Salam,
Untuk temen-temenku yang LATAH membela Ahmadiyah demi kebebasan
(liberalisme):
1. Ahmadiyah YANG merasa diri Islam tapi tidak mau mengakui Muhammad SAW
sebagai Nabi terakhir, dan Al-Qur'an sebagai kitab suci satu-satunya, apakah
pantas diberikan ruang kebebasan itu? Dalam agama lain, apakah juga boleh
ada aliran sempalan yang mengatakan ada Nabi lain, atau kitab suci cadangan?
2. Mungkin saja mereka punya konsep lain mengenai kenabian, atau kitab suci,
tolong jelaskanlah? Jangan asal membela kebebasan begitu donk...!
3. Kenapa masjid Ahmadiyah mesti ekslusif, kenapa tidak gabung saja sengan
umat Islam yang lain, berdiskusi bersama, shalat berjamaah bareng, selametan
bareng? Atau mereka merasa bahwa perbedaan dengan kelompok Islam lain sudah
tidak bisa didamaikan, lalu kenapa tidak membuat aliran kepercayaan sendiri
saja, atau proklamirkan agama baru, kenapa musti tidak pede dan mendompleng
pada Islam? Atau adakah yang tidak sempurna dengan Islam yang
"konvensional"?

Ada beberapa argumen yang tidak nyambung:
1. Penolakan terhadap keyakinan Ahmadiyah selalu dikaitkan dengan kekerasan.
Padahal tidak mesti begitu. Dari mana jluntrungnya. Justru opini tentang
kekerasan yang muncul karena pelarangan itulah yang memicu kekerasan itu
sendiri.
2. Gugatan terhadap Ahmadiyah sering dikaitkan dengan aspek penting lainnya
dalam beragama Islam. Misalnya: kenapa tidak diurusi saja itu orang-orang
miskin, anak yatim dan janda tua. Ini juga tidak nyambung, dan pertanyaan
ini juga bisa diajukan balik, kenapa membela Ahmadiyah, tidak membela yang
lain saja....

Salam,
Anam


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke