
Indonesia jagoan korupsi, tidak berdisiplin, suka ugal-ugalan, dan tukang
melanggar aturan. Mau nekat? Ora ngilo githoké (tidak bercermin tengkuknya),
kata pepatah Jawa.
L Wilardjo Fisikawan dan Dosen Etika Program Pascasarjana UKSW
Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com
Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com
[Non-text portions of this message have been removed]