Saya sepakat, tidak ada yang bisa membatasi imajinasi seseorang. Imajinsi mampu 
melampaui realitas, bahkan bisa membalik realitas itu sendiri. Sekadar contoh: 
Kuda yang diciptakan imajinasi memiliki sayap dan berkepala manusia. Apakah ia 
betul-betul ada dalam dunia nyata? 
   
  Namun, ada sedikit kekecewaan setelah saya menonton film ayat2 cinta. Kenapa 
di akhir cerita Maryam malah memeluk Islam? Bukankah lebih baik kalau ia 
dibiarkan berbahagia dengan agama sebelumnya (kristen). Ending film ini justeru 
akan menyinggung dan menyakiti agama lain. 
   
  Tapi, terserahlah..... 
  

Sahlul Fuad <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          saya kira, ini bukan soal dukung mendukung, karya sastra, atau fiksi 
lainnya
itu sah-sah saja untuk membangun imajinasi liar. Apakah itu mimpi atau
realitas tidak ada urusan. Justeru, kelebihan sebuah karya fiktif adalah di
sini, upaya mengeksplorasi imajanasi dan mengongkretkan dalam kata-kata yang
terucapkan dengan indah.

terus terang, saya sendiri belum baca karya Habiburrahman satupun. meskipun
beberapa orang, termasuk keponakan, memaksa saya untuk membeli dan membaca
ayat-ayat cinta ini. meskipun saya sendiri peminat dan pembuat karya sastra.
akan tetapi paling tidak, Habiburrahman berhasil dalam hal ini. Harus
diakui, bukan sekadar iri, dan menjelek2kan karyanya.

Kalau kita juga ingin mengritisi saya kira dengan kritik yang sehat, dengan
pendekatan yang jelas.

-- 

http://sahlulfuad.co.nr
rumah persahabatan karya.

http://pelanggar.co.nr
di mana ada hukum, di sana ada pelanggar

[Non-text portions of this message have been removed]



                           

       
---------------------------------
Looking for last minute shopping deals?  Find them fast with Yahoo! Search.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke