Gus [EMAIL PROTECTED],
   
  Masa beda 'madzhab' saja kok gak boleh, bukannya beda agama juga gak apa-apa? 
   
  Ibarat orang mau 'dagangan', saya masih sedang mengumpulkan 'modal', sambil 
membaca pangsa pasar, apakah yang akan laku? 
   
  Mudah-mudahan saja pada gilirannya saya pun akan 'liar' dalam konteks 
pemikiran, karena beragam produk pemikiran tanpa sensor dan tanpa 'pajak' bebas 
dipasarkan di kancah akademik Maroko, dipersilahkan menjaring pengikut 
seluas-luasnya.  Beragam pemikiran-pemikiran itu saya sedang berusaha 
mengumpulkannya sebagai 'modal'. he he...
   
  Jujur saja, di Maroko sangat enak menikmati pasar buku, baik buku-buku karya 
pribumi seperti karya Fatimah Mernissi(dalam bahasa, Arab, Inggris, Prancis), 
Abid Jabiri, Abdullah Arowi, and lain-lainnya. Termasuk buku-buku karya para 
ilmuwan lain yang kata kawan-kawan di Mesir(dijegal) atau harus membeli dengan 
cara 'kucing-kucingan', tapi di Maroko bebas dipasarkan, mudah didapat.
   
  Atau buku-buku dari Eropa pun sangat banyak beredar di sini, tinggal kita 
modal bahasa saja. Oleh kawan-kawan yang sudah aktif di Indonesia, saya juga 
kadang-kadang dimintai tolong untuk membeli buku-buku di sini.
   
  Oh ia, 
  Sebenarnya saya bukan santrinya Gus Dur, karena saya tidak seperti 
sampean-sampean yang aktif di forum-forum bersama Gus Dur di Jakarta. 
   
  Cuman saya sich minimalnya setahun sekali mendengarkan ceramah Gus Dur, kalau 
pas acara Haul kakek saya yang(alhamdulilah) biasanya Gus Dur selalu datang, 
kadang didampingi Mas Sulaeman atau mas Munib(asistennya) 
   
  Karena waktu itu ada yang menghina Gus Dur, ya otomatis saya bilang "Saya 
santrinya Gus Dur". Begitu gus Maoel...
   
  Apa butuh buku-buku dari Maroko?
   
   
  Nasrul,
   
   
   
  "[EMAIL PROTECTED]" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          Jangan2 sesama nahdliyyin tapi beda "madzhab" .. :)
Saya kira dari pihak redaksi NU online, misal mas Anam bisa ngasih argumen yg 
pas .. apa saking berjubelnya tulisan jadi selektif nya super alot atau 
bagaimana?

Saya secara pribadi, tulisan2 mas Nasrul dengan julukan "gusgaul-nya" ini bisa 
menjadi inspirator penulis2 muda nahdliyyin yang berkelas .. seperti yg selama 
ini kebanyakan dari kader2 liberal di JIL (mas Ulil, Pak Moqsith dll)

Apalagi kadang mas nasrul pernahnya menginisialikan dirinya dengan nama -santri 
Gus Dur- yang mungkin beda alur :), pasti Hidayatullah mungkin bisa mikir2 lagi 
untuk naruh tulisannya ke media onlinenya.

Nasrulloh Afandi <[EMAIL PROTECTED]> wrote: 
Kang Muhlisin,

Yang saya pahami selama ini, 
rubrik "Buku Tamu" itu identiknya hanya sebagai media silaturrahim antar member 
mungkin? Atau maksimalnya sebagai media 'sowan'. Sedangkan ciri khas Nahdliyin 
alias 'prajurit NU' biasanya kalau sowan kepada para 'jenderalnya', ya 
'menundukkan kepala'?

Dengan nama rubrik lain, misalnya rubrik "Suara Nahdliyyin", "Aspirasi 
Nahdliyyin" atau apa namanya(?) Itulebih spesifik, bukan? Sekaligus 
'memprovokasi' alias menjelaskan bahwa Nahdliyin komunitas 'akar bumi' setiap 
saat dipersilahkan untuk 'mengangkat kepala' dihadapan para elitnya dalam 
menyampaikan aspirasi, atau 'kedongkolan' dan 'saudara-saudaranya'? Tidak hanya 
menundukkan kepala.

Jika, surat pembaca dari Nahdliiyin kepada para elitnya di media lain dimuat, 
kenapa NU Online, tidak?

Atau bagaimana? 


Nasrul,




----- Original Message ----- 
From: Mukhlisin 
To: [email protected] 
Sent: Thursday, August 30, 2007 8:34 AM
Subject: Re: [kmnu2000] Surat Terbuka di NU Online (perlukah?)

Gus Nasrullah,
Bukankah sarana untuk keperluan suara pembaca atau nahdliyyin sudah bisa kita 
sampaikan lewat rubrik "BUKU TAMU"?
Selain bukut tamu, setiap berita atau artikel di NU Online juga diberi tempat 
kepada pembaca untuk memberi komentar atas berita terkait.

Salam,
Mukhlisin

----- Original Message ----- 
From: Nasrulloh Afandi 
To: [email protected] 
Sent: Thursday, August 30, 2007 12:57 AM
Subject: [kmnu2000] Surat Terbuka di NU Online (perlukah?)

Dear Redaksi NU Online, 

Salam,

Saya(rakyat NU) Kadang berangan-angan:

Mungkin ada baiknya jika NU Online ditambah rubrik "Surat Terbuka" atau 'Surat 
Pembaca' atau entah apa namanya? Tidak hanya media informasi, sekaligus 
jembatan aspirasi?

Bisa jadi sangat banyak 'rakyat NU' yang ingin menyampaikan aspirasi, unek-unek 
atau sejenisnya kepada para 'jenderalnya' yang 'berbintang sembilan' itu di 
setiap waktu, apalagi setiap menjelang pilpres, pilgub, pilkada sampai 
pil-lurah? 

Realitasnya tidak semua Nahdliyin adalah kolomnis, bukan? Alias banyak yang 
tertarik hanya sekedar menulis surat pembaca?

Beberapa kali surat ini saya kirim ke [EMAIL PROTECTED], entah kenapa mental 
trus. 

Akhirnya kutulis di sini. Sekaligus bermusyawarah dengan kawan-kawan. Baik atau 
tidak usulanku semacam ini?

Nasrul, 
(Sedang merintis PCI NU di Maroko) at all

---------------------------------
Yahoo! oneSearch: Finally, mobile search that gives answers, not web links. 

[Non-text portions of this message have been removed]

[Non-text portions of this message have been removed]

---------------------------------
Moody friends. Drama queens. Your life? Nope! - their life, your story.
Play Sims Stories at Yahoo! Games. 

[Non-text portions of this message have been removed]





Regards,

[EMAIL PROTECTED]

---------------------------------
Park yourself in front of a world of choices in alternative vehicles.
Visit the Yahoo! Auto Green Center.

[Non-text portions of this message have been removed]



                         


 


       
---------------------------------
Pinpoint customers who are looking for what you sell. 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke